JURNALNEWS.CO.ID – Pemuda asal kampung mlaswat, distrik saifi, kabupateng sorong selatan, provinsi papua barat daya, Pemenuhan merupakan kebutuhan manusia paling mendasar.

Ketahanan dan kemandirian masyarakat untuk menghasilkan bahan pangan sendiri memerlukan pertanian berkelanjutan.
Sayangnya, di era modern ini tak banyak anak muda yang memiliki ketertarikan pada kegiatan pertanian.

Padahal, ketika pandemi covid-19 menghambat distribusi antarwilayah seperti kemarin, kemandirian dan ketahanan pangan amat diperlukan agar masyarakat tak bergantung pada pasokan pangan dari wilayah lain maupun dari bantuan pemerintah.

Untunglah masih ada anak muda peduli pertanian di Papua Barat Daya.

Berbeda dengan teman – teman sebanyak yang mulai merantau dan merindukan kehidupan perkotaan yang moderen, Ewil M. Woloin anak muda dari Kampung Mlaswat, Distrik Saifi, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, ini justru ingin mengelola kebun kampung mereka dengan mempraktikkan kegiatan pertanian. Ia telah aktif bercocok – tanam sejak ikut Sekolah Kampung Merdesa (SEKAM) Maret 2023.

SEKAM merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang melatih anak muda papua, Tujuan dari sekolah kampung merdesa membangun ketangguhan kampung di bidang pangan, Sistim Informasi kampung atau (SIK), dan pengelolaan lingkungan. Selama kegiatan berlangsung, para peserta wakil dari setiap kampung – kampung di dua distrik yaitu saifi dan seremuk, dan diajarkan cara bercocok tanam secara organik dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di kampung masing-masing.

“Dulu sebelum belajar pertanian, setiap hari sepulang sekolah hanya diisi duduk – duduk saja, Palingan bantu orang tua angkat air, atau cari kayu bakar atau tangkap ikan di laut, Sekarang sibuk di kebun hampir setiap hari, Saya pun jadi tahu kalau pertanian itu ternyata penting, Kita jadi tahu cara menanam yang betul, Biar tanaman tidak mati, harus dikasih pupuk, biar subur, Kita bisa petik sayur sendiri tanpa harus pergi ke pasar, ujar Ewil M. Woloin

Darius sempat mengalami banyak kesulitan saat awal-awal belajar Pertanian, terutama saat harus membuat bedeng dan pupuk organik. Tapi akhirnya berhasil menanam sayur – mayur dan telah beberapa kali memanennya. Kangkung, kacang panjang, bayam, dan rica atau cabai, semua tumbuh subur, Ewil M.Woloin sendiri, merasa bahagia, walapun hasil jualnya di pasar dengan rupiahnya kecil, tapi sudah bisa memenuhi kebutuhannya sehari – hari.

“Di kampung mlaswat ini, banyak anak muda lulusan sarjana, Banyak yang sarjana pertanian, Tapi ketika kembali ke kampung, mereka tidak bawa ilmu apa – apa yang bisa ditularkan untuk membangun kampung ini, Saya tidak ingin seperti mereka,Saya ingin bagi ilmu pertanian yang saya punya kepada warga kampung, agar semua orang bisa menanam segala macam sayur dan buah,” kata ewil.