Jayapura, JURNALNEWS.CO.ID – Suasana syahdu menyelimuti halaman Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 2B Abepura pada Senin kemarin. Di bawah penjagaan namun penuh khidmat, ratusan warga binaan berkumpul untuk merayakan Natal, membuktikan bahwa dinding penjara bukan penghalang bagi pesan kasih dan pembaruan diri.
​
Kasih di Tengah Keterbatasan
​

Ibadah Natal kali ini diwarnai dengan puji-pujian yang menggema di seluruh area Lapas. Pendeta Sarlota Sesa, dalam khotbahnya, memberikan pesan mendalam mengenai pentingnya kepedulian antar sesama. Ia menekankan bahwa kasih Allah harus termanifestasi dalam tindakan nyata, terutama dalam menjaga hubungan keluarga meski raga terpisah oleh jeruji besi.

“Kepedulian adalah wujud kasih Allah yang paling nyata dalam keluarga,” ujar Pendeta Sarlota di hadapan para jemaat.
​Kolaborasi Inklusif: Saat Petugas Muslim Menjaga Damai Natal

Salah satu aspek paling mencolok dari perayaan ini adalah tingginya rasa toleransi. Persiapan yang memakan waktu tiga bulan ini melibatkan kolaborasi inklusif antara petugas dan warga binaan.
​Ketua Panitia Natal, Ricky Hampagawa, mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran acara meski menghadapi tantangan akses yang terbatas. Ia memberikan apresiasi khusus kepada Kepala Lapas (Kalapas) dan seluruh jajaran petugas.
​
“Kami berterima kasih kepada petugas, baik yang Kristen maupun Muslim, yang telah bahu-membahu mulai dari dekorasi hingga pengamanan. Ini adalah bukti bahwa di tempat terbatas ini, kasih Tuhan tetap tanpa batas,” kata Ricky.

​Tantangan Persiapan di Balik Dinding Lapas
​
Menyelenggarakan acara yang dihadiri hampir 900 orang bukanlah perkara mudah bagi penghuni Lapas. Dengan ruang gerak yang terbatas, komunikasi menjadi kunci utama.
​
Ricky menjelaskan bahwa panitia kecil yang dibentuknya sangat mengandalkan bantuan keluarga dari luar untuk koordinasi logistik. “Kami sulit untuk keluar, jadi komunikasi melalui keluarga saat mereka berkunjung menjadi tumpuan kami. Syukur, dukungan tokoh-tokoh daerah di Papua juga mengalir luar biasa,” tambahnya.
​
Momentum Perubahan
​Bagi Lapas Abepura, perayaan Natal ini bukan sekadar seremoni tahunan. Kegiatan ini diharapkan menjadi titik balik atau momentum perubahan bagi para warga binaan. Melalui kolaborasi dan ibadah bersama, mereka didorong untuk menjadi pribadi yang lebih baik sehingga siap diterima kembali oleh masyarakat di masa depan.

Ewil M. Woloin