JURNALNEWS.CO.ID – Selama acara berlangsung, Maria Mahasiswa Kedokteran UMM memaparkan materi secara mendetail melalui, diskusi, dan sesi tanya jawab interaktif. Mereka menjelaskan panduan praktis dan tips untuk memastikan bayi mendapatkan nutrisi yang optimal demi mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang sehat. Dalam penyuluhan tentang “1000 Hari Pertama Kehidupan,” Maria Noveareza Hadrun dari FK UMM 2021 menguraikan pentingnya periode 1000 hari pertama sebagai masa emas dalam perkembangan anak. Periode ini disebut sebagai masa kritis karena otak anak berkembang dengan sangat cepat dan rentan terhadap pengaruh lingkungan, yang dapat memengaruhi struktur otak dan kemampuan kognitif anak.
Penyuluhan ini terdiri dari tiga bagian utama: pentingnya 1000 hari pertama, kebutuhan nutrisi, dan klarifikasi mitos umum seputar nutrisi bayi dan ibu. Hal pertama, dijelaskan bahwa pemenuhan nutrisi, kasih sayang, dan stimulasi sangat diperlukan selama masa 1000 hari pertama. Tahapan nutrisi yang dijelaskan mencakup masa kehamilan, di mana ibu harus memiliki status gizi yang baik karena kekurangan gizi dapat berdampak negatif pada janin. Nutrisi penting seperti folat, kalsium, vitamin D, protein, dan zat besi harus diperhatikan, sementara makanan yang diawetkan dan kurang matang harus dihindari.
Untuk bayi di bawah 6 bulan, ASI adalah sumber nutrisi terbaik yang juga menyediakan kasih sayang dan stimulasi sensoris penting bagi perkembangan bayi. Pemberian ASI tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, tetapi juga menyalurkan kasih sayang ibu dan memberikan stimulasi refleks isap serta seluruh organ sensoris bayi yang berguna untuk perkembangan selanjutnya. Bayi yang mendapatkan ASI cenderung memiliki tingkat kecerdasan (IQ) yang lebih tinggi dibandingkan bayi yang diberi susu formula.

Selama acara berlangsung, Maria Mahasiswa Kedokteran UMM memaparkan materi secara mendetail melalui, diskusi, dan sesi tanya jawab interaktif. Mereka menjelaskan panduan praktis dan tips untuk memastikan bayi mendapakan nutrisi yang optimal demi mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang sehat. Dalam penyuluhan tentang “1000 Hari Pertama Kehidupan,” Maria Noveareza Hadrun dari FK UMM 2021 menguraikan pentingnya periode 1000 hari pertama sebagai masa emas dalam perkembangan anak. Periode ini disebut sebagai masa kritis karena otak anak berkembang dengan sangat cepat dan rentan terhadap pengaruh lingkungan, yang dapat memengaruhi struktur otak dan kemampuan kognitif anak.
Penyuluhan ini terdiri dari tiga bagian utama: pentingnya 1000 hari pertama, kebutuhan nutrisi, dan klarifikasi mitos umum seputar nutrisi bayi dan ibu. Hal pertama, dijelaskan bahwa pemenuhan nutrisi, kasih sayang, dan stimulasi sangat diperlukan selama masa 1000 hari pertama. Tahapan nutrisi yang dijelaskan mencakup masa kehamilan, di mana ibu harus memiliki status gizi yang baik karena kekurangan gizi dapat berdampak negatif pada janin. Nutrisi penting seperti folat, kalsium, vitamin D, protein, dan zat besi harus diperhatikan, sementara makanan yang diawetkan dan kurang matang harus dihindari.
Untuk bayi di bawah 6 bulan, ASI adalah sumber nutrisi terbaik yang juga menyediakan kasih sayang dan stimulasi sensoris penting bagi perkembangan bayi. Pemberian ASI tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, tetapi juga menyalurkan kasih sayang ibu dan memberikan stimulasi refleks isap serta seluruh organ sensoris bayi yang berguna untuk perkembangan selanjutnya. Bayi yang mendapatkan ASI cenderung memiliki tingkat kecerdasan (IQ) yang lebih tinggi dibandingkan bayi yang diberi susu formula.

Setelah 6 bulan, ASI saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, baik makronutrien maupun mikronutrien. Pada masa ini, pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) sangat penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tambahan dan mendukung perkembangan keterampilan makan bayi. MPASI harus diberikan secara bertahap, dimulai dengan tekstur dan konsistensi yang halus, kemudian ditingkatkan seiring dengan perkembangan oromotor bayi. Periode ini, yang berlangsung antara 6 bulan sampai 23 bulan, dikenal sebagai masa penyapihan dan merupakan masa rawan pertumbuhan anak. Jika bayi tidak diberi makanan yang tepat, baik dalam hal kualitas maupun kuantitas, dapat terjadi malnutrisi.
“Beberapa mitos umum yang sering kali menimbulkan kesalahpahaman di kalangan ibu-ibu. Misalnya, anggapan bahwa ASI tidak penting setelah 6 bulan, yang sebenarnya tidak benar. ASI tetap penting bahkan setelah MPASI diperkenalkan. Selain itu, penambahan gula dan garam pada MPASI tidak dianjurkan karena dapat membahayakan kesehatan bayi. MPASI instan juga sering kali dianggap berbahaya karena mengandung pengawet, tetapi yang lebih penting adalah memastikan variasi makanan selama masa MPASI untuk memenuhi semua kebutuhan nutrisi bayi.” Ungkap Maria Mahasiswa Kedokteran UMM sebagai Pemateri Penyuluhan.
“Penyuluhan ini sangat penting dan bermanfaat bagi Ibu-Ibu yang memiliki Balita untuk memberikan edukasi serta mitos dan fakta yang banyak ibu-ibu baru mengetahui.’ Ungkap Nabila Warga Sempu Mulia Residence (SMR), RT. 06, Dusun Sempu, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
Penyuluhan ini ditutup dengan penegasan bahwa apa yang dialami, dilakukan, atau dimakan selama 1000 hari pertama kehidupan akan memberikan dampak jangka panjang pada kesehatan masa depan anak. Maria mengajak audiens untuk memahami dan menerapkan informasi yang telah disampaikan demi masa depan anak yang lebih baik. Dengan semangat pengabdian dan berbagi ilmu, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya asupan makanan yang tepat bagi kesehatan bayi dan balita. Maria Mahasiswa kedokteran UMM berharap bahwa edukasi yang diberikan dapat membantu para ibu dalam memastikan pertumbuhan dan perkembangan optimal bagi anak-anak mereka, serta mencegah masalah kesehatan yang dapat timbul akibat kekurangan nutrisi pada masa-masa awal kehidupan.
Penulis: PMM 64 UMM

Tinggalkan Balasan