JURNALNEWS.CO.ID – Perlunya Penerapan Budaya Kaizen pada SDM. Masalah-masalah yang sering dihadapi mahasiswa yang baru tamat dari bangku perkuliahan sering menjadi topik pembicaraan. Terutama pada saat mengembangkan potensi diri untuk dapat memenuhi kualifikasi perusahaan, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi setiap mahasiswa. Mulai dari kebiasaan buruk yang susah diubah oleh mahasiswa itu sendiri, mencari jati diri, kehidupan yang susah bagi sebagian mahasiswa dan masih banyak lagi.

Pengembangan diri bagi setiap individu tentu memiliki fokus yang berbeda. Sebelumnya, kita juga perlu melihat alasan pengembangan dari dalam diri kita sendiri terlebih dahulu. Untuk menjawab alasan mengapa kita perlu pengembangan diri, salah satunya mungkin melalui pengembangan diri, kita dapat menjadi contoh keberhasilan untuk teman-teman mahasiswa ataupun kolega kita di dunia kerja selanjutnya.

Keberhasilan mahasiswa di dunia perkuliahan juga tidak hanya semata-mata hanya melalui nilai semester, tapi perlu juga pengembangan diri yang berfokus pada keterampilan dan sikap yang mencerminkan bahwa seorang individu itu sudah layak masuk pada ranah dunia kerja atau belum.

Untuk menjawab pertanyaan bagaimana pengembangan diri yang harus dikembangkan, kita perlu mengenal dengan budaya kaizen yang mungkin belum banyak diketahui oleh teman-teman.

Apakah kalian pernah mendengar Budaya Kaizen sebelumnya

Istilah Kaizen pertama kali diperkenalkan oleh Taichi Ohno (1867-1930), mantan Vice President Toyota Motors Corporation yang bermula dari ide Sakichi Toyoda yaitu pendiri grup Toyota (Waluyo, 2006).

Istilah ini berasal dari bahasa Jepang yaitu Kai yang artinya perubahan dan Zen yang berarti baik. Sehingga kaizen adalah perbaikan dan penyempurnaan berkesinambungan yang melibatkan semua anggota dalam hirarki perusahaan, baik manajemen maupun karyawan.

Di Jepang sendiri, persaingan sumber daya manusia di sana cukup ketat. Melihat dari SDM yang cukup mendukung unsur-unsur budaya mereka disana, prinsip utama kaizen adalah pada pengembangan proses yang sudah ada.

Berbeda dengan budaya barat yang orientasi pengembangan nya ada pada hasil. Perusahaan yang berhasil menerapkan dan melaksanakan budaya Kaizen dengan baik terbukti dapat meningkatkan kinerja karyawan dan juga diharapkan dapat mencapai target yang telah ditetapkan  perusahaan.

Berikut adalah prinsip-prinsip dalam budaya Kaizen.

• Fokus pada pelanggan

• Melakukan perbaikan terus-menerus

• Mengakui masalah secara terbuka • Mendorong keterbukaan

• Menciptakan tim kerja

• Mengelola proyek melalui tim lintas fungsional

• Mengembangkan proses hubungan yang tepat

• Mengembangkan disiplin pribadi

• Memberikan informasi kepada setiap karyawan

• Membuat setiap karyawan menjadi mampu Dalam penerapannya, akan lebih baik jika kita telah paham benar dan menguasai konsep-konsepnya.

1. Konsep PDCA (Plan, Do, Check, dan Action)

Siklus PDCA menerapkan perubahan guna meningkatkan proses dan merujuk pada fungsi perbaikan. Konsep PDCA ini dimulai dengan penetapan target untuk perbaikan untuk semua bidang (Plan), diimplementasikan secara bertahap (Do), memeriksa apakah penerapan sudah sesuai rencana (Check), dan yang terakhir yaitu standarisasi prosedur baru untuk menghindari terjadinya masalah yang sama (Action).

2. Konsep QCD (Quality, Cost, dan Delivery)

Dalam budaya kaizen ada tiga hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu mutu, biaya, pelayanan (Quality, Cost, Delivery). Dalam kaizen diutamakan mutu atau kualitas, begitu pula dengan biaya, kaizen dapat menekan biaya produksi suatu produk serta pelayannya.

3. Konsep 3M (Muda, Mura, dan Muri)

Konsep 3M ini melihat pada efisiensi kinerja perusahaan. Apakah sebuah kinerja dapat ditingkatkan dengan mengurangi kelelahan, meningkatkan kualitas mutu, mempersingkat waktu atau efisiensi biaya. Muda diartikan sebagai pengurangan pemborosan atau kesia-siaan.

Istilah lain dari pemborosan atau kesia-siaan adalah waste istilah lainnya adalah Non Value Added. Mura diartikan sebagai pengurangan perbedaan. Mura didefinisikan sebagai ketidak-rataan, kurangnya stabilitas dan aliran.

Ketidak-rataan ini mendorong penciptaan Muda dan kegiatan non-value added yang harus ditangani melalui penerapan prinsip-prinsip Just in Time (JIT).

Sedangkan Muri diartikan sebagai mengurangi ketegangan. Banyak perusahaan besar yang berhasil menerapkan budaya Kaizen, salah satunya adalah Toyota.

Perusahaan pabrik otomotif asal Jepang ini merupakan salah satu perusahaan terkenal yang menerapkan kaizen untuk pengembangan.

Bahkan, pencetus pertama dan juga membuat metode ini terkenal adalah Toyota. Mereka membuktikan bahwa hasil Kaizen dapat diukur, terbukti dan sangat efektif. Ideologi Kaizen adalah bagian penting dari Toyota dan Toyota Production System (TPS).

Prinsip Kaizen itu sendiri meyakini bahwa tak ada proses yang sempurna, dan bahwa selalu ada ruang untuk perbaikan. Inilah yang membuat Toyota selalu memiliki ruang dalam peningkatan cara-cara beroperasi mereka. Untuk meningkatkan kinerja operasi, tentu tidak hanya sebatas kemampuan individu para karyawan, juga harus dapat ditinjau secara luas, sehingga pimpinan juga menyadari pedoman kaizen. Tanggung jawab dalam menemukan cara baru untuk meningkatkan kinerja juga tidak kalah penting dalam menyadari pedoman kaizen ini. Sikap positif yang diwujudkan oleh prinsip Kaizen membantu anggota tim untuk fokus pada apa yang harus dilakukan daripada apa yang bisa dilakukan.

Karyawan Toyota juga menerima insentif jika mereka bisa menemukan praktik yang tidak efisien, dan jika mereka bisa merancang cara untuk meningkatkannya dan penerapan siklus PDCA yang efektif. Hal ini sangat membantu mendukung pengambilan keputusan cepat dalam banyak aspek penugasan dalam perusahaan.

Dapat disimpulkan bahwa budaya kaizen memiliki pengaruh yang cukup besar dalam pengelolaan SDM di setiap perusahaan. Bahkan perusahaan besar seperti Toyota pun menerapkan budaya kaizen dan mereka telah membuktikan hasilnya sendiri.

Budaya kaizen sangat cocok untuk diterapkan pada perusahaan untuk meningkatkan kinerja sumber daya manusia (SDM) mereka, bahkan para mahasiswa dan para pekerja pun dapat mulai mempelajarinya untuk mengembangkan pengetahuan serta potensi dalam diri.

Oleh: Jeffry Edbert, Nichollin Stiffanny