MAKASSAR, JURNALNEWS.CO.ID — Pemerintah Kota Makassar mulai membenahi kawasan pedestrian di Jalan Kajaolalido dan Jalan MH Thamrin. Proyek yang dikerjakan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar ini diarahkan menjadi bagian dari pengembangan jalur pejalan kaki yang lebih terintegrasi di kawasan pusat kota.
Revitalisasi tidak sebatas memperbaiki tampilan trotoar. Penataan juga mencakup utilitas, vegetasi, drainase permukaan, hingga fasilitas pedestrian yang dirancang lebih aman dan nyaman, termasuk bagi penyandang disabilitas.
Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas PU Kota Makassar, Muhammad Amin, mengatakan terdapat dua ruas pedestrian yang masuk dalam pekerjaan revitalisasi tahun 2026.
Total panjang pedestrian yang ditangani mencapai sekitar 652,9 meter, dengan rincian Jalan Kajaolalido sepanjang 427,9 meter dan Jalan MH Thamrin sekitar 225 meter.
“Yang kami revitalisasi tahun ini ada dua ruas jalan, yaitu Jalan Kajaolalido dan Jalan MH Thamrin. Panjang pekerjaan di Kajaolalido sekitar 427,9 meter, sedangkan di MH Thamrin sekitar 225 meter,” ujar Amin, kepada awak media, Jumat (25/9/2026).
Menurut Amin, penataan tersebut merupakan bagian dari langkah Pemkot Makassar memperkuat konektivitas kawasan perkotaan. Pedestrian diharapkan kembali berfungsi sebagai ruang publik yang nyaman sekaligus mendukung mobilitas masyarakat.
Konsep yang diterapkan juga mempertimbangkan keterhubungan pedestrian dengan transportasi publik. Dengan demikian, masyarakat dapat berjalan kaki dengan akses yang lebih baik dari satu titik ke titik lainnya.
Aspek inklusivitas turut menjadi perhatian. Jalur pedestrian dirancang agar dapat dimanfaatkan secara lebih aman oleh kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas.
Dari sisi konstruksi, revitalisasi tahun ini memiliki sejumlah pendekatan yang berbeda dibandingkan pekerjaan pedestrian sebelumnya.
Salah satunya adalah penggunaan stamp concrete dan porous concrete atau beton berpori.
Beton berpori digunakan dengan pertimbangan kemampuan material tersebut dalam membantu mempercepat penyerapan air ke dalam tanah. Konsep ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mengelola air hujan pada kawasan pedestrian.
“Yang berbeda dari pekerjaan sebelumnya, kami mencoba menggunakan stamp concrete dan beton berpori,” tuturnya.
“Ketika disiram air, air dapat langsung terserap. Ini menjadi salah satu konsep teknis yang kami terapkan tahun ini,” sambung Amin.
Penerapan material tersebut menunjukkan bahwa desain pedestrian tidak hanya mempertimbangkan fungsi sebagai jalur mobilitas pejalan kaki. Faktor lingkungan dan pengelolaan air di kawasan perkotaan juga ikut diperhitungkan.
Selain pekerjaan fisik pedestrian, Dinas PU melakukan penataan berbagai utilitas yang selama ini berada di sepanjang kedua ruas jalan.
Hasil inventarisasi menunjukkan terdapat sejumlah aset eksisting yang perlu ditata agar tidak mengganggu fungsi pedestrian sekaligus meningkatkan kerapian kawasan.
“Aset tersebut terdiri dari 8 tiang listrik eksisting, 2 tiang trafo PLN, 10 tiang PJU, serta 62 tiang fiber optik,” ungkapnya.
Penataan paling signifikan dilakukan terhadap tiang fiber optik. Pemkot Makassar bersama pihak terkait telah berkoordinasi agar jaringan dari berbagai penyedia dapat diintegrasikan melalui konsep tiang bersama.
Dari 62 tiang fiber optik yang saat ini terdapat di lokasi, jumlahnya direncanakan ditata menjadi 17 tiang induk atau tiang bersama.
“Untuk fiber optik ada 62 tiang. Kami sudah merapatkan agar nantinya seluruh jaringan fiber optik dapat menggunakan satu tiang bersama. Dari 62 tiang itu akan ditata menjadi 17 tiang,” beber Amin.
Konsep tersebut memungkinkan sejumlah operator menggunakan satu tiang secara bersama, sehingga keberadaan tiang yang berdiri sendiri-sendiri dapat dikurangi.
“Jadi nanti satu tiang digunakan bersama oleh seluruh penyedia fiber optik. Mereka tidak lagi menggunakan tiang masing-masing,” tambahnya.
Penataan utilitas diharapkan memberikan ruang pedestrian yang lebih optimal sekaligus memperbaiki estetika kawasan.
Revitalisasi juga menyentuh penataan vegetasi di sepanjang area pekerjaan.
Berdasarkan inventarisasi dan kajian teknis di lapangan, sejumlah pohon perlu mendapatkan penanganan karena berada pada area konstruksi dan dinilai berpotensi memengaruhi desain maupun pelaksanaan pekerjaan.
Untuk tahap awal, terdapat sekitar 80 pohon ketapang, sembilan pohon mahoni berukuran besar, serta dua pohon kecil yang masuk dalam penanganan.
“Untuk penebangan pohon itu untuk pertama kisaran 80 pohon. Kemudian ada pohon mahoni besar sembilan pohon dan pohon kecil ada dua,” jelas Amin.
Menurut dia, penanganan vegetasi merupakan bagian dari penataan kawasan secara menyeluruh agar pembangunan pedestrian dapat mengikuti desain teknis yang telah ditetapkan.
Di sisi lain, penataan vegetasi diarahkan tetap memperhatikan keberlanjutan ruang terbuka hijau. Pemkot Makassar menyiapkan penggantian dengan jenis pohon yang dinilai lebih sesuai dengan karakter dan kondisi kawasan perkotaan.
“Dengan langkah ini, revitalisasi pedestrian tidak hanya menghasilkan jalur pejalan kaki yang lebih representatif, tetapi juga diharapkan memperkuat fungsi ekologis kawasan melalui penataan vegetasi yang lebih terencana,” tegasnya.
Amin menambahkan, Jalan Kajaolalido dan Jalan MH Thamrin ditempatkan sebagai bagian dari konsep pengembangan pedestrian terintegrasi di pusat Kota Makassar.
Pengembangannya mencakup konektivitas jalur pejalan kaki, akses menuju transportasi publik, penataan utilitas, ruang hijau, serta fasilitas yang dapat digunakan secara lebih inklusif.
Pengembangan serupa juga direncanakan dilakukan secara bertahap di sejumlah lokasi lain dengan mempertimbangkan kebutuhan serta tingkat aktivitas pejalan kaki.
“Kami berharap penataan dua ruas tersebut dapat menjadi salah satu model awal dalam pengembangan pedestrian yang lebih terintegrasi di kawasan pusat Kota Makassar,” harapnya.
Dalam pelaksanaannya, Dinas PU melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pengelola utilitas dan tim teknis. Langkah tersebut dilakukan untuk menyelesaikan berbagai persoalan teknis yang ditemukan selama pekerjaan berlangsung.
“Kami sudah turun dan melihat bersama tim, Dinas PU dan tim ahli lainnya. Ada beberapa yang perlu digeser, termasuk tiang trafo, PJU, tiang listrik dan fiber optik,” tutup Amin. (*)

Tinggalkan Balasan