JURNALNEWS.CO.ID – Mahasiswa Kesejahteraan Sosial FISIP USU melaksanakan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Yayasan MedanPlus, khususnya pada pelayanan rehabilitasi narkoba yang berlokasi di Desa Salam Tani, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
Yayasan MedanPlus merupakan yayasan rehabilitasi yang berada di sekitar Kota Medan, yang memiliki misi menghapus stigma dan diskriminasi terhadap ODHA (Orang Dengan HIV & AIDS) dan juga bagi korban narkoba.
Kegiatan PKL ini berlangsung selama kurang lebih 2-3 bulan, dimulai dari 7 September 2021 hingga 12 November 2021.
Kegiatan praktikum ini dibimbing oleh Bapak Husni Thamrin, S.Sos, M.SP sebagai supervisor sekolah, dan Bapak Haris Topulus Simanjuntak, S.Sos sebagai supervisor lembaga selama berada di lingkungan Yayasan MedanPlus.
Pada awal pelaksanaan kegiatan, praktikan memulai dengan perkenalan diri dengan para staff yang bertugas, menyampaikan tujuan dan alasan memilih lembaga, menyampaikan estimasi waktu praktikum, gambaran kasar kegiatan yang akan dilakukan. Selanjutnya, praktikan menerima arahan dan bimbingan sekaligus pengenalan lembaga dari Bapak Haris Topulus Simanjuntak selaku supervisor lembaga.
Pengenalan dimulai dari sejarah berdirinya lembaga, visi dan misi lembaga, Sumber Daya Manusia yang dimiliki lembaga, kode etik, sistem pelayanan yang diberikan, hingga pengenalan setiap fasilitas dan bangunan yang berada di MedanPlus. Kemudian, praktikan diberi kesempatan untuk mengikuti beberapa kegiatan residen, seperti mengikuti sesi materi yang dibawakan oleh staff, dan juga ice breaking.
Kegiatan berlangsung di bawah pengawasan yang ketat dari para staff. Tujuan utama praktikum adalah melakukan intervensi kepada komunitas yang telah dipilih, dalam rangka mempraktikan secara langsung teori intervensi Pekerjaan Sosial menggunakan metode-metode khusus yang telah dipelajari.
Untuk itu, praktikan menciptakan sebuah mini projek yang dilakukan terhadap beberapa residen yang sedang menjalani proses pemulihan di Pusat Rehabilitasi MedanPlus.
Adapun gambaran dari mini projek tersebut adalah, praktikan akan mencoba untuk mengidentifikasi masalah, kebutuhan, dan juga potensi yang dimiliki oleh komunitas sasaran, kemudian merancang suatu program bersama-sama dengan residen sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Adapun tahapan metode yang digunakan oleh praktikan adalah tahapan intervensi Social Group Work secara general/umum digunakan dalam Pekerjaan Sosial. Lebih lanjut, tahapan-tahapan tersebut meliputi :
1. Tahap Persiapan
Pada tahap ini, ada dua hal yang perlu dipersiapkan oleh praktikan, yaitu persiapan diri petugas dan persiapan lapangan.
- Pada persiapan diri petugas, praktikan sebagai community worker merupakan salah satu prasayarat penting suksesnya suatu intervensi komunitas. Praktikan menggunakan strategi intervensi Non-Direktif (Partisipatif), dimana pemeran utama dalam proses perubahan adalah komunitas itu sendiri, sedangkan community worker lebih bersifat menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki komunitas sasaran. Pada pendekatan Non-Direktif ini, komunitas lah yang aktif untuk menganalisis dan mengambil keputusan-keputusan yang berkaitan dengan permasalahan yang dialami.
- Kemudian pada tahap persiapan lapangan, praktikan melakukan studi kelayakan pada tempat atau lembaga lembaga yang dituju, dalam hal ini adalah lingkungan rehabilitasi MedanPlus. Kemudian praktikan meminta izin terlebih dahulu kepada pemimpin lembaga dan para staff untuk melakukan intervensi. Pada tahap ini juga, praktikan melakukan kontak dan kontrak awal dengan residen, dimana praktikan memperkenalkan diri secara langsung dengan residen, melakukan pendekatan, dan memastikan residen bersedia untuk diintervensi.
2. Tahap Assessment
Pada tahap ini, praktikan mulai melakukan penggalian atau identifikasi masalah, kebutuhan, dan juga potensi yang dimiliki oleh komunitas. Dalam melakukan assessment, praktikan menggunakan tools Focus Group Discussion (FGD) dengan pendekatan Non-Direktif. Dimana saya melontarkan beberapa pertanyaan untuk membuka diskusi yang dimulai dengan topik-topik sederhana kemudian masuk ke dalam pembahasan inti, yaitu masalah apa yang dialami oleh komunitas.
Residen aktif memberi jawaban dan saling berdiskusi mengenai apa yang mereka rasakan selama menjalani proses rehabilitasi di MedanPlus. Untuk membantu jalannya diksusi, praktikan menggunakan tools Methodology Participatory Assessment (MPA) dengan memberi kesempatan kepada para residen untuk menuliskan pada sticky note masalah yang mereka rasakan dan juga potensi apa yang kira-kira dimiliki oleh residen sehingga dapat membantu dalam perencanaan program.
Setelah terkumpul beberapa masalah yang ditulis secara jujur dan terbuka, praktikan sebagai community worker membantu untuk menentukan prioritas masalah yang ingin diselesaikan. Praktikan menggunakan teori behavioristik dari Gage dan Berliner dalam menganalisis masalah, yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan.
Dimana komunitas menemukan bahwa permasalahan utama yang sering dirasakan adalah perasaan jenuh dan bosan dengan kegiatan rehabilitasi yang terlalu monoton. Terlebih-lebih akibat adanya COVID-19, para residen yang dulunya memiliki kesempatan untuk ber-rekreasi di luar ligkungan MedanPlus (dengan tetap di bawah pengawasan staff tentunya), sekarang tidak diberi kebebasan penuh untuk melakukan kegiatan tersebut. Akhirnya, rasa bosan pun sering muncul, yang mengakibatkan residen menjadi tidak semangat menjalani rehab dan emosi yang kadang tidak stabil.
Selain itu, masalah yang dirasakan oleh komunitas adalah rasa rindu yang sangat dalam terhadap keluarga yang di tinggalkan di rumah. Setelah menemukan prioritas masalah, komunitas juga menentukan prioritas yang dimiliki, baik oleh lembaga maupun residen sendiri, yang kira-kira dapat menuntutn dalam perencanaan program.
3. Tahap Perencaanaan Alternatif Program
Pada tahap ini, praktikan mengajak residen untuk menentukan alternative program dengan tetap menggunakan pendekatan Non-direktif (Partisipatif), dengan tujuan agar komunitas berperan aktif dalam menentukan ide-ide alternatif program yang akan disesuaikan dengan potensi yang dimiliki.
Dengan menggunakan pendekatan Non-direktif, residen akan lebih merasa memiliki program yang dilakukan dan sadar akan masalah yang dialami.
4. Tahap Pemformulasian Rencana Aksi
Kemudian, saya membantu komunitas untuk merumuskan dan menentukan program-program yang dilakukan berdasarkan hasil diskusi interaktif yang telah berlangsung. Setelah melalui proses diskusi yang panjang, komunitas bersama dengan praktikan menentukan program-program yang dapat dilakukan untuk mengatasi rasa jenuh berlebih yang dapat memengaruhi psikologis residen.
Praktikan juga berdiskusi dengan staff yang berpengalamn dalam mengatasi residen mengenai program yang telah dirancang. Beberapa program yang akan di jalankan adalah :
- Cipta kreatifitas yang disesuaikan dengan skill yang dimiliki oleh komunitas, yaitu membuat papan motivasi dari triplek dan cat bekas, dimana residen akan menuliskan kata-kata motivasi pada media triplek menggunakan cat yang kemudian akan ditempelkan di beberaap lokasi di dalam lingkungan MedanPlus. Kerajinan yang selanjutnya adalah asbak rokok yang terbuat dari batok kelapa bekas, yang akan di letakkan di beberapa ruangan.
- Letter for family, yaitu residen akan menuliskan sebuah surat yang ditujukan kepada keluarga. Surat tersebut berisikan perasaan yang dirasakan oleh residen, curhatan hati, pergumulan, permintaan maaf dan ucapan terima kasih, serta luapan emosi lainnya yang tidak dapat terucap oleh kata-kata secara langsung. Surat yang telah ditulis akan diberikan kepada keluarga oleh residen sendiri ketika kegiatan visit (kunjungan dari keluarga).
- Jingle Say No to Drugs, yaitu residen akan membuat lagu singkat sebagai bentuk ajakan mereka kepada masyarakat untuk tidak menggunakan narkoba, kemudian rencananya akan diposting ke media massa online dengan tetap menjaga privasi residen.
- Sesi Motivasi, yang akan dibawakan oleh praktikan untuk memberi kata-kata penguatan dan semangat kepada para residen agar tetap memiliki pemikiran yang positif dan optimis untuk bias lepas dari jerat narkoba.
- Sharing planning, dimana residen akan saling berbagi pikiran mengenai goals atau harapan-harapan yang mereka miliki ketika keluar dari rehabilitasi. Hal ini juga dapat dijadikan sebagai ajang saling memberi masukan dan saran terhadap residen satu sama lain yang dapat menjadi penghalang dalam mencapai goals yang dimiliki.
- Fun day, yaitu kegiatan bersenang-senang yang akan dilakukan selama setengah hari berupa aktifitas positif seperti bermain games, gotong royong, dan juga senam, untuk melepaskan rasa penat dan jenuh yang dirasakan oleh residen.
5. Tahap Pelaksanaan Program
Pada tahap ini, semua kegiatan program yang telah dirancang dilaksanakan dengan tetap di bawah pengawasan para staff. Program yang dilakukan diharapkan dapat menghilangkan rasa jenuh dan bosan yang dialami residen selama proses rehab. Selama proses implementasi program, praktikan tetap melakukan diskusi lebih lanjut dengan supervisor lembaga dan juga para staff.
6. Tahap Evaluasi dan Hasil Perubahan
Setelah semua program telah terlaksana, praktikan mengajak residen untuk melakukan evaluasi terhadap program yang telah berjalan. Selama program berlangsung, residen mengaku lebih dapat berpikir positif tentang dirinya sendiri dan semakin bersemangat dalam menjalani proses rehab di MedanPlus.
7. Tahap Terminasi
Terakhir, praktikan melakukan pemutusan hubungan dengan klien, dalam hal ini adalah residen yang menjadi sasaran intervensi. Terminasi dilakukan dengan saling menyampaikan pesan, kesan, dan harapan, baik dari praktikan kepada residen, begitu pula sebaliknya.
Selain melukan mini projek, praktikan juga melakukan kegiatan penempelan poster edukasi persuasif yang berisi bahaya dan ajakan untuk melepaskan diri dari jerat nakroba. Penempelan poster dilakukan di ruang kelas Yayasan Rehabilitasi MedanPlus agar dapat terus menjadi pengingat bagi para residen yang tengah menjalani rehabilitasi.
Kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) ini diakhiri dengan kegiatan hiburan dan pembagian bingkisan kepada para residen, juga ucapan terimakasih kepada residen dan para staff yang telah membantu selama proses pelaksanaan program di Yayasan Pusat Rehabilitasi MedanPlus.
Yohanna Arminta Zega

Tinggalkan Balasan