JURNALNEWS.CO.ID – Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam menunjang kesuksesan dalam kehidupan. Maju dan mundurnya suatu bangsa dapat dilihat dari seberapa sukses terlaksananya sistem pendidikan tersebut. Dalam proses pendidikan dibutuhkan proses yang dinamis dan berkelanjutan. Mengingat tujuan pendidikan Islam bukanlah merupakan sesuatu yang statis, melainkan harus berkembang dinamis sesuai dengan situasi dan kondisi peserta didik dan perkembangan zaman.

Perkembangan ajaran agama Islam di Indonesia tidak terlepas dari peran pendidikan yang telah menjadi basis dan gerakan paling mendasar bagi umat Islam itu sendiri.

Konsep pendidikan Islam telah lama dikembangkan oleh para ulama dan tabi’in. Konsep pendidikan Islam pada masa inilah telah berkembang pada bentuknya yang paling ideal dan secara setahap demi setahap memberikan eksistensi peradaban Islam.

Melalui perkembangan konsep pendidikan inilah melahirkan ulama-ulama yang melahirkan gagasan dan pemikiran yang produktif, salah satunya Imam Abu Hamis Al-Ghozali. Beliau telah melahirkan beberapa adikarkya yang penting bagi peradaban Islam dan dunia.

Mahakaryanya berupa kitab-kitab yang menjadi dasar bagi wali songo dakam menyebarkan dakwah di tanah Jawa. Dengan menerapkan pemikiran Al-Ghozali para Walisongo memberikan ajaran-ajaran kepada pendidik pribumi Nusantara dengan menyampaikan ajaran-ajaran pemikiran Imam Al-Ghozali (Nursaudah, 2020).

Walisongo berjasa dalam membangun mayarakat Islam khususnya di pulau Jawa. Kebudayan yang telah lama tumbuh dan mengakar di masyarakat Jawa, pada saat Islam datang tidak langsung ditentang dan dirubah.

Ajaran Islam dalam berhadapan budaya dengan sikap yang fleksibel.  Dengan berbagai strategi dan metode pendidikan Walisongo mampu mengenalkan Islam yang moderat di Nusantara dengan mengakulturasikan dengan budaya pribumi pada masa itu.

Bahkan tanpa dirasakan sebagai sesuatu yang asing oleh etnis Jawa. Sehingga Islam mudah diterima oleh pendiduk asli tanpa konflik dan shock culture. Ajaran Islam menerapkan daya fleksibilitas dalam menghadapi budaya lokal.

Meskipun tidak sesuai dengan niai-nilai ajaran Islam, Walisongo tidak mengganti tatanan tertentu dan baku yang ada di masyarakat dengan serta merta. Akan tetapi melakukan pendekatan dengan menguabah sedikit demi sedikit dan mengembangkan sesuai dengan ajaran Islam (Suhermanto, 2008). 

Metode pendidikan yang dilakukan Walisongo terinspirasi oleh metode yang dilakukan oleh Rasullah SAW. Prinsip yang dilakukan adalah pendidikan yang kreatif dan inovatif.

Kreativitas inilah menjadi sesuatu yang penting dalam mencapai sebuah tujuan. Prinsip ini dilakukan dengan cara memahami dengan baik kontruk sosial budaya.

Walisongo mendesain model pembelajaran yang menyenangkan salah satunya melalui tembang-tembang cilik, antara lain: tembang macapat, lagu-lagu pujian keagamaan, lagu dolanan, dan bentuk permainan anak-anak.

Kreativitas dakwah dan pendidikan kemanusian walisongo terlihat jelas dari berbagai upaya yang dilakukan agar nilai-nilai Islam dapat diajarkan dengan menyenangkan sehingga dapat diterima dengan baik oleh masyarakat secara luas. Dengan kreativitas,

Walisongo memainkan lagu-lagu dan permainan di sekitar masjid sehingga mendekatkan anak-anak dan remaja pada kegitan masjid (Fadli & Susanto, 2017).

Memasukkan unsur Islami dalam hiburan rakyat yang menyenangkan, tanpa terasa dapat menginspirasi masyarakat dalam menjalani kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dari buah kretivitas inilah terciptanya metode pembelaran yang efektif dan menyenangkan. 

Bukti kesuksesan Walisongo dalam islamisasi secara damai dan rekonsiliasinya dengan nilai dan tradisi lokal adalah melalui pendidikan pesantren. Bentuk pesantren ini mengadopsi bentuk lembaga atau sistem pendidikan lokal yang berciri hindu dan budha, seperti: biara, asrama dan padepokan yang dipakai oleh pendeta dan bhiksu dalam kegiatan belajar mengajar.

Dengan sistem pendidikan seperti ini proses islamisasi lebih cepat karena masyarakat lokal tidak asing dengan lembaga tersebut. Hingga bertransformasi menjadi lembaga pendidikan Islam yang disebut dengan pondok pesantren (Kamal, 2018).

Bahkan eksistensi keberadaan pondok pesantren dewasa ini mampu bertransformasi secara progresif dalam memajukan sistem pendidikan. 

Dewasa ini ilmu pengetahuan semakin berkembang, tekhnologi semakin canggih, dan kehidupan manusia semakin modern. Mengingat perkembangan era digitalisasi tidak semua berdampak positif bagi generasi muda, maka tidak cukup hanya bermodal keilmuan pengetahuan umum saja.

Generasi muda perlu memiliki bekal keimanan, pendidikan agama dan pendidikan karakter.  Pondok pesantren selain mengajarkan ilmu agama, dianggap mampu mengembangkan pendidikan karakter secara lebih maksimal.

Hal ini dikarenakan penanaman nilai-nilai yang dikaji dalam kitab lalu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kebiasaan ini terbentuk secara alamiah tanpa paksaan.

Keberhasilan pesantren dalam membentuk karakter inilah dewasa ini ditiru menjadi pendidikan berasrama atau boarding school (Hamruni & W, 2016). Dengan dunia yang nyaris tanpa batas, digitalisasi ini berimbas pada masuknya budaya asing dengan mudah.

Masyarakat Indonesia pun dewasa ini menerima dampak yang sangat besar dari perkembangan tekhnologi dalam aspek kebudayaan. Kemajuan tekhnologi memberikan kemudahan sekaligus tantangan para da’I dalam berdakwah.

Strategi dakwah Walisongo masih bisa diterapkan di masa serba digitalisasi saat ini. Salah satu contohnya dengan membuat syair-syair yang mengandung nilai-nilai keislaman, baik sejarah Islam, hukum-hukum Islam, dan kata mutiara (Kifayah & Niamah, 2021). 

Sebagai generasi muda harus memiliki kesadaran diri untuk menambah wawasan keilmuan yang lebih luas, baik ilmu pengetahuan umum maupun ilmu agama. Selain itu generasi muda harus mampu menguasai dan mengelola kreativitas dalam pemanfaatan tekhnologi. Kecanggihan teknologi dewasa ini memberikan kemudahan umat islam dalam menyiarkan agama Islam.

Meski demikian, tentu saja ada tantangan yang tidak dapat dihindari dan harus dihadapi. Generasi muda dapat berdakwah melalui media sosial dengan menggunakan strategi dakwah Walisongo, seperti melalui syair-syair bernuansa islami dan mempublish quotes islami. Hal ini tentu saja akan memberikan pengaruh yang baik kepada masyarakat yang lebih luas.