JURNALNEWS.CO.ID – Perjuangan warga Palestina lepas dari penjajahan zionis sungguh berat. Konflik yang berawal dari kecamuk Perang Dunia Pertama kian berkembang menjadi dinamika yang cenderung tidak menguntungkan Palestina. Semisal begini, Palestina tidak hanya melawan satu Israel, namun juga berhadapan dengan sejumlah negara besar atau mapan yang mendukung Israel, walaupun pemerintah di negara bersangkutan didemo oleh warganya sendiri.
Sebagaimana sempat diliput oleh media massa dan media sosial. Maka Palestina butuh dukungan berupa solidaritas massal / global / internasional lintas agama, budaya, bangsa, negara guna mengimbangi pendukung Israel. Minimal ada 4 macam solidaritas yang dibutuhkan, yang sepertinya tidak mudah terwujud minimal dalam waktu dekat.
Hal tersebut disebabkan oleh beragam faktor. Penulis coba uraikan. Pertama, Solidaritas Pan Arab. Minimal ini harus diraih. Konflik terjadi di Asia Barat, yang notabene mayoritas dihuni bangsa Arab. Namun sayang, sudah bukan rahasia lagi bahwa solidaritas ini kian luntur. Sejumlah negara Arab justru menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Ini watak bangsa Arab yang sejak zaman kuno sulit bersatu.
Sejak zaman kuno bangsa Arab sering konflik sesama mereka. Kehadiran Islam sempat mempersatukan mereka, namun hanya bertahan sekitar 20 tahun. Diawali oleh pembunuhan Khalifah ‘ Utsmaan bin ‘ Affan, perpecahan bangsa Arab kian berkembang liar. Lebih parah lagi, sekian persen pelaku perang saudara tersebut adalah sahabat dan keluarga Nabi Muhammad SAAW.
Perlu juga diketahui bahwa sekian persen sahabat Nabi juga sekaligus keluarga Nabi. Bangsa Arab yang sebelum Islam hanya mengenal konflik berlatar belakang suku, justru pada perioda Islam konflik berkembang berlatar belakang agama semisal beda mazhab atau sekta – yang pada hakikatnya tidaklah murni agama, namun hakikatnya konflik kepentingan politik dan ekonomi yang dikemas dengan narasi agama. Konflik yang masyhur adalah konflik Suni-Syi’ah, yang melebar ke dunia Muslim non Arab.
Kedua, solidaritas Muslim / Pan Islam. Solidaritas ini juga kian luntur sebagai dampak faktor yang pertama. Sepertinya hal tersebut telah ditampakkan kepada Nabi melalui mata batinnya mengingat seorang nabi memiliki mutu spiritual bagus. Nabi pernah berpesan supaya Quraisy bersikap baik, karena kelak manusia akan meniru dalam hal kebaikan dan keburukan. Quraisy adalah suku asal Nabi sekaligus suku yang dihormati oleh bangsa Arab. Mereka dipercaya menjaga pusat ritual yaitu Makkah sekaligus melayani peziarah. Semacam suku “darah biru”. So, Quraisy akan ditiru oleh bangsa Arab, bangsa Arab akan ditiru oleh umat manusia.
“Orang Islam akan mengikuti Islamnya Quraisy. Orang kafir akan mengikuti kafirnya Quraisy”. Demikian pesan Nabi. Dan itu terbukti. Kaum Muslim mengikuti bangsa Arab dalam kebaikan dan keburukan. Bangsa Arab lah yang paling bertanggung jawab dengan keadaan ini. Al-Qur-an telah berpesan,”…dan berpeganglah pada tali Allah dan janganlah kamu berpecah-belah…..”. Dan perpecahanlah yang terjadi. Perpecahan bangsa Arab berkembang menjadi perpecahan kaum Muslim.
Ketiga, Solidaritas Asia-Afrika. Solidaritas ini dirumuskan dalam Konferensi Asia-Afrika 1955. Konferensi tersebut menghasilkan format yang disebut “Dasasila Bandung / Bandung Spirit”. Solidaritas itu didasarkan pada pandangan bahwa Asia-Afrika adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Asia-Afrika untuk orang (pribumi) Asia-Afrika. Dalam wilayah Asia-Afrika terdapat negeri Palestina.
Adapun yang disebut atau dikenal dengan bangsa Israel bukanlah pribumi Asia-Afrika, melainkan mereka imigran dari Eropa yang berdatangan ke Palestina dengan dukungan imperialis-kolonialis Barat usai Perang Dunia-1. Solidaritas ini juga kian luntur. Semisal sengketa wilayah antara RRC dengan sejumlah negara tetangga semisal India, Jepang, sejumlah negara anggota ASEAN. Bahkan pernah terjadi perang perbatasan Cina-India dan Cina-Vietnam.
Keempat, solidaritas kemanusiaan. Solidaritas ini sepertinya berpeluang menjadi andalan terakhir guna mendukung Palestina meraih haknya. Dan harus terus dikembangkan. Pelan tapi pasti difahami bahwa konflik di Palestina bukanlah konflik agama antara Muslim-Yahudi, namun tragedi kemanusiaan yang tentu mengusik rasa kemanusiaan bagi siapa yang (merasa) sebagai manusia – apapun latar belakang / identitasnya. Pandangan bahwa “tidak harus menjadi Muslim untuk faham konflik di Palestina. Cukuplah menjadi manusia” harus terus disosialisasikan guna merangkul sebanyak mungkin umat manusia mendukung perjuangan warga Palestina meraih haknya.
Jadi, mungkin masih ada lagi jenis solidaritas lain. Namun intinya adalah mari kompak mendukung Palestina tanpa mempersoalkan latar belakang atau identitas apapun. Khusus bagi kaum Muslim, jangan sampai beda mazhab, sekta atau apapun itu yang berakibat umat terpecah. Sangat disayangkan hari begini umat masih bertengkar soal hisab dan rukyat, qunut tidak qunut, ushalli tidak ushalli, mauludan tidak mauludan, Suni vs Syi’ah, modernis vs tradisionalis, salafi vs shufi, syari’at vs thariqat bahkan hingga level saling hujat, mengkafir-kafirkan yang beda faham. Menonjolkan ego dengan merasa paling benar atau benar sendiri. Sementara umat lain telah mencapai ragam prestasi kemanusiaan dengan inovasi dan kreasi yang bermanfaat bagi kemanusiaan.
Indra Ganie Hindi Bantani
Pemerhati Islam dan Timur Tengah

Tinggalkan Balasan