JURNALNEWS.CO.ID – Warga Blok Loji, RT 02/01, Desa Ligung, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, tinggal di gubuk tenda plastik dan  terpal. Fuaidin bersama istrinya, Wiwin, dan kedua putranya, menjadi penghuni gubuk yang terletak di pabrik batu bata merah, selama satu tahun.

“Ya ini saya buat sendiri. Saya pakai bambu, karung, plastik. Tanahnya pemilik batu bata, orang Loji. Kebetulan saya membantu membuat batu bata. Pemiliknya diberi tempat, jadi kami buatkan tempat tinggal di sini. . Tinggal bersama istri dan anak. Semuanya masih SD. Yang besar 10 tahun, yang lain 6 tahun,” kata Fuaidin saat ditemui.

“Sebelum datang ke sini (gubuk) tinggal di rumah kosong. Pindah ke sini karena tidak baik anaknya (pemilik rumah) pindah ke rumah itu,” lanjutnya. Gubuk yang berjarak sekitar 100 meter dari pemukiman penduduk ini hanya dilengkapi tempat tidur dan teras. Adapun fasilitas lain, mereka hanya bisa naik ke tetangga mereka.

“Masak, mandi, semua numpang ke tetangga. Listrik juga ” kata pria kelahiran Desa Dumu, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Fuaidin dan keluarganya menempati gubuk berukuran 5×3 meter itu, terpaksa mengisi hari-hari mereka dengan rasa khawatir. Apalagi saat musim hujan, perasaan cemas akan ambruknya gedung itu terus menghantuinya.

Saat hujan, angin kencang, kadang suka lari ke tetangga, kalau sudah redah ke sini lagi,” ujarnya. Meski tinggal di gubuk, ia tetap merasa bersyukur karena lingkungan sekitar selalu mendukung kelangsungan hidup keluarganya. Pasalnya, Fuaidin yang tidak memiliki pekerjaan tetap sering dimintai jasanya untuk mengerjakan pekerjaan oleh tetangganya. “Alhamdulillah tetangganya baik-baik. Ya mereka juga sering minta buat sesuatu. Alhamdulillah bisa makan sehari-hari,” ujarnya.

Meski demikian, Fuaidin yang merupakan lulusan pesantren ini mengaku pernah bekerja sebagai guru di daerah tempat tinggalnya. “Dulu dia guru. Jadi guru itu, dia hanya menggantikan guru yang tidak datang.

Setelah lulus dari pesantren, dia mengajar di sini. Di Ligung lor, di SD, MTS. (Alasan tidak melanjutkan) adalah kurang percaya diri jadi guru,” Ia pun mengaku sudah tinggal di kota angin sejak di pesantren atau tahun 2000. Setelah lulus, lanjutnya, Fuaidin memutuskan menikah dengan warga Majalengka.

“Saya asli NTB. Saya masuk Majalengka tahun 2000. Dulu ada program pesantren di Majalengka. Kemudian saya menikah dengan orang Majalengka tahun 2007,” katanya.

“Saya belum pernah kembali ke kampung halaman, ingin pulang, tetapi apa yang bisa saya lakukan karena terkendala masalah biaya. Dulu, ada ponsel, sering ada berita (dari keluarga). di NTB), ponselnya hilang, jadi tidak ada komunikasi,” sambungnya.