JURNALNEWS.CO.ID – Pandemi Covid-19 membuat banyak sektor di Indonesia mengalami penurunan, tidak terlepas dengan sektor pariwisata dan juga ekonomi yang terdampak Covid 19.

Hal serupa terjadi pada salah satu destinasi wisata edukasi yaitu Museummnm Nasional Sejarah Alam Indonesia yang berlokasi Jl.Ir.H.Juanda, RT.02/RW.08, Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat. Museum ini mengalami penurunan pengunjung yang signifikan selama masa pandemi.

“Secara otomatis semenjak pandemi itu kita tutup total,kami baru mulai beroperasi lagi kebetulan kemarin tanggal 25 Oktober 2021 jadi selama 2 tahun itu kami memang tutup total” ungkap nunik (staff dan pemandu museum) kepada wartawan Selasa (1/3/2022).

Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia tidak pernah mengalami lonjakan pengunjung selama pandemi dan bahkan menurun drastis bila dibandingkan dengan waktu sebelum pandemi.

Sebelum pandemi rata-rata pengunjung yang sering berkunjung ke museum ini adalah anak-anak sekolah yang sedang study tour namun akibat pandemi anak-anak harus belajar dari rumah dan otomatis tidak ada satupun anak-anak yang melakukan study tour, akibat dari kebijakan pemerintah yang mengharuskan anak-anak untuk melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) memaksa pihak dari perusahaan Mitra Natura Raya (pemilik museum) menutup total kegiatan kunjungan selama pandemi selama 2 tahun.

Kebijakan penutupan Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia ini berdampak kebeberapa hal. Akibat penurunan pengunjung membuat pendapatan dari tiket berkurang sangat drastis.

Karyawan juga terkena dampak dari pandemi ini yaitu banyak karyawan yang diliburkan bahkan tak sedikit pula yang harus  diPHK guna mengurangi pengeluaran museum selama pandemi. Dampak yang disebabkan oleh pandemi ini membuat perekonomian semakin memburuk.

Penurunan pengunjung museum tidak menurunkan dan mempengaruhi kinerja para staff dan juga karyawan Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia ini.

“Museum ini perlu perawatan setiap hari apalagi dengan kondisi Kota Bogor yang seperti ini,suhu ruanganpun harus kita atur setiap hari karena kebetulan disini barang-barangnya dari bahan alam yang sering berjamur dan kami juga selalu melakukan penyemprotan cairan densifektan dua sampai tiga kali dalam seminggu” ungkap Nunik.

Para staff dan karyawan juga menjunjung tinggi yang namanya protokol kesehatan meskipun pengunjung di museum tidak seramai dimasa pandemi.

Pengunjung diminta untuk mencuci tangan sebelum masuk, memeriksa suhu tubuh, dan harus melakukan scan barcode dari aplikasi peduli lindungi. “kalau untuk protokol kesehatan kita lakukan sesuai anjuran pemerintah” ucap Nunik.

Salah satu trobosan dari pihak Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia menarik minat orang-orang untuk berkunjung ialah dengan mem-branding melalui media sosial dan juga melakukan kegiatan virtual tour selama pandemi,

Nunik berharap “semoga pandemi ini bisa cepat berakhir agar kita dapat beraktivitas kembali normal seperti biasanya”.

Muhammad Farhan Fadillah