Pangkep, JURNALNEWS.CO.ID – Solidaritas Masyarakat Nelayan Tangkap (SAMPANTA) melaksanakan aksi penanaman mangrove di Pulau Bangko-Bangkoang, Desa Mattiro Uleng, Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, selama dua hari, 4–5 Desember 2025.
Kegiatan ini melibatkan Pemerintah Desa Mattiro Uleng serta warga Pulau Bangko-Bangkoang, sebagai bagian dari dukungan terhadap program nasional pengendalian perubahan iklim melalui Dana Layanan Masyarakat BPDLH (Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup).
Dana tersebut digunakan untuk mendukung aksi nyata para pegiat lingkungan, baik individu maupun kelompok, dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, khususnya dalam pencapaian target Forest and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030. Pengelolaan dana dilakukan secara transparan dan akuntabel, serta disalurkan langsung ke masyarakat sebagai bagian dari komitmen iklim Indonesia.
Kepala Desa Mattiro Uleng, Lukman, menyambut baik kegiatan penanaman mangrove ini. Ia menegaskan bahwa wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil membutuhkan perhatian serius dalam menghadapi ancaman abrasi dan kerusakan lingkungan.
“Kami dari Pemerintah Desa Mattiro Uleng sangat mengapresiasi kegiatan penanaman mangrove yang dilakukan oleh SAMPANTA. Ini adalah langkah nyata melindungi pulau kami dari abrasi dan kerusakan ekosistem laut. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut dan semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap lingkungan,” ujar Lukman.
Menurutnya, keterlibatan warga dalam kegiatan ini menjadi bukti bahwa kesadaran menjaga lingkungan mulai tumbuh di tingkat akar rumput.
Ketua Umum SAMPANTA, Haniah, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari dukungan terhadap komitmen Indonesia dalam Paris Agreement untuk mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca atau Nationally Determined Contribution (NDC).
“Melalui program Dana Layanan Masyarakat BPDLH, SAMPANTA diberi kesempatan untuk turut serta mewujudkan komitmen Indonesia dalam pengendalian perubahan iklim. Penanaman mangrove ini bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi juga tentang menjaga masa depan pesisir dan pulau-pulau kecil,” kata Haniah.
Ia menambahkan bahwa Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup terus mendorong aksi-aksi kecil di lapangan, seperti sosialisasi lingkungan, penanaman pohon, aksi bersih lingkungan, serta penerapan energi terbarukan demi meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Kegiatan penanaman mangrove di Pulau Bangko-Bangkoang menjadi penutup agenda lingkungan SAMPANTA di tahun 2025. Haniah berharap, aksi ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi ekosistem pesisir dan kehidupan masyarakat setempat.
“Kami ingin meninggalkan jejak kebaikan di akhir tahun ini. Mangrove adalah benteng alami pulau dari abrasi dan bencana. Ini adalah investasi lingkungan untuk generasi mendatang,” tegasnya.
Sebagai penutup, Haniah menegaskan pesan kuat kepada seluruh masyarakat pesisir:
“Jaga lautmu atau lautmu hancur. Jaga pulaumu atau pulaumu akan tergerus abrasi.”

Tinggalkan Balasan