JURNALNEWS.CO.ID – NBAS Kotagede Kriya Logam, sebuah tempat produksi kerajinan logam lawas di sudut Kawasan Kotagede, Yogyakarta, yang masih bertahan ditengah hiruk pikuknya perkembangan jaman, dengan segala upaya pelestarian seni budaya lokal yang ada.
NBAS Kotagede mengingatkan kita untuk terus melestarikan warisan dari leluhur, bagaimanapun caranya. Sejarah kerajinan logam di Kotagede ini sangatlah panjang, dimulai dari sekitar abad ke-16, melalui berbagai krisis penjajahan hingga ekonomi, dan masih bertahan hingga sekarang.
Membahas Kotagede memang unik, bekas peradaban yang nyata dapat kita amati secara fisik, dan nuansanya pun berbeda dengan daerah-daerah pada umumnya. Kotagede dan kerajinan logam memang tak bisa dipisahkan. Namun, melalui tulisan ini entah kenapa kerajinan logam di Kotagede menjadi sangat penting untuk kita ceritakan dan sedikit dibahas?
“Kenapa kerajinan logam perlu dilestarikan? Karena itu bukti nyata, bahwa kerajinan logam bisa menjadi identitas bagi Kotagede selama ini” Kata Pengelola NBAS Kotagede (1/11/2021).
Keindahan atas kualitas kerajinan logam buatan pengrajin pengrajin di Kotagede itulah yang membuat orang Eropa, khususnya Belanda di masa penjajahan menyukai kerajinan perak Kotagede. Sekaligus, kerajinan logam yang mulanya dipakai untuk kepentingan keraton (kerajaan), mulai bergeser menjadi industrialisasi (diperdagangkan untuk umum).
Perkembangannya, kini kerajinan logam di Kotagede tidak semaju seperti dulu. Hal itu banyak faktor yang mempengaruhinya, misalnya sepinya pasar dan mahalnya bahan baku, berimbas pada produksi para pengrajin. Akhirnya, mereka beralih profesi lain. Hal itu terbukti jika kita berkunjung ke Kotagede, sudah tidak banyak toko-toko kerajinan logam yang ada, bahkan bisa dihitung jari.
Kondisi inilah yang menggugah NBAS Kotagede Kriya Logam untuk terus berupaya melestarikan kerajinan logam non-perak secara mandiri. Bahkan di NBAS Kotagede pun terdapat sebuah sanggar pengrajin kuningan dan tembaga yang masih tersisa.
Karena namanya tersisa, maka usia mereka pun senior-senior. Bahkan sudah menekuni di industri kerajinan tembaga dan kuningan selama puluhan tahun lamanya. Produksi kerajinannya pun juga bermacam, seperti garuda pancasila, patung tembaga, patung kuningan, logo hingga souvenir tergantung permintaan konsumennya.
Digitalisasi Kerajinan Tembaga dan Kuningan Ditahun 2020 menjadi puncak kekhawatiran pengelola NBAS Kotagede untuk bicara pelestarian kerajinan logam di Kotagede. Dalam kondisi biasa saja, tantangannya banyak. Apalagi ditambah situasi krisis yang tidak jelas. NBAS Kotagede akhirnya memilih strategi cepat dan tepat, yakni digitalisasi.
Suatu hal yang belum pernah dilakukan selama puluhan tahun sebelumnya. Selama masa Pandemi Covid-19 dari tahun 2020 hingga 2021, NBAS Kotagede terus mempromosikan kegiatan mereka melalui sosial media guna mendapatkan pesanan. Maklum saja, pengrajin tembaga dan kuningan di NBAS Kotagede selama ini hanya mengandalkan pesanan saja, tidak ada stok yang siap jual.
Jadi jika tidak ada pesanan, maka berimbas dapur tidak bisa mengepul. Memasarkan lewat digital merupakan cara sederhana yang dilakukan NBAS Kotagede agar tetap bisa bertahan dimasa pandemi. “Biasanya pemesan datang ke tempat workshop sini, tapi kalau ada pembatasan apalagi skala nasional, terus kita mau gimana lagi? Solusinya ya mengikuti perkembangan jaman, digitalisasi kerajinan tembaga dan kuningan.“,
jelas pengelola NBAS Kotagede. Jualan online pun juga tidak mudah, pada dasarnya kerajinan tembaga dan kuningan memiliki pasar sendiri. Ini menjadi tantangan bagi NBAS Kotagede dalam mengembangkan usaha. Saat ini NBAS Kotagede sedang fokus memperluas pasar agar pengrajin bisa terus produksi kerajinan.
Mereka berharap masyarakat semakin aware dengan kerajinan tembaga dan kuningan buatannya. Harapan kedepannya, keberadaan NBAS Kotagede bisa bermanfaat, terutama dalam hal pelestarian kerajinan logam di Kotagede.
Selain itu, NBAS Kotagede berencana membuat banyak terobosan kreatif untuk menjangkau anak muda. Mereka ingin menunjukkan bahwa, kerajinan logam di Kotagede adalah warisan leluhur yang sangat indah. Baik teknik hingga motif harus terus dirawat sampai kapanpun.
Luki Antoro. Pemerhati dan Pelaku Ekonomi Kreatif di Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan