JURNALNEWS.CO.ID – Dimasa pandemi saat ini, keterbatasan jarak dan waktu bukan menjadi masalah. Setiap orang pasti memiliki keinginan untuk menjadi seseorang yang ahli dalam bidangnya. Seperti halnya guru yang bertugas untuk mendidik siswa, namun tetap memiliki kewajiban untuk belajar. Mengajar dimasa pandemi bukan hal yang mudah, guru harus mampu menguasai beragam media pembelajaran yang terintegrasi dengan internet. Dikutip dari Medcom.id (06/02/2020), menurut Plt. Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Gogot Suharwoto bahwa kompetensi TIK guru yang akrab dengan teknologi tidak sampai 50 persen dari total guru yang ada.

Data tersebut didapat melalui pemetaan dengan sistem yang diadopsi dari UNESCO, ada 4 level yakni level satu literasi teknologi, level 2 kemampuan guru untuk mengoperasikan dan mengaplikasikannya dengan mudah, level 3 guru sudah bisa membuat konten sendiri serta level 4 guru sudah mampu menjadi trainer.

Hasil pemetaan dari 28 ribu guru oleh Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2020, ternyata baru 46% yang menguasai level 1.

Dari data tersebut, menyatakan bahwa kendala utama kompetensi literasi teknologi belum mencapai 50%. Sedangkan pada level 2, hanya 14% yang mampu lolos. Rendahnya tingkat kompetensi TIK oleh guru tentu bukan tanpa sebab.

Menurut PUSTEKKOM KEMDIKBUD oleh Rivalina pada tahun 2014 menguraikan permasalahan atau kesulitan yang dihadapi guru dalam memanfaatkan TIK untuk pembelajaran: (1) guru memiliki jam mengajar sangat padat di sekolah; (2) pelatihan guru dibidang pemanfaatan TIK yang telah ada tidak mampu menjangkau semua guru; (3) banyaknya guru yang tinggal jauh dari sekolah tempat mengajar; (4) belum semua guru memiliki fasilitas laptop terutama yang bertugas didaerah pedesaan dan terpencil.

Padahal kompetensi TIK merupakan hal yang penting dalam pembelajaran, khususnya pada masa pandemi saat ini.

Kemampuan untuk menggunakan teknologi sebagai basis pembelajaran menjadi jalan utama untuk berinteraksi kepada siswa, akibat penutupan sekolah untuk bertatap muka.

Manfaat lain yang didapat, mampu menyajikan pembelajaran dengan beragam media yang berkualitas, konsisten dan dapat diulang penggunaanya.

Apabila guru mampu menyelenggarakan pembelajaran yang berkualitas, maka motivasi belajar siswa juga akan meningkat seiring dengan ketertarikan siswa.

Beberapa upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kompetensi guru dibidang TIK melalui penyelenggaraan program pembelajaran GTK guru belajar dan berbagi. Program pembelajaran tersebut dapat diakses pada platform guru belajar dan berbagi.kemdikbud.go.id.

Didalamnya terdapat 2 pilihan, yakni Ayo Guru Belajar dan Ayo Guru Berbagi. Untuk program pembelajaran dapat diakses diAyo Guru Belajar.

Pada halaman tersebut tersedia banyak seri pembelajaran bagi guru, diantaranya: (1)seri literasi dan numerasi; (2)seri guru merdeka belajar; (3)seri semangat guru :kemampuan nonteknis dalam adaptasi teknologi; (4)seri PAUD; dan lain sebagainya.

Platform tersebut sudah digunakan oleh 1.165.799 per 07/12/2021. Fasilitas yang tersedia dalam platform yakni menyediakan beragam program belajar yang relevan dan dapat diikuti guru dan tenaga kependidikan secara daring dan forum untuk berbagi ide dan praktik baik melalui Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), artikel, video pembelajaran, dan aksi webinar.

Guru diharapkan bisa memanfaatkan platform tersebut, sebagai wadah dalam meningkatkan kompetensinya dalam pembelajaran Selain penyediaan platform pembelajaran TIK bagi guru, perlu juga untuk pemerintah melakukan pemerataan fasilitas yang mendukung pemanfaatan TIK.

Mulai dari penyediaan jaringan 4G yang stabil ke seluruh wilayah Indonesia, menyediakan komputer/ gadget di fasilitas sekolah secara merata hingga memberi diklat secara langsung bagi guru-guru di daerah terpencil.

Dari sisi organisasi keprofesian guru, diharapkan mampu menjadi fasilitator bagi kawan-kawan seprofesi dalam membantu meningkatkan kompetensi guru. Kemudian dari diri guru itu sendiri, perlu ditingkatkan motivasi untuk belajar TIK.

Guru yang muda hingga senior juga perlu memiliki inisiatif untuk belajar TIK dari yang sifatnya sederhana hingga kompleks.

Kesimpulannya, guru perlu menguasai kompetensi bidang TIK sebagai basis pembelajaran yang lebih berkualitas. Apabila guru mampu untuk menguasai teknologi, maka kompetensi guru apapun yang dipelajari akan menjadi mudah.

Belajar dari hal sederhana kemudian bertahap menjadi yang lebih kompleks agar mampu mengaplikasikan media pembelajaran secara tepat guna.

Setelah mampu beradaptasi kemudian menerapkan hingga menjadi seorang trainner adalah suatu nilai yang berharga. Selain itu, karir guru akan lebih meningkat seiring dengan banyaknya penguasaan kompetensi yang mampu diaplikasikan dalam pembelajaran.

Guru berkualitas dengan menjadi sdm yang memumpuni, maka kualitas pendidikan di Indonesia juga akan meningkat.

Ayu Nabilla /Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang (UNNES)