JURNALNEWS.CO.ID – 22 mahasiswa Yogyakarta bekerjasama menyampaikan pesan dakwah yang dikemas melalui media audio visual berbentuk film pendek. “nDhulang” yang disutradari oleh Imadudin Ahmad, mahasiswa fakultas Dakwah dan Komunikasi sukses diproduksi pada 02 Oktober 2021. Mengangkat tema toleransi beragama, menjadikan film ini ramah ditonton semua kalangan dari berbagai agama.

Film pendek yang diadaptasi dari kisah nyata ini menceritakan tentang satu keluarga yang berbeda keyakinan. Sang ibu, yang diperankan oleh Nunung Rieta menganut agama Islam. Sedangkan Ayah, yang diperankan oleh Dyonsius menjadikan Kristen Katolik sebagai agama yang ia percaya.

Anak, yang dilakonkan oleh Cio Rachman, diberikan kebebasan untuk memilih agama yang dia yakini, tanpa paksaan dari pihak manapun. “Agama adalah hak mutlak setiap manusia, kita tidak boleh memaksa orang lain untuk meyakini apa yang kita yakini. Dan kita harus menghargai keberagaman yang ada”, jelas Rieta, lakon ibu dalam film pendek tersebut.

Rieta mengaku tidak mengalami kesulitan ketika shooting. Ia selalu mencintai perannya dalam film dan enjoy dengan karakter yang dibawakan. Perempuan yang aktif di bidang seni teater, seni peran dan juga sastra tersebut, membagikan secuil kisah pribadinya.

Toleransi beragama, bukan hal baru bagi dirinya. Dalam kehidupan nyata, keluarganya pun mengalami hal yang terjadi dalam film pendek tersebut. Ia dan suami memiliki keyakinan yang berbeda, begitu juga dengan keempat anaknya.

Namun, perbedaan agama tidak menjadi halangan untuk tetap harmonis. Produksi film pendek berjudul nDhulang menghabiskan waktu selama 11 jam dengan 3 lokasi shooting yang berbeda. Shooting dimulai pukul 8 pagi di Gereja Aloysius Gonzaga Katholik, Mlati.

Lokasi kedua adalah Masjid Muhajirin yang berlokasi di Pandowoharjo. Tepat setelah Dhuhur, lokasi shooting berpindah ke rumah penduduk yang dinding-dindingnya didekorasi oleh hal-hal berbau Kristen, seperti salib dan foto Tuhan.

Tak hanya skenario film nDhulang saja yang mengajarkan sikap toleransi, proses shootingnya pun mengajak seluruh crew untuk menerapkan sikap hormat terhadap agama lain.

Meskipun rumah tersebut adalah rumah seorang penganut Agama Kristen, crew yang beragama Islam tetap menjalankan sholat wajib di ruangan yang telah disterilkan dari benda berbau Kristen.

Dakwah yang disampaikan melalui film pendek, merupakan terobosan baru. Dari produksi hingga editing yang memakan waktu selama satu bulan ini, tentu saja tidak luput dari hambatan. “Kesulitan yang Saya alami sebagai script writer adalah bagaimana cara saya menyatukan elemen dan nilai yang ada dalam cerita tersebut kedalam bentuk visual. Saya menanganinya dengan cara berdiskusi kepada sutradara, produser dan crew lainnya”, ujar Mahasiswa Yogyakarta Azka El Faatih (21).

Harapan crew setelah penonton menonton film pendek ini adalah tumbuh kembalinya rasa saling menghargai perbedaan dalam beragama dan juga menghormati keputusan orang lain.