Makassar, JURNALNEWS.CO.ID – Tim Penggerak (TP) PKK Kota Makassar bersama Dekranasda Kota Makassar dan Pokja Bunda PAUD turun langsung ke lapangan mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pemilahan sampah melalui sosialisasi door to door di kawasan Jalan Hasanuddin dan Jalan Balaikota, Jumat (31/7/2026).
Kegiatan tersebut dilaksanakan setelah rangkaian Senam Jantung Sehat dan Jumat Bersih. Para pengurus mendatangi kantor pemerintahan, pertokoan, hingga warga sekitar untuk memberikan pemahaman mengenai tata cara memilah sampah sesuai kategori.
Langkah ini merupakan bagian dari persiapan penerapan kebijakan Pemerintah Kota Makassar yang mulai berlaku pada 1 Agustus 2026, di mana hanya sampah residu yang akan dibawa ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Sementara sampah organik dan anorganik diharapkan telah dipilah sejak dari rumah untuk kemudian diolah atau didaur ulang.
Dalam sosialisasi tersebut, para pengurus membagikan flyer berisi penjelasan mengenai jenis sampah organik, anorganik, residu, dan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Warga juga diberi kesempatan berdialog langsung terkait mekanisme pemilahan sampah yang akan diterapkan.
Usai kegiatan lapangan, seluruh pengurus TP PKK Kota Makassar, Dekranasda, dan Pokja Bunda PAUD mengikuti sosialisasi lanjutan di Auditorium Gedung PKK Kota Makassar. Materi disampaikan oleh Dewan Lingkungan sekaligus peneliti Municipal Solid Waste Management, Marini Ambo Wellang.
Ketua TP PKK Kota Makassar, Melinda Aksa, menegaskan kegiatan tersebut bertujuan menyegarkan kembali pemahaman para pengurus agar mampu menjadi contoh dalam penerapan pemilahan sampah di lingkungan masing-masing.
“Di PKK, Dekranasda, dan PAUD mestinya sudah paham. Hari ini kita refresh lagi. Yang saya harapkan ibu-ibu di PKK, Dekranasda, dan PAUD sudah melakukan pemilahan sampah di rumah masing-masing. Jangan sampai masyarakat bertanya, sementara kita sendiri belum melaksanakannya,” ujar Melinda.
Ia mengungkapkan masih terdapat kesalahpahaman di tengah masyarakat mengenai kebijakan baru tersebut. Menurutnya, seluruh sampah tetap akan diangkut oleh petugas, namun masyarakat diminta memisahkan sampah berdasarkan kategorinya.
“Saya lihat di media sosial masih banyak yang menganggap selain sampah residu tidak akan diangkut. Itu salah. Semua sampah tetap diangkut, tetapi harapannya sudah dipilah. Yang menjadi tantangan sekarang justru masih banyak yang belum memahami apa itu sampah residu,” katanya.
Melinda menilai perubahan perilaku masyarakat membutuhkan proses yang tidak instan. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh kader PKK, Dekranasda, dan Bunda PAUD menjadi pelopor edukasi mulai dari lingkungan keluarga hingga masyarakat sekitar.
“Jangan sampai kita yang menjadi bagian dari pemerintah sendiri belum melakukannya. Contoh itu adalah cara paling efektif. Mulailah dari rumah masing-masing karena perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi memerlukan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.
“Sampah jangan selalu dipikirkan hanya tanggung jawab pemerintah. Itu tanggung jawab kita bersama. Sampah kita, tanggung jawab kita. Mari menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing agar program ini berhasil dan Kota Makassar menjadi kota yang lebih bersih,” pungkasnya.
Sementara itu, Marini Ambo Wellang menjelaskan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumber melalui pemilahan menjadi empat kategori, yakni organik, anorganik, residu, dan limbah B3. Ia juga memaparkan sejumlah metode pengolahan sampah organik seperti komposter, biopori, dan ember tumpuk, serta mendorong masyarakat memanfaatkan bank sampah agar sampah anorganik memiliki nilai ekonomi.

Tinggalkan Balasan