oleh: Theresia Rachelita Devia Irani

JURNALNEWS.CO.ID – Ketika kita mendengar kata “kota”, biasanya dalam pikiran kita akan muncul suatu penggambaran yang identik dengan “tempat modern”, “pusat kegiatan”, “maju” dan sebagainya. Kota sendiri dapat dilihat sebagai suatu pusat kegiatan masyarakat, dimana kota tersebut memiliki berbagai fungsi dan karakteristik yang menunjang kehidupan masyarakat di dalamnya, seperti sebagai pusat kegiatan ekonomi, sosial budaya, politik pemerintahan, dan juga lebih besarnya lagi sebagai pusat peradaban.

Di Indonesia sendiri, suatu kota dapat memiliki berbagai fungsi atau dapat dikatakan multifungsi, selain itu juga satu kota dapat menyokong berbagai kegiatan di luar kota itu sendiri juga. Walaupun memiliki fungsi lebih dari satu, biasanya setiap kota tetap memiliki suatu karakteristik fungsi yang paling menonjol, seperti contohnya Kota Yogyakarta yang paling terkenal sebagai pusat pendidikan, walaupun didalamnya pasti kota ini memiliki berbagai fungsi lain. 

Terkait dengan fungsi kota yang telah dijelaskan diatas, seperti yang sering kita temukan bahwa di suatu kota entah kota kecil maupun besar pasti kita akan menemukan pusat perbelanjaan atau pasar, pusat pemerintahan atau biasanya kantor-kantor pemerintah, dan berbagai pusat pendukung lain seperti alun-alun, tempat ibadah, maupun tempat rekreasi. Sebagai pusat kegitan ekonomi sendiri, menurut Max Weber, kota merupakan suatu tempat dimana penghuninya dapat memenuhi hampir semua kebutuhan di pasar yang berada pada kota tersebut (Murdani, 2020) .

Kota menjadi penyokong rantai perekonomian masyarakatnya apabila terdapat kegiatan produksi, distribusi dan juga konsumsi. Fasilitas perekonomian dan bisnisnya pun juga pastinya mendukung, seperti adanya pusat-pusat perbelanjaan yang cukup maju, pusat-pusat bisnis, maupun pusat-pusat produksi seperti pabrik atau industri. Fasilitas-fasilitas tersebut tentunya akan dapat berjalan apabila kota tersebut memiliki sumber daya yang mendukung. Sumber daya penyokong ini sendiri dapat bersumber dari kota itu sendiri maupun dari daerah lain disekitar kota tersebut, apabila sumber daya tersebut berasal dari luar kota itu, maka akses pendistribusian yang ada juga harus mendukung. Dari sinilah kota dapat berfungsi baik dalam rantai kegiatan ekonomi.

Selain itu, terkait fungsinya dalam rantai perekonomian masyarakatnya, kota pastinya juga memiliki lapangan-lapangan pekerjaan atau tempat-tempat penarik tenaga kerja, dimana dari sini kebutuhan ekonomi masyarakat dapat terpenuhi khusunya dalam hal mencari nafkah. Selain itu, fungsi ekonomi ini juga terkait dengan fungsi organisasi kekuasaan, dimana di suatu kota pastinya akan muncul tokoh-tokoh yang akan memiliki kekuasaan lebih tinggi dari masyarakat umum lainnya. Biasanya tokoh-tokoh ini akan disebut sebagai pemerintah, dimana tugasnya adalah memerintah, membuat kebijakan dan menjadi eksekutor langsung dalam pembangunan kota dan masyarakat. Kota tanpa pemerintahan pastinya akan sulit, dimana tidak ada yang secara pasti mengurus dan mengatur berbagai kegiatan masyarakatnya. Kota disisni berarti berfungsi sebagai tempat dimana organisasi-organisasi yang berkuasa seperti pemerintah dan ormas-ormas lainnya muncul dan berkembang.

Ketika organisasi yang berkuasa ini mampu menjalankan fungsinya secara baik, maka biasanya kota akan semakin lebih maju dan perkembangannya lebih pesat, atau ketika kita melihat suatu kondisi kota yang maju dan kehidupan masyarakatnya terjamin, maka hal ini dapat kita nilai juga berarti organisasi yang berkuasa tersebut memiliki kinerja yang baik.

Dari sini juga kota dapat dilihat sebagai suatu tempat dimana peradaban suatu bangsa terbentuk dari aktivitas-aktivitas yang ada diberbagai aspek. Menurut Prof Dr. Koentjaraningrat, peradaban ialah bagian-bagian yang halus dan juga indah layaknya seni. Masyarakat yang telah maju didalam kebudayaan tersebut berarti mempunyai peradaban yang tinggi (Setiawan, 2020). Dengan begitu kota merupakan pusat dimana peradaban bangsa yang dimaksud ini berkembang, dimana masyarakat terus mengembangkan kehidupannya dan hasilnya akan terlihat dari kondisi-kondisi yang ada di kota tersebut. Karena pada dasarnya, suatu kota akan selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan aktivitas sosial budaya, ekonomi, dan politik yang melatarbelakangi nya (Lestari & Rijanta, 2018:2).

Contoh studi kasus yang dapat kita lihat dalam salah satu tulisan dari Tiara Ayu Lestari  dan R. Rijanta yang berjudul Kajian Fungsi dan Peran Kota Wates Sebagai Pusat Pelayanan Sosial dan Ekonomi Terhadap Wilayah Hinterland. Kota Wates sendiri merupakan salah satu kota kecil yang ada di Provinsi Yogyakarta sekaligus ibu kota dari Kabupaten Kulon Progo.

Peneliti dalam hal ini ingin melihat bagaimana peran Kota Wates yang saat itu dikatakan telah mengalami perkembangan yang signifikan dalam pertumbuhan ekonominya. Kota Wates disini sendiri dikatakan telah memiliki fasilitas yang cukup menunjang untuk berbagai kegiatan ekonomi, sosial budaya, politik pemerintahan, kesehatan dan lainnya. Fasilitas yang ada seperti pusat-pusat perekonomian, pemerintahan, dan pusat dari berbagai kegiatan masyarakat ternayta telah dapat difungsikan dan dikembangkan dengan cukup baik. Seperti yang disimpulkan penulis ,

“Fungsi pelayanan Kota Wates tersebut terdiri atas 3 skala pelayanan, yaitu skala pelayanan lokal, regional, dan supraregional. Keberadaan skala pelayanan supraregional yang berupa perguruan tinggi kian memperkuat fungsi Kota Wates sebagai ibukota Kabupaten Kulon Progo. Ketersediaan fasilitas pelayanan di Kota Wates yang terdiri dari fasilitas pendidikan, kesehatan, peribadatan, perekonomian, transportasi, olahraga dan rekreasi, secara umum telah memenuhi standar kebutuhan penduduk berdasarkan kriteria jumlah penduduk minimal (penduduk ambang) yang dapat memanfaatkan fasilitas tersebut. Fasilitas yang paling efektif dimanfaatkan oleh penduduk Kota Wates dan wilayah hinterland bahkan menjangkau hampir seluruh desa di Kabupaten Kulon Progo adalah fasilitas kesehatan rumah sakit dan fasilitas pendidikan SMA. Pemanfaatan fasilitas ekonomi pasar di Kota Wates juga dimanfaatkan oleh penduduk wilayah hinterland utamanya untuk memenuhi kebutuhan barang orde tinggi. Peningkatan jumlah dan kualitas fasilitas pelayanan mampu merperkuat peran Kota Wates sebagai pusat pelayanan bagi Kabupaten Kulon Progo” (Lestari & Rijanta, 2018:9).

Maka dari apa yang telah dibahas penulis, fasilitas yang tersedia ini menunjuang fungsi kota sebagaimana mestinya seperti yang telah dijelaskan diatas mengenai pusat ekonomi, organisasasi kekuasaan maupu peradaban, bahkan Kota Wates disini juga telah menjadi kota yang mampu menyokong daerah-daerah lain disekitarnya lewat fasilitas-fasilitas dalam berbagai bidang yang mereka miliki.

Salah satu contoh Kota Magelang sebagai salah satu kota kecil yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Posisi tersebut menjadikan daya tarik geografis alami Kota Magelang karena berada pada persilangan simpul ekonomi, transportasi dan pariwisata antara wilayah Semarang-Magelang-Yogyakarta dan Purworejo-Temanggung. Posisi strategis ini didukung dengan penetapan Kota Magelang sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) kawasan PURWOMANGGUNG (Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo, Kota Magelang, Kabupaten Magelang dan Kabupaten Temanggung) dalam Rencana Tata Ruang Nasional dan Rencana Tata Ruang Provinsi Jawa Tengah (magelangkota.go.id, 2018)

Walau masuk dalam salah satu kota kecil yang ada di Indonesia dengan luas 18,12 km persegi, Kota Magelang sendiri telah kompeten melaksanakan pembangunan daerah mereka secara signifikan. Khususnya dalam bidang pariwisata yang menyangkut monument-monumen atau  maupun penataan kota .Dalam bidang pariwisata pun, Magelang tak kalah juara. Siapa yang tidak mengenal Candi Borobudur, candi ini sendiri sering dikira terletak di DIY Yogyakarta, padahal nyatanya candi ini letaknya di Kabupaten Magelang dan dikelola langsung oleh pemerintah daerahnya. Tak hanya Candi Borobudur yang menjadi ikon pariwisata sebenarnya, ada Wisata Gunung Merapi, Merbabu, Cagar Budaya, dan lainnya, terutama wisata-wisata alam karena Magelang berada dan dikelilingi oleh kondisi alam yang cukup indah. 

Jumlah Obyek Wisata di Kota Magelang, 2019
Kecamatan Taman Rekreasi Museum Lainnya Jumlah
Magelang Selatan – 1 2 3
Magelang Tengah 1 4 2 7
Magelang Utara – 1 – 1
Kota Magelang 1 6 5 12
Sumber : Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kota Magelang

Dengan pengelolaan daerah terutama pada bidang-bidang pariwisata yang baik dan menarik, wisatawan pun pastinya banyak berdatangan. Pengelolaan yang baik tentunya harus diatur pula oleh organisasi-organisasi yang memegang modal dan kuasa seperti pemerintah dan juga badan-badan terkait. Dimana dengan eksistensi pemerintah yang memumpuni ini, pengelolaan pariwisata pun dapat semakin baik, seperti yang ada di Kota Magelang ini.

Perekonomian berbasis pariwisata ini sendiri merupakan salah satu modal bagi kemajuan Kota Magelang sendiri selain bidang pertanian dan perkebunan, dimana masyarakat menjadi banyak yang menggantungkan hidupnya dalam bidang pariwisata. Penyediaan fasilitas yang baik tentunya sangat membantu menarik wisatawan yang datang. Hal ini sendiri merupakan salah satu langkah juga bagi pemerintah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat melalui bidang pariwisata. Masyarakat menjadi banyak yang berjualan, membangun penginapan, dan sebagainya untuk mencari nafkah demi menunjang kehidupan mereka. Tak hanya itu, lewat pariwisata-pariwisata yang ada, masyarakat juga dapat semakin meningkatkan ekonomi sembari mengenalkan kebudayaan mereka melalui berbagai hal, seperti pembangunan hotel-hotel dengan nuanasa Jawa, rumah makan dengan menu-menu hidangan khas Jawa, penjualan souvenir khas Kota Magelang.

Seperti tingginya wisatawan yang datang ke Candi Borobudur, menurut Badan Pusat Statistik Kota Magelang,

Bulan Pengunjung Candi Borobudur
Domestik Mancanegara
2017 2018 2019 2017 2018 2019
Januari 400191 321893 341685 13463 11732 13402
Februari 197361 235303 247731 12785 14088 16869
Maret 261872 291425 262877 14701 15292 16949
April 325315 323325 357108 16078 14555 17693
Mei 339867 237315 111921 16722 13265 15325
Juni 272389 440194 565032 11529 9031 14332
Juli 359235 291732 330191 29879 27470 34347
Agustus 164358 176248 186159 35400 30166 39300
September 175155 198782 169998 24292 20943 27163
Oktober 206957 204249 236847 20506 14280 21290
November 202795 250412 274059 13982 10811 14665
Desember 645831 692176 664149 15136 10598 10747

https://magelangkab.bps.go.id/dynamictable/2018/11/14/195/jumlah-pengunjung-candi-borobudur.html 

Jumlah wisatawan yang cukup besar inilah, pastinya menandakan bahwa pengelolaan pariwisata Kota Magelang sudah cukup baik dan maju dari sisi pemerintah maupun masyarakatnya. Dengan begitu perekonomian masyarakatpun juga pasti semakin ditunjang. Ketika perekonomian masyarakatnya baik, maka kota tersebut tentunya akan maju pula. Perekonomian dan kemajuan suatau kota adalah suatu kesinambungan, dimana mereka saling bergantung dan memfungsikan satu sama lain. 

 

Sumber: 

Murdani, A. D. (2020, 1 4). Kota: Pengertian, Ciri, Fungsi, Klasifikasi dan Potensi. Retrieved from portal-ilmu.com: https://www.portal-ilmu.com/2020/11/pengertian-kota.html

Setiawan, P. (2020, January 4th). Pengertian Peradaban dan Ciri-Ciri Peradaban Menurut Para Ahli. Retrieved from gurupendidikan.co.id: https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-peradaban/

Tiara Ayu Lestari, R. R. (2018). Kajian Fungsi dan Peran Kota Wates Sebagai Pusat Pelayanan Sosial dan. lib.geo.ugm.ac.id.

Badan Pusat Statistik Kota Magelang. 2018.  https://magelangkab.bps.go.id/dynamictable/2018/11/14/195/

Pemerintah Kota Magelang. 2018. http://www.magelangkota.go.id/direktori/content/23/kondisi-geografis-

Biodata penulis:

Penulis saat ini merupakan mahasiswa tingkat akhir pada jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia dan  aktif dalam kegiatan public speaking dan menulis.