MANOKWARI, JURNALNEWS.CO.ID — Fenomena pernikahan usia dini yang masih terjadi di kalangan anak perempuan Suku Moskona, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, menjadi perhatian serius Pemerintah Distrik Merdey. Kepala Distrik Merdey, Yustina Ogoney, mendorong orang tua, tokoh adat, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat untuk memastikan anak perempuan tetap mendapatkan hak pendidikan meski telah menikah.
Yustina menegaskan, pernikahan di usia muda tidak seharusnya menjadi alasan seorang anak perempuan berhenti mengenyam pendidikan. Menurutnya, pendidikan merupakan bekal penting bagi masa depan anak sekaligus bagian dari upaya meningkatkan kualitas generasi muda Suku Moskona.
Ia mengakui, anak yang telah menikah menghadapi berbagai tantangan dalam membagi waktu antara keluarga dan pendidikan. Namun, kondisi tersebut dinilai tidak boleh berujung pada putus sekolah.
Salah satu persoalan yang turut memperbesar angka putus sekolah, kata Yustina, adalah stigma sosial serta pola pikir di lingkungan keluarga. Setelah seorang anak perempuan menikah, masih terdapat anggapan bahwa tanggung jawab rumah tangga harus sepenuhnya menjadi prioritas sehingga pendidikan ditinggalkan.
Karena itu, Pemerintah Distrik Merdey terus melakukan pendekatan persuasif dan edukatif kepada masyarakat, termasuk tokoh adat, tokoh agama, serta kepala-kepala suku.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membangun pemahaman bersama bahwa pendidikan perempuan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas kehidupan keluarga dan masyarakat.
Bagi anak perempuan yang sudah menikah dan tidak memungkinkan mengikuti sekolah formal, pemerintah juga mendorong adanya jalur pendidikan alternatif melalui program kesetaraan seperti Kejar Paket A, B, dan C.
Dengan adanya pendidikan nonformal tersebut, mereka tetap memiliki kesempatan menyelesaikan pendidikan dan memperoleh ijazah tanpa harus meninggalkan tanggung jawab keluarga.
Yustina juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan inklusif. Anak perempuan yang telah menikah tetap perlu mendapatkan dukungan agar tidak merasa malu, terasing, atau mengalami diskriminasi ketika kembali melanjutkan pendidikan.
Menurutnya, pendidikan perempuan memberikan dampak luas terhadap kehidupan keluarga dan pembangunan daerah. Perempuan yang memiliki pendidikan memadai dinilai lebih berpeluang meningkatkan kesejahteraan keluarga, memahami pola pengasuhan yang baik, serta berkontribusi dalam membentuk generasi berikutnya.
Pemerintah Distrik Merdey pun berkomitmen memperkuat koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Teluk Bintuni untuk mencari solusi terhadap persoalan putus sekolah, khususnya di wilayah pedalaman.
Upaya tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi anak-anak perempuan Suku Moskona untuk tetap bersekolah dan meraih masa depan yang lebih baik, meskipun menghadapi tantangan sosial dan keluarga.
(Ewil M. Woloin)

Tinggalkan Balasan