Oleh: Sudarto
Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar
Email: drsudartompd@gmail.com
Selama lima tahun terakhir, pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau Sains di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) mengalami dinamika yang menarik. Di tengah perubahan kebijakan pendidikan nasional dan tantangan geografis daerah kepulauan, guru-guru IPA di Pangkep perlahan mulai menemukan cara baru untuk membuat sains menjadi lebih hidup, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.
1. Pangkep: Alam Sebagai Laboratorium Belajar
Kabupaten Pangkep dikenal dengan kekayaan alamnya yang luar biasa—laut yang luas, gugusan pulau yang indah, tambak garam, tambak ikan dan udang, hingga kawasan pegunungan karst di Balocci dan Minasate’ne. Potensi ini menjadikan Pangkep sebagai “laboratorium alam” yang ideal bagi pembelajaran IPA.
Dalam lima tahun terakhir, semakin banyak sekolah yang mulai menjadikan alam sekitar sebagai sumber belajar. Guru-guru SD dan SMP mengajak siswa melakukan pengamatan langsung di pantai untuk memahami ekosistem laut, mempelajari proses pasang surut, atau meneliti kadar garam air laut. Di wilayah daratan, siswa mempelajari fotosintesis, daur air, dan pencemaran lingkungan melalui proyek-proyek sederhana berbasis lingkungan.
Kurikulum Merdeka yang mulai diterapkan sejak 2021 memberi ruang bagi pendekatan seperti ini. Guru lebih leluasa merancang proyek sains berbasis konteks lokal. Misalnya, proyek “Air Bersih untuk Sekolah Pulau”, atau “Menanam Mangrove untuk Masa Depan”, yang banyak dilakukan di sekolah-sekolah pesisir dan kepulauan.
2. Capaian dan Inovasi Pembelajaran
Dinas Pendidikan Kabupaten Pangkep mencatat bahwa sejak 2021 jumlah sekolah dasar dan menengah yang mengikuti Program Sekolah Penggerak dan Kampus Mengajar terus meningkat. Program ini berdampak langsung pada pembelajaran IPA.
Beberapa inovasi nyata yang muncul di lapangan antara lain:
(1) Proyek ilmiah berbasis ekosistem pesisir, di mana siswa meneliti biota laut, pasang surut, dan pencemaran air.
(2) Pemanfaatan bahan lokal sebagai alat peraga IPA, seperti botol bekas, pasir, dan garam laut untuk eksperimen sederhana.
(3) Pembelajaran kolaboratif dengan masyarakat nelayan dan petani tambak, sehingga anak belajar sains dari praktik nyata kehidupan sehari-hari.
Perubahan ini menunjukkan bahwa pembelajaran IPA di Pangkep tidak lagi bersifat teoritis, tetapi mulai berpijak pada realitas alam dan budaya lokal.
3. Masih ada Tantangan
Meskipun berbagai kemajuan terjadi, tantangan besar masih dihadapi terutama di wilayah kepulauan. Sekolah-sekolah di Liukang Tupabbiring, Liukang Tangaya, dan Liukang Kalmas masih menghadapi keterbatasan fasilitas laboratorium, alat peraga, serta akses internet.
Kondisi ini menyebabkan sebagian guru sulit menerapkan pembelajaran berbasis eksperimen dan digital. Pembelajaran IPA di beberapa sekolah masih dominan bersifat hafalan dan kurang menekankan aspek proses ilmiah.
Selain itu, minimnya pelatihan guru IPA berbasis praktik lapangan juga menjadi kendala. Banyak guru belum terbiasa memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar utama.
4. Upaya dan Harapan ke Depan
Lima tahun ke depan menjadi momentum penting bagi Pangkep untuk memperkuat fondasi pembelajaran IPA. Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan antara lain:
(1) Pelatihan guru berbasis alam dan proyek, agar guru mampu memanfaatkan konteks lokal sebagai media belajar.
(2) Penyediaan laboratorium mini berbasis bahan lokal di setiap gugus sekolah, terutama di wilayah pesisir dan pulau.
(3) Pemanfaatan teknologi sederhana, seperti video pembelajaran offline untuk sekolah yang belum memiliki jaringan internet.
(4) Kolaborasi dengan dunia usaha dan lembaga lingkungan, untuk mendukung kegiatan eksperimen dan proyek ilmiah siswa.
5. Penutup: Dari Laut dan Karst, Sains Itu Hidup
Pembelajaran IPA di Pangkep kini mulai bergerak ke arah yang lebih relevan dengan kehidupan masyarakatnya. Alam laut dan karst, yang dulunya hanya latar belakang kehidupan sehari-hari, kini berubah menjadi sumber inspirasi belajar yang menumbuhkan rasa ingin tahu dan kepedulian lingkungan.
Jika arah ini terus dijaga dan diperkuat, lima tahun ke depan Pangkep akan dikenal bukan hanya sebagai daerah kaya sumber daya alam, tetapi juga sebagai daerah yang melahirkan generasi muda ilmiah—anak-anak yang berpikir kritis, mencintai alam, dan mampu memecahkan persoalan nyata dengan ilmu pengetahuan.

Tinggalkan Balasan