JURNALNEWS.CO.ID, MAROS — Direktur Utama PT Semen Tonasa, Anis, menyebut penggunaan Bata Interlock Presisi (BIP) yang dikembangkan Semen Indonesia Group (SIG) berpotensi memangkas waktu pembangunan rumah secara signifikan. Hal itu disampaikannya saat menghadiri peresmian rumah yang menggunakan BIP di kawasan Perumahan Sunrise City Maros, Sabtu (3/10/2026).

Menurut Anis, teknologi tersebut menawarkan tingkat presisi yang menjadi salah satu pembeda dibandingkan produk bata interlock lainnya. Presisi material dinilai dapat mendukung proses pemasangan yang lebih cepat apabila dikerjakan oleh tenaga kerja yang telah memperoleh pelatihan.

“Alhamdulillah, hari ini peresmian rumah BIP yang menggunakan Bata Interlock Presisi. Kenapa Bata Interlock Presisi diberikan nama oleh SIG, karena mungkin ini bukan satu-satunya produk Bata Interlock yang ada di Indonesia. Tetapi mungkin satu-satunya Bata Interlock yang sangat presisi,” ujar Anis.

Ia menjelaskan, rumah yang diresmikan menjadi salah satu proyek perumahan di Sulawesi Selatan yang menerapkan Bata Interlock Presisi. Salah satu manfaat yang disorot adalah potensi pengurangan durasi pembangunan.

Anis membandingkan waktu pengerjaan rumah dengan metode konvensional yang dapat mencapai sekitar empat hingga lima bulan. Sementara dengan BIP dan tenaga kerja yang telah dibekali pelatihan, pembangunan satu unit rumah ditargetkan dapat diselesaikan maksimal sekitar satu bulan.

“Kalau seperti yang kelihatan di belakang kita ini, rumah-rumah tipe subsidi mungkin dalam membangun satu rumah membutuhkan waktu empat sampai lima bulan. Tetapi Insya Allah dengan menggunakan Bata Interlock Presisi dan para pekerja bangunan yang sudah dilatih dengan baik, satu rumah ini bisa diselesaikan paling lama hanya satu bulan,” katanya.

Menurut Anis, percepatan pengerjaan rumah juga berkaitan dengan peluang efisiensi biaya pembangunan. Ia menilai tenaga kerja menjadi salah satu komponen yang cukup besar dalam proses pembangunan rumah.

Dengan waktu pengerjaan yang lebih singkat, biaya tenaga kerja berpotensi ikut berkurang. Efisiensi tersebut diharapkan dapat mendukung upaya menyediakan hunian yang lebih mudah dijangkau masyarakat.

“Bayangkan, cost terbesar di dalam pembangunan rumah salah satunya adalah cost tukang. Jadi kalau kita bisa memangkas lebih dari 50 persen dari cost tukang, Insya Allah program pemerintah untuk bagaimana masyarakat bisa menjangkau rumah dan memiliki rumah, kita juga ikut membantu,” jelasnya.

Anis mengatakan pengembangan BIP merupakan bagian dari upaya SIG menghadirkan solusi di sektor konstruksi, termasuk untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap hunian.

“Visi dari SIG adalah bagaimana bersama-sama memberikan solusi kepada masyarakat Indonesia, sehingga masyarakat bisa menikmati rumah ke depan dengan lebih baik,” ujarnya.

Sebagai bagian dari SIG, Semen Tonasa turut mengambil peran dalam pengembangan BIP melalui penyediaan material semen untuk kebutuhan konstruksi di kawasan Indonesia Timur.

Produksi bata interlock tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan unit usaha beton. Semen Tonasa menjadi bagian dari rantai pasok material semen yang digunakan dalam pengembangan produk tersebut di Sulawesi Selatan.

“Kami dari Semen Tonasa yang merupakan bagian dari Semen Indonesia yang melayani Indonesia Timur. Bersama-sama unit usaha beton yang memproduksi ini, kami bagian memproduksi semennya di Sulawesi Selatan,” kata Anis.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas pemanfaatan metode konstruksi yang lebih efisien dengan memanfaatkan dukungan material dan ekosistem industri di daerah.

Penggunaan BIP juga diharapkan tidak berhenti pada satu proyek, tetapi dapat dikembangkan untuk kebutuhan perumahan yang lebih luas di Sulawesi Selatan maupun wilayah Indonesia Timur.

Direktur Utama PT Nusantara Land Development, Tri Wijaya, mengatakan rumah yang dikembangkan di Sunrise City Maros memadukan konsep pembangunan cepat dengan desain yang terinspirasi dari hunian bergaya Eropa.

“Model-modelnya mirip dengan rumah-rumah di Milano, rumah-rumah di Eropa yang sangat eksklusif. Ini yang kami coba hadirkan di sini. Sebuah kehormatan bagi kami karena menjadi rumah pertama di Sulawesi yang menghadirkan rumah dengan bahan bata interlock presisi SIG,” ujarnya.

Tri menjelaskan, Maros dipilih sebagai lokasi pengembangan karena memiliki akses yang relatif dekat dengan Makassar maupun Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Posisi Maros sebagai kawasan penyangga Makassar juga menjadi pertimbangan pengembang dalam memilih lokasi tersebut.

“Saya memilih di Maros karena ini salah satu perumahan kami yang paling dekat dari Makassar. Lokasinya juga dekat dari Bandara Sultan Hasanuddin dan Maros menjadi kota penopang Makassar,” katanya.

Dari sisi material, Tri menyebut penggunaan BIP menjadi bagian dari upaya menghadirkan alternatif konstruksi dengan kualitas yang baik sekaligus tetap mempertimbangkan keterjangkauan harga.

“Kami menghadirkan bahan yang berbeda dengan kualitas yang bagus tetapi dengan harga yang lebih murah,” ujarnya.

Penggunaan Bata Interlock Presisi juga tidak hanya diarahkan untuk segmen komersial. Tri mengungkapkan pihaknya tengah mempertimbangkan penerapan teknologi tersebut pada pembangunan rumah subsidi di proyek berikutnya.

Menurutnya, rencana tersebut masih dalam tahap perancangan dan akan dikaji lebih lanjut sebelum diterapkan pada kawasan perumahan lainnya.

“Ke depan kami akan coba memikirkan dan membuat satu kompleks perumahan kami di lokasi lain yang bisa menerapkan ini untuk rumah subsidi. Sementara kami rancang, semoga ke depannya bisa seperti itu,” katanya.

Peresmian rumah BIP di Sunrise City Maros turut dihadiri Owner dan Direktur Utama PT Nusantara Land Development Tri Wijaya, Owner Bumi Tirta Nusantara Grup sekaligus Senior Kehormatan REI Sulawesi Selatan Opa Aras, Owner PT Bumi Pundi Karsa H. Badris, Senior Manager of Derivative & Non-Semen Sales Project SIG Adi Akmal, Senior Manager Communication & Secretariat PT Semen Tonasa Hardiman, Abdul Fatah dari PT Varia Usaha Beton, serta Kepala Desa Tellumpoccoe H. Danil.