JURNALNEWS.CO.ID – Banyak orang yang mengeluh akan nasib hidupnya, mereka merasa perlakuan dunia tidak adil terhadapnya. Namun tidak bagi Anam, pria 18 tahun ini menjalani hidup dengan bersanding rasa syukur. Ia tak pernah menyalahkan keadaan, konsisten mengikuti arus kehidupan, dan menerima segala pemberian tuhan. Ia bukan hanya seorang pedagang, dalam gerobaknya terdapat beban tanggung jawab yang menyalur pada mimpi-mipinya.

Anam adalah anak terakhir dari lima bersaudara, dan semua saudaranya sudah berkeluarga. Dia hidup berdua hanya dengan ibunnya yang bernama Bu Mah dengan usia kurang lebih 63 tahun. Setiap hari menjelang sang surya terbit, ia terbangun untuk menyiapkan dagangan bersama ibunya. Mencampur terigu dengan daging, kemudian membentuknya menjadi bulatan-bulatan kecil, lalu merebusnya. Yah, pekerjaannya adalah penjual pentol keliling. Pagi harinya, Anam berangkat untuk menjual dagangan pentolnya, bersama motor dan gerobak oren yang diboncengnya. 

Perjalanan hidupnya memetik empati orang-orang disekitarnya. Pada waktu masih belia kemandiriannya sudah terbentuk. Saat usia 11 tahun, ia sudah ditinggal sang Ayah pergi ke surga. Saat itu ia masih duduk di kelas 1 SMP di Pondok Pesantren, dan ia mulai menyadari bahwa seseorang yang menghidupinya telah pergi sehingga ia harus mandiri. “Pada waktu di pondok dulu saya bantu orang untuk menjual sate telur, dan upahnya saya buat untuk meringankan beban ibu membiayai saya.” ungkapnya.

Kemudian ia melanjutkan pendidikanya pada SMKN 1 Mojoanyar. Disekolah dia dikenal sebagai orang yang ramah, berbudi luhur, dan suka menolong orang. Pada kelas 1 SMK ia mendapat bantuan dari pemerintah untuk biaya sekolahnya, tapi pada kelas 2 bantuannya dicabut dengan alasan kelebihan kuota penerima. Ia tak putus harapan, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa terus belajar hingga lulus sekolah.  Pada kelas 3 SMK sepulang sekolah Anam melanjutkan menjual pentol di malam hari.

Saat teman-teman sekolahnya hanya diberi tuntutan untuk belajar, namun tidak bagi Anam, ia harus tetap belajar dan bekerja guna membantu ibunya. Namun jelang satu bulan segalanya berubah, ia diajak seseorang untuk bekerja dibagian kantor CV. WSA. Kesempatan itu deterima Anam dengan baiknya, dan ia sudah mendapatkan penghasilan yang lumayan dari kerjaannya. Tapi dalam kurun waktu 4 bulan, Anam memilih resign dikarenakan keluarga pimpinan perusahaan terjerat kasus korupsi yang lumayan besar.

Lika-liku kehidupan terus berjalan mengitarinya. Terkadang mendung, kadang panas menerpa perjalanan hidupnya. Hingga akhirnya setelah lulus SMK , ia memutuskan untuk melanjutkan usaha ibunya berjualan pentol kembali. “Jika kita menjalani setiap pekerjaan dengan rasa syukur, maka segalanya akan terasa cukup.” pesannya. 

Kini ia berinovasi menjadikan pentolnya sebagai frozen food, dan memasarkannya secara online. Semangat juang seorang Anam akan selalu ada dan yang selalu menjadi penyemangatnya adalah mimpi-mimpinya dan sosok ibu tercinta. “Yang menjadi penyemangat disaat saya lelah adalah ibu, dan mimpi saya yang ingin memberangkatkan ibu naik haji. Saya berjanji pada diri saya sendiri akan bekerja keras guna mewujudkan semua” ungkapan itu datang dengan penuh harap.

Penulis: Aflakhul Muzakka – Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura