JURNALNEWS.CO.ID – Semarang – Sejak dikeluarkannya Surat Edaran No. 4 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas, banyak sekolah yang mulai melaksanakan pembelajaran secara tatap muka di sekolah dengan sistem hybrid learning dan jam belajar yang masih dibatasi.
Tidak sedikit siswa sekolah dasar hingga menengah yang merasa membutuhkan tambahan pembelajaran akibat jam belajar di sekolah yang PTM terbatas dan juga karena pembelajaran daring.
Untuk menambah jam belajarnya, banyak siswa yang mengikuti bimbingan belajar diluar jam sekolah.
Banyaknya jenis bimbel saat ini, sebagian siswa lebih memilih bimbel rumahan untuk membantu menyelesaikan masalah proses belajarnya.
Dikarenakan bimbel rumahan mematok biaya yang lebih terjangkau dibandingkan les privat, kursus, maupun bimbel konvensional.
Salah satunya adalah bimbel rumahan Nurhayati. Bimbel yang beralamat di Jalan Sriwidodo Utara VI Kelurahan Purwoyoso Kecamatan Ngaliyan ini sehari-harinya terdapat belasan siswa sekolah dasar hingga menengah yang belajar.
Menurut Nurhayati, beberapa pembelajaran ada yang susah jika harus menggunakan metode pembelajaran daring.
Salah satunya adalah pembelajaran membaca. Bimbel rumahan tersebut juga menerima siswa sekolah dasar untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung. “Anak-anak itu banyak yang ketinggalan pelajaran.
Sekolah sudah boleh tatap muka, tapi jam belajar di sekolah masih dibatasi. Jadi anak-anak ngulang pelajarannya ya di sini,” ujar Nurhayati pengajar bimbel rumahan ketika ditemui pada Senin (22/11/2021).
Bimbel Nurhayati ini dilaksanakan setiap hari Senin hingga Kamis dari jam 08.00 WIB hingga 09.30 WIB untuk sesi siswa sekolah dasar.
Adapun untuk sesi siswa sekolah menengah dilaksanakan setiap hari Senin hingga Kamis mulai dari jam 13.00 WIB hingga 14.30 WIB atau selama satu setengah jam untuk sekali pertemuan.
“Belajarnya sesuai materi yang diajarkan di sekolah, kalau ada tugas atau PR sumbernya dari LKS, buku paket anaknya sama internet,” tambah Nurhayati.
Jika memasuki waktu ujian di sekolah, bimbel rumahan milik Nurhati memberikan pemadatan untuk siswa yang akan menempuh Ujian Akhir Semester maupun siswa yang akan menempuh Ujian Nasional.
Pemadatan diberikan selama 2 hingga 3 minggu sebelum UAS maupun UN berlangsung. Salah satu peserta bimbel, Binta (16) mengaku selama mengikuti kegiatan belajar tambahan di bimbel rumahan milik Nurhayati, dirinya lebih memahami materi.
Dirinya menambahkan, setidaknya terdapat pelajaran yang tidak ia pahami ketika di sekolah, dapat dipelajari kembali ketika belajar di bimbel.
“Kalau matematika saat daring itu susah, tapi Bu Nur menjelaskan kembali materinya, jadi lebih paham kalau dijelasin lagi,” ujar siswa kelas 11 SMK tersebut.
Sementara itu, salah satu orang tua siswa yakni Uswatun (50) juga mengaku sangat terbantu dengan memberikan tambahan belajar melalui bimbel rumahan milik Nurhayati.
“Saya sebagai orang tua yang bekerja kadang kesulitan ketika anak bertanya pelajaran yang susah. Jadi saya sangat terbantu sekali dengan bimbel rumahan seperti ini,” ujar Uswatun, salah satu orang tua peserta bimbel rumahan.
“Kadang kalau waktunya belajar, fokusnya itu selalu terbagi. Belajarnya sambil main game dan main HP. Jadi kalau di bimbel, saya rasa belajarnya jadi ada yang mengawasi dan anak dapat paham kalau belajar itu sudah jadi tanggung jawabnya,” tambah Uswatun.
Tentu bimbel rumahan ini sangat membantu orang tua siswa yang memiliki pekerjaan dan tidak memiliki banyak waktu untuk mendampingi anaknya belajar. Serta, dengan adanya bimbel rumahan ini tentu dapat membantu siswa dalam menambah kegiatan belajar diluar jam sekolah ditengah gempuran pembelajaran tatap muka terbatas seperti saat ini.
Aurora Farah Isna
Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Semarang

Tinggalkan Balasan