Jurnal Dwi Mingguan Program Guru Penggerak.
Oleh: YAHYA, S.Pd (SMP Negeri 1 Liukang Tupabbiring) Calon Guru Penggerak Angkatatan 6 Kabupaten Pangkep
Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT yang telah mentakdirkan saya lolos tahapan seleksi guru penggerak angkatan 6 yang akan bersama-sama belajar dan berproses selama lebih 6 bulan. Bukan waktu yang singkat namun juga tidak lama, karena setelah saya rasakan belajar bersama orang-orang hebat ini, tidak terasa sudah hampir 1 bulan.
Setelah sepekan mempelajari modul 1.1 ini saya seakan diam dengan pengetahuan saya selama ini. Saya merasa sudah benar dalam menjalankan filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara. Namun nyatanya masih sangat jauh dari apa yang diharapkan oleh KHD. Saat mengajar, saya cenderung menjadi aktor utama dalam proses pembelajaran yang berbanding terbalik dengan filosofi Ki hajar Dewantara yaitu pendidikan yang menghamba pada murid, anak diberikan kemerdekaan dalam proses belajarnya. Kita sebagai pendidik bertugas untuk menuntun kodrat murid, baik kodrat alam maupun kodrat zaman.
Banyak juga tantangan yang saya hadapi dimana faktor jaringan internet yang terkadang tidak mendukung dalam pelaksanaan pendidikan guru penggerak karena saya bertugas di salah satu daerah kepulauan yang ada di kabupaten Pangkep. Selain itu pembagian waktu pada kegiatan di sekolah dan kegiatan pendidikan guru penggerak ini.
Untuk merefleksikan kegiatan pembelajaran modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak ini, saya akan menuangkannya dengan model 4F yaitu Facts (peristiwa), Feelings (perasaan), Findings (pembelajaran), dan Future (penerapan ke depan).
1. Facts (Peristiwa)
Memasuki bulan September, tepatnya mulai tanggal 12 September 2022 saya mulai mempelajari modul 1.2 yaitu tentang nilai dan peran guru penggerak. Materi di dalam modul 1.2 ini terbagi atas 3 materi yaitu bagian A tentang bagaimana manusia tergerak, lalu bagian B tentang bagaimana manusia bergerak, dan bagian C tentang bagaimana menggerakkan manusia.
Setelah mempelajari eksplorasi konsep, saya melanjutkan ke ruang kolaborasi. Pada alur ini, kami melakukan ruang kolaborasi melalui google meet bersama fasilitator Bapak Abd Karim Tahir dan teman- teman di kelas A 06.09 Sulsel. Pada alur kolaborasi ini kami dibagi menjadi beberapa kelompok, kemudian kami berkolaborasi melalui ruang virtual untuk membahas nilai-nilai guru penggerak yang paling kuat pada diri masing-masing anggota kelompok, selanjutnya kami berdiskusi merancang satu kegiatan yang sesuai dengan nilai yang kami sepakati.
Saya bersama teman satu kelompok sepakat untuk menonjolkan pengalaman nyata masing-masing nilai-nilai dan peran guru penggerak anggota kelompok dan setelah itu di presentasikan melalui ruang kolaborasi google meet. Yang menarik setelah ruang kolaborasi kami mendapat tugas untuk membuat surat cinta yang ditujukan kepada teman-teman anggota kelompok kami yang dinilai pada dirinya menjadi inspirasi, saya mengirimkan surat untuk ibu desi dan pak ikhlas, karena menurut saya keduanya sudah menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid.
Kegiatan di modul 1.2 ini diakhiri dengan kegiatan diskusi virtual di ruang Elaborasi pemahaman bersama instruktur nasional.
2. Feelings (Perasaan)
Setelah mempelajari modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak ini, yang saya rasakan yaitu tumbuh kesadaran dari dalam diri dimana hati saya mulai tergerak untuk melakukan perubahan pada diri saya sendiri terlebih dahulu. Saya ingin memperbaiki hal-hal yang kurang baik selama ini, lalu berusaha menumbuhkan nilai dan peran yang mesti dimiliki oleh seorang guru penggerak. Setelah saya tergerak, selanjutnya saya ingin menggerakkan rekan-rekan guru di sekolah sehingga bisa bergerak bersama mewujudkan peserta didik yang berkarakter profil belajar Pancasila untuk Indonesia yang lebih baik.
3. Findings (Pembelajaran)
Banyak pengalaman dan ilmu yang saya peroleh selama dua minggu mempelajari modul 1.2, yaitu sebagai berikut :
a. Mendapatkan pembelajaran tentang bagaimana cara kerja otak berpikir, yaitu thinking fast(berpikir cepat) dan thinking slow(berpikir lambat). Sebagai seorang pendidik, kita mesti membiasakan diri untuk berpikir lambat yang berarti menggunakan otak luhur manusia. supaya kita tidak terburu-buru dalam menilai dan memutuskan sesuatu.
b. Bagaimana lingkungan sangat mempengaruhi tumbuhnya karakter anak, sehingga harus memberikan lingkungan yang sehat baik di sekolah maupun di rumah. Sehingga harus ada kerjasama antara orang tua dengan guru.
c. Materi berikutnya tentang nilai dan peran guru penggerak. Ada 5 nilai dan 5 peran yang mesti dimiliki oleh seorang guru penggerak.
d. Mendapatkan ilmu tentang profil pelajar Pancasila. Untuk menghasilkan murid yang memiliki profil pelajar Pancasila, kita sebagai guru harus lebih dahulu mempelajari dan mencontohkan dalam keseharian yang mencerminkan profil pelajar Pancasila, karena sejatinya guru adalah teladan bagi peserta didik.
4. Future (Penerapan)
Setelah mempelajari modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak, saya akan berusaha menerapkan beberapa hal berikut:
a. Secara mandiri selalu belajar dengan mengikuti pelatihan-pelatihan untuk mengembangkan kompetensi dan profesionalisme saya sebagai guru tanpa harus disuruh oleh pihak manapun.
b. Melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid dengan menerapkan model dan media pembelajaran yang inovatif.
c. Berkolaborasi dengan murid, rekan sejawat, maupun dengan lingkungan sekitar untuk kepentingan murid
d. Menjadi coach bagi guru lain, seperti membantu mereka yang kesulitan dalam memanfaatkan aplikasi-aplikasi yang mendukung kegiatan pembelajaran.
e. Aktif didalam komunitas praktisi yang ada dilingkungan saya.

Tinggalkan Balasan