JURNALNEWS.CO.ID, – Akankah Tenaga Kerja Manusia Akan Punah –  Perubahan teknologi yang sangat pesat diperkirakan akan menjadi ancaman untuk sebagian pekerja di dunia. Di tambah juga arus perubahan ekonomi yang begitu cepat, teknologi diyakini akan membuat pekerjaan hilang. Tanpa kita sadari, dengan semakin majunya teknologi semua kegiatan dan aktivitas tenaga kerja manusia akan tergantikan oleh “Robot”.

Di beberapa negara di belahan dunia sebagian besar khususnya di negara maju telah mengandalkan robot untuk memudahkan pekerjaan mereka, salah satunya negara Korea Selatan dan Cina.

Di Indonesia, belakangan ini ramai kembali terkait isu wacana pemerintah Indonesia yang akan menggantikan peran Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan Robot atau Artificial Intelligence (AI). Wacana pergantian peran PNS ke Robot ini dapat menguntungkan bagi pemerintah begitu pun dengan masyarakat. Dari sisi pemerintah, keuntungan akan diterima dari segi pengurangan beban anggaran yang selama ini dipakai untuk memenuhi kebutuhan profesi PNS. Untuk masyarakat, keuntungan akan datang dari segi administratif yang akan lebih cepat dan lancar dari sebelumnya.

Namun pemerintah sepertinya tidak memikirkan dampak jangka panjang dari wacana ini, sebab jika banyak PNS yang digantikan oleh robot sudah pasti angka pengangguran akan bertambah.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran per Agustus di Indonesia sebanyak 9,1 juta orang. Adapun jumlah PNS di Indonesia per 30 Juni 2021 berdasarkan data BKN adalah 4 081.824 orang, jumlah tersebut mengalami penurunan 3,33 % dibandingkan dengan 31 Desember 2020. Jumlah PNS terus mengalami penurunan sejak 2016 (indozone.id)

Dalam teori kapitalisme, para pemilik modal masih bergantung pada tangan para buruh sehingga mereka masih diberikan perlakuan yang adil. Akan tetapi, keberadaan robot tidak perlu digaji, diberi asuransi dan tunjangan, dan tidak perlu libur akan membuat para buruh mulai tersingkir dan menciptakan semacam ‘lost generation’ karena pengangguran teknologi.

Robot bukan suatu hal yang menakutkan bagi para buruh, namun eksploitasi pemilik modal terhadap mesin dan teknologi ini yang membuat masa depan pekerjaan kaum buruh menjadi terancam.

Berdasarkan estimasi World Economic Forum (WEF), di tahun 2025 akan terdapat 85 juta pekerjaan yang hilang dan dapat digantikan oleh mesin, kecerdasan buatan atau tenaga kerja baru dengan kebutuhan akan skill yang berbeda.

Penelitian terbaru Universitas Oxford menyebutkan, 47% pekerjaan dapat digantikan robot. Kecerdasan buatan akan menggantikan banyak pekerjaan yang sebelumnya hanya bisa dilakukan manusia.

Oleh karena itu, jika tenaga kerja tidak mampu beradaptasi dengan permintaan baru dari bursa kerja yang sudah mulai menerapkan teknologi modern, maka kehilangan pekerjaan akan menjadi ancaman bagi mereka.

Tidak ada industri yang benar-benar kebal dengan masuknya mesin dan teknologi di masa mendatang. Selain itu, pekerja yang berisiko kehilangan pekerjaan juga disebabkan oleh metode bisnis baru yang diterapkan oleh perusahaan dengan mengedepankan aspek-aspek teknologi dan pembaruan, sehingga pekerja dengan skill yang kurang sejalan dengan skill yang dibutuhkan di masa depan, memiliki risiko kehilangan pekerjaan yang lebih tinggi.

Dalam laporan WEF juga menyertakan data rata-rata pekerja yang berisiko kehilangan pekerjaan berdasarkan bidang industri. Layanan finansial memiliki risiko terbesar dengan 20,8% pekerja di bidang ini berisiko kehilangan pekerjaan, dengan porsi terendah sebesar 10,6% untuk pelayanan kesehatan.

Lantas pertanyaannya akankah tenaga kerja manusia punah di masa depan? Tenaga kerja di masa depan tidak hanya akan didominasi oleh tenaga manusia, robot atau mesin serta kecerdasan buatan ikut turut meramaikan bursa kerja masa depan. Meskipun banyak buruh yang berisiko kehilangan pekerjaan karena masuknya mesin dan kecerdasan buatan dalam bauran bursa kerja, di sisi lain akan muncul pekerjaan-pekerjaan baru yang membutuhkan skill dan kompetensi baru.

Oleh karena itu, solusinya adalah setiap tenaga kerja baik buruh atau pun pekerja perlu untuk meningkatkan skill dan kemampuan mereka agar bisa bersaing dalam bursa kerja yang semakin kompetitif di masa depan. Selain itu, yang sangat penting menyiapkan anak-anak sejak dini menguasai kebutuhan era mekanisasi, robotisasi, dan digitalisasi yang saat ini sejatinya sudah berjalan.

Daftar Pustaka

https://rpa-institute.id/bukan-menakuti-5-tahun-lagi-jutaan-pekerjaan-diganti-robot/

https://kumparan.com/kabar-bisnis/pns-diajak-tingkatkan-kualitas-diri-sebelum-tergantikan-oleh-robot-1x2ioIKNBuF/full

https://www.liputan6.com/regional/read/3645888/saat-peran-manusia-digantikan-robot-di-masa-depan

https://www.republika.co.id/berita/r3fdgb396/ini-fakta-kemajuan-ai-dan-robot-di-dunia-gantikan-manusia-part1

Alam TG, dkk. (2019). Revolusi Industri Keempat: Akhir dari Buruh di Seluruh Dunia, Jurnal Hubungan Internasiona.

Penulis : Khairul Yusuf

(Jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Alauddin Makassar)