JURNALNEWS.CO.ID, – Bangkalan – Dipenghujung tahun 2021, Biennale Jatim IX kembali mengadakan pagelaran di 38 kabupaten/kota. Acara dwi tahunan ini ada sebagai wadah aktifitas, kreatifitas, dan apresiasi terhadap seni dan budaya di Jawa Timur. Dengan mengusung tema “Padhang Rembugan Menimbang Solidaritas Merayakan Kolektivitas,” ada asa dari terselenggaranya acara ini. Pada program kali ini Biennale Jatim bekerja sama dengan Goethe Institut.
Terselenggaranya pagelaran ini pada daerah Kabupaten Bangkalan dimulai dari 19-25 November 2021 dengan lokasi yang berbeda-beda. Menghadirkan tujuh program dari hasil negosiasi oleh Arung Wardhana Ellhafifie selaku Dewan Syuro Kurator wilayah Madura. Pada tanggal 20-21 November 2021 program ini menyelenggarakan pameran rupa bersama yang berlokasi di Barista Coffee dengan membumikan tema “Gharingan”.
Dalam sesi penampilan pameran seni lukisan dan performance deskripsi karya, dihadirkan tiga buah lukisan karya Arrya Afendiyanto. Pada sesi ini Arrya, sapaan akrabnya, berkolaborasi dengan Qomar untuk membawakan puisi yang telah ia tulis dengan waktu singkat. Tidak hanya itu, Arrya menggunakan musik kontemporer karya Qomar sebagai pengiring. Pembacaan puisi ini dilakukan agar pesan dari lukisannya dapat tersampaikan dengan jelas.
“Pertemuan untuk membahas performance art tadi sangat singkat. Jujur puisi tadi tertuang pada 16 November 2021, jadi cukup baru dan puisi tersebut benar-benar penuh penghayatan. Saya juga menemukan backsound yang cukup menarik. Menurut saya ini karya musik kontemporer yang cocok untuk dikolaborasikan, karya tersebut diciptakan oleh Mas Qomar. Sejak awal musiknya diputar dan Mas Qomar yang menyambungkan dengan puisi saya, saya merasa berada di dunia yang berbeda,” tuturnya (20/11/2021) malam.
Salah satu karya lukis Arrya sempat mengalami restorasi sebanyak tiga kali. Lukisan ini diberi judul “Tangisan Ibu Pertiwi”. Selama proses pembuatannya Arrya merasakan kekosongan, kehampaan, serta kekeringan. Kekeringan yang dimaksud adalah tidak adanya perasaan menggebu seperti dahulu sebelum adanya pandemi. Hingga pada tahap akhir ia menuangkan perasaannya pada lukisan tersebut. Lukisan ini digambarkan sebagai Ibu Pertiwi dari Pulau Garam yang retak, hancur, dan tak berupa. Filosofi dari karyanya ini mengambarkan keadaan masyarakat yang dipenuhi oleh keluhan, tekanan, dan kondisi yang berada di bawah garis kemiskinan karena dampak besar dari pandemi Covid-19. Banyak kebiasaan baru yang harus dihadapi oleh masyarakat. Perubahan-perubahan besar terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya selalu menghadap karya ini dan ini yang bisa saya gambarkan untuk terakhir kali saya restorasi. Sehingga sampai pada karya dengan tema “Gharing” yang menurut saya sesuai. Inilah karya yang bisa saya tampilkan dengan tema ini,” ungkap Arrya (20/11/2021)
Kolaborasi penampilan dan karya disajikan pada pameran perupa bersama ini memberikan makna dan inspirasi bagi para generasi muda, khususnya anak muda di Kabupaten Bangkalan untuk senantiasa menyirami kota ini dengan kebudayaan yang tetap dijaga dan dilestarikan agar menjadi daerah yang kaya dan subur akan budaya. Selama acara ini digelar ada banyak jenis kolaborasi karya dihadirkan seperti, performance dan demo lukis, performance puisi dan musik kontemporer, presentasi performatif, seni rupa pertunjukan, serta performance discussion.
Dengan diadakannya pameran perupa bersama ini dapat menjadi wadah baru bagi para seniman untuk menyajikan karya-karya mereka pada khalayak luas. Kolaborasi yang dilakukan antar perupa yang satu dengan perupa lainnya menjadi inovasi baru guna menghadirkan karya yang tidak biasa. Setiap karya yang mereka ciptakan pastinya memiliki maksud dan tujuan tersendiri. Karya yang mereka hasilkan merupakan sarana untuk menyampaikan aspirasiaspirasi kepada pemerintah akan kondisi rakyatnya. Diharapkan program ini dapat diadakan kembali pada waktu yang akan datang.
Oleh: Elegi Arisetya Premathalia/Prodi Ilmu Komunikasi/Universitas Trunojoyo Madura.

Tinggalkan Balasan