JURNALNEWS.CO.ID – Mahasiswa dan mahasiswi tentunya sudah tidak asing lagi ketika mendengar kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Kegiatan PKL ini biasanya bertujuan untuk meningkatkan wawasan pengetahuan, pengalaman, serta kemampuan dan keterampilan mahasiswa untuk dapat diaplikasikan kedepannya.

Hal itu juga lah yang dilakukan oleh Siti Nurhaliza Lubis, salah satu mahasiswi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP di Universitas Sumatera Utara yang menjalankan kegiatan Praktikum Kerja Lapangan II di Kantor Kepala Desa Tanjung Gusta dengan rentang waktu dari September 2021 sampai Desember 2021.

Kegiatan praktikum ini dimbimbing oleh Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos, M. Kesos sebagai dosen mata kuliah Praktikum II, serta Bapak Husni Tamrin, S.Sos, MSP selaku supervisor sekolah. 

Banyak kegiatan yang dilakukan oleh Liza selama berada di Kantor Kepala Desa Tanjung Gusta yang berlokasikan di jalan Inpres ini. Salah satu kegiatan yang sering dilakukan ialah mengisi data penduduk Tanjung Gusta dari berbagai dusun ke dalam website SDGS (Sustainable Development Goals), mau itu memasukkan data baru ataupun memperbarui data yang sudah tertera.

Bisa dibilang SDGS ini berguna sebagai proses perbaikan dan pendalaman data-data. Selain itu, Liza juga mengikuti berbagai kegiatan di luar kantor desa seperti observasi lapangan dan kegiatan posyandu yang rutin dilakukan selama beberapa kali dalam sebulan. 

Kegiatan di kantor desa tidak hanya itu saja, namun juga ada kegiatan yang dilakukan melibatkan banyak masyarakat Tanjung Gusta seperti kegiatan vaksin dosis 1 (yang diikuti kegiatan vaksin dosis 2 beberapa hari kemudian), pembentukan karang taruna, rapat BKAG (Badan Kepengurusan Antar Gereja), rapat BKM (Badan Kemakmuran Masjid), pelatihan tali kur oleh para ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga), dan program BLT (Bantuan Langsung Tunai).

Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan di aula atau tepatnya di lantai 2 Kantor Kepala Desa Tanjung Gusta. Selama kegiatan-kegiatan ini berlangsung, Liza juga ikut berpartisipasi dengan cara memerhatikan, membantu, dan mendokumentasi kegiatan-kegiatan tersebut.

Ketika menjalani proses tersebut, Liza didampingi dan diarahkan oleh staf-staf di Kantor Kepala Desa Tanjung Gusta. Setelah itu, Liza juga membuat sebuah mini project yang juga menjadi salah satu penialaian dalam kegiatan Praktik Kerja Lapangan II ini.

Di awal mini project, Liza memerhatikan kehidupan beberapa anak di sekitar Kantor Kepala Desa Tanjung Gusta dan tertarik untuk mengangkat sebuah kegiatan yang dapat mengedukasi anak-anak tersebut agar menjaga kebersihan ketika memakan cemilan terutama di masa pandemi.

Liza ingin menimbulkan rasa kesadaran pada anak-anak pentingnya membangun pola hidup bersih seperti mencuci tangan atau memakai hand sanitizer sebelum menyentuh makanan.

Untuk membantu proses pemecahan masalah yang dihadapi klien, Liza menggunakan metode group work dari Zastrow. Menurut Zastrow, proses group work dapat dilalui dengan tahapan-tahapan seperti : intake, assesmen dan intervensi, penyeleksian kelompok, pengembangan kelompok, evaluasi dan terminasi. 

1. Intake

Tahap ini adalah tahap awal dar proses pemecahan masalah klien dengan perkenalan dan mengetahui permasalahan dari pengakuan klien atau hasil penelusuran situasi. Di tahap ini Liza juga melakukan pendekatan dengan anak-anak dan meminta persetujuan mereka untuk ke tahap selanjutnya.

2. Assesmen dan Intervensi

Pada tahap ini Liza akan menelaah lebih lanjut permasalahan yang dihadapi klien dan mengidentifikasinya.

Ketika Liza mengajak ngobrol beberapa anak tersebut dengan menyediakan beberapa cemilan dan wadah cuci tangan serta hand sanitizer, mereka langsung membuka bungkus cemilan dan memakan makanan tanpa memerhatikan tangan mereka kotor atau tidak.

Disini Liza menggunakan Mobility Maps untuk mengetahui asal muasal kebiasaan mereka tidak menjaga kebersihan ketika hendak memulai makan.

Apakah dari keluarga yang kurang memerhatikan dan memberi contoh, atau pengaruh dari teman sepermainan sehingga mereka mengikuti kebiasaan tersebut.

Hingga akhirnya dapat disimpulkan kebiasaan mereka tidak mencuci tangan ketika makan cemilan walaupun disediakan air bersih karena pengaruh rasa malas dari diri sendiri dan mengikuti teman.

Dimana mereka ketika habis bermain merasa malas untuk mencuci tangan dan melihat teman sepermainan mereka juga tidak menerapkan pola kebersihan seperti cuci tangan sebelum makan cemilan.

3. Penyeleksian kelompok

Dalam penyeleksian kelompok, Liza mengklasifikasikan anak-anak berdasarkan jenis kelamin.

Karena diantara anak-anak yang sedang dibantu pemecahan masalahnya, anak laki-lakilah yang masih kurang tanggap dalam menerapkan kebersihan.

Namun, Liza juga memasukkan seorang anak perempuan yang akan berkontribusi untuk membantu Liza dalam mengingatkan anak laki-laki dmengenai kebersihan dan cuci tangan.

4. Pengembangan kelompok

Pada tahap ini, Liza yang sudah tau alasan dan pengaruh dari permasalahan tersebut, akan memberikan pengertian dan berusahan menjelaskan sisi positif dari menjaga pola hidup sehat dengan mencuci tangan.

Liza juga menggunakan ‘teori belajar’ dari Dollard & Miller untuk merubah rasa malas anak-anak.

Teori belajar ini maksudnya memberikan stimulus (rangsangan) agar terbentuk respon sehingga anak-anak tersebut mempunyai dorongan untuk berperilaku hidup sehat, dan mendapatkan reward jika berhasil merubah sikap malas tersebut.

Melalui teori ini, Liza mulai mengedukasi mereka melalui video-video menarik mengenai cara cuci tangan yang baik dan benar, menjelaskan keuntungan menuci tangan sebelum makan cemilan, memberi tahu efek negatif ketika makan cemilan dalam keadaan tangan yang kotor, dan memperlihatkan beberapa berita bahwa tangan yang sering memegang dan terpapar sesuatu akan lebih meningkatkan resiko terkena kuman penyakit. 

5. Evaluasi dan Terminasi

Di tahap terakhir ini, Liza akan memonitoring kegiatan sebelumnya apakah mereka mengerti dengan apa yang sudah mereka pahami mengenai keuntungan menjaga pola sehat mencuci tangan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Liza beberapa kali mengajak mereka bermain bersama dan menyediakan cemilan seperti awal, dan mereka secara bertahap dengan keasaran diri sendiri mencuci tangan atau memakai hand sanitizer sebelum ngemil.

Selaiin itu, Liza juga meminta bantuan seorang anak perempuan untuk memonitoring anak lainnya apakah mereka mengaplikasikannya ketika Liza tidak ada. Walaupun tidak dalam waktu yang dekat, namun anak-anak mulai terbiasa mencuci tangan sebelum ngemil.

Setelah proses pemantauan yang berhasil, maka Liza memutuskan kontrak dengan anak-anak tersebut karena dapat menghalau rasa malas cuci tangan dan mengingatkan satu sama lain.

Karena tujuan dari pemecahan masalah ini sudah tercapai, Liza juga memberikan reward atau hadiah pada mereka. Pada akhir kegiatan PKL II yang telah dijalankan,

Liza mengungkapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada setiap orang yang menerima dan membantu Liza sehingga kegiatan PKL II ini berjalan lancar.

Liza mengucapkan terima kasih pada Kepala Desa Tanjung Gusta, yaitu Pak Kawibowo, serta jajaran staf-staf lainnya yang ikut andil memberikan arahan dan bimbingan yang sangat berarti.

Liza juga mengucapkan terima kasih kepada anak-anak sekitaran Kantor Desa Tanjung Gusta yang ikut serta membantu mini project dengan tulus.

Dari kegiatan PKL II ini Liza dapat belajar mengenai banyak hal yang bermanfaat dan pastinya akan berguna untuk masa-masa yang akan datang.