JURNALNEWS.CO.ID – Pada pembahasan kali ini, kita akan fokus pada “magic and divination”. Dalam tulisan dari Rebecca dan L Stein, kita berangkat pada gagasan mengenai sihir. Sihir, seperti istilah antropolog, mengacu pada aktivitas, biasanya dalam bentuk ritual, dimana seseorang dapat memaksa suatu entitas supernatural untuk berperilaku dengan cara tertentu. Atau dengan kata lain, sihir digunakan sebagai suatau cara supernatural untuk mendapatkan informasi tentang yang tidak diketahui, baik itu yang akan terjadi di masa depan, apa yang terjadi di suatu tempat yang jauh, atau penyebab suatu penyakit misalnya. Teknik-teknik ini yang dapat disebut sebagai aspek ramalan.
Menurut penulis sendiri, awalnya konsep sihir sendiri dipahami oleh para antropolog sebagai suatu hal yang berbeda atau secara terpisah dengan agama. Lalu lama kelamaan ternyata antropologi agama mulai mengaitkan fenomena sihir ini dengan agama. Hal ini dikarenakan adanya suatu mekanisme supranatural yang ditemukan pada keduanya. Salah satu tokoh yang menjadi sorotan saya mengenai gagasan tentang sihir ini adalah Émile Durkheim. Dia sendiri berpikir bahwa sihir dapat dibedakan dari agama, tetapi dia berfokus pada konteks sosialnya.
Menurutnya berbeda dengan ritual keagamaan yang cenderung melibatkan keseluruhan komunitas, sihir lebih sering berpusat dan digunakan guna menunjang kebutuhan dan keinginan individu. Saya pribadi meresa cukup setuju dengan gagasan beliau ini, dimana mekanisme dari sihir sendiri yang sering saya temui dan ada disekitar saya, lebih digunakan untuk menunjang kebutuhan pribadi atau individu.
Kebutuhan ini sendiri biasanya tidak bisa dilakukan secara langsung atau
“nyata”, oleh karena itu butuh kekuatan supranatural untuk menggapai atau mendapatkannya. Contohnya yang sering ditemui adalah “pelet”, dimana pelet ini digunakan untuk seseorang yang mengingkan cinta seseorang yang dalam kehidupan nyata ternyata tidak bisa. Lalu orang tersebut akan memberikan pelet supaya orang yang disukainya tersebut membalas cintanya.
Salah satu kunci dari sihir sendiri adalah adanya tindakan magis seperti pengucapan mantra. Ritual magis biasanya bisa dilakukan hanya di tempat-tempat khusus dan di tempat-tempat dan waktu-waktu khusus. Selain itu, biasanya dalam hal ini, orang yang melakukan sihir atau yang meminta bantuan kepada “orang yang berkemampuan”, harus melaksanakan pantangan atau beberapa persyaratan demi mekanisme supranatural tersebut.
Menurut penulis ada dua jenis orang yang biasanya menggunakan sihir, yaitu pesulap dan juga dukun. Pesulap biasanya pekerja dalam jenis sihir yang ada di seluruh masyarakat dan dalam konteks yang baik atau bahkan menghibur menurut saya pula, sedangkan sosok dukun biasanya lebih berurusan dengan hal-hal yang jahat dan antisosial, seperti santet, guna-guna dan sebagainya.
Menurut penulis, tokoh Frazer mengartikulasikan adanya sebuah Hukum Simpati, dimana hukum ini yang menyatakan bahwa sihir tergantung pada adanya suatu asosiasi atau kesepakatan antar hal.
Terdapat dua bagian atau jenis dari Hukum Simpati. Yang pertama adalah Hukum Kesamaan, yang menyatakan hal-hal itu sama saja. Yang kedua adalah Hukum Penularan, yang menyatakan bahwa hal-hal yang ada dalam sekali kontak, akan terus terhubung setelah koneksi terputus. Hukum Kesamaan menimbulkan sihir homeopati atau imitatif, dan Hukum Penularan ke sihir menular.
Sebenarnya jujur saya sendiri kurang memahami apa yang coba penulis jabarkan dari pendapat atau gagasa Frazer. Tapi yang saya coba pahami adalah bahwa dalam sihir ada hukum simpati, dalam hukum simpati ada suatu bentuk kesepakatan atas hal-hal yang ada dalam konteks sihir tersebut, seperti adanya kesepakatan akan pantangan, kesepakatan “upah” atau bahkan mungkin tumbal, dan lain-lain, antara individu yang membutuhkan hal-hal magis itu.
Selain itu, sihir juga dikatakan tidak pernah gagal, karena semua kegagalan maupun keberhasilan tergantung dari kemahiran ataupun kehandalan dukunnya atau pesulapnya. Sihir biasanya mencoba membawa peristiwa yang akan terjadi secara alami, karena orang pada umumnya tidak menanyakan hal-hal yang mustahil dalam sihir.
Contohnya yang coba saya pahami adalah biasanya orang datang ke dukun, untuk maksud tertentu yang mungkin sudah diperkirakan jangkauan ilmu sihirnya dari segi dukunnya maupun apa yang ingin digapai. Hal ini sering sekali terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dukun maupun pesulap memiliki level atau kekuatan yang berbeda-beda tergantung dari berbagai segi ilmu dan sebagainya.
Karena terkenalnya dengan segi kemampuan atau kekuatan ini, berpengaruhlah pula pada orang yang datang ke dukun atau pesulap itu juga. Biasanya semakin tinggi ilmunya, maka permintaan bantuan akan semakin banyak, tetapi bayaran atau upahnya juga pasti menyesuaikan.
Dibalik sihir, penulis juga menjelaskan tentang salah satu teknik dalam sihir. Seperti teknik untuk mendapatkan informasi tentang hal-hal yang tidak diketahui, termasuk peristiwa yang akan terjadi di masa depan, yang kita juga kenal sebagai ramalan.
Dalam hal inspiratif bentuk ramalan melibatkan beberapa jenis roh, pengalaman spiritual, seperti kontak langsung dengan berbagai makhluk supernatural melalui keadaan yang mungkin bisa saja diluar kesadaran.
Bentuk noninspirasional memiliki lebih banyak cara magis untuk melakukan ramalan dan menyertakan atau membaca peristiwa alam, serta ada pula manipulasi dari perangkat orakular. Bentuk kebetulan sederhana terjadi tanpa adanya upaya sadar dari pihak individu tersebut, hal ini karena dapat kita pahami bahwa bentuk yang seakan disengaja sebenarnya adalah yang seseorang tersebut ingin lakukan.
Contohnya sepertii yang bisa ditemukan daalam berbagai bangsa termasuk omens, presentiments, possession, prophecy, ornithomancy, oneiromancy, necromancy, astrology, dowsing, flipping a coin, ordeals, palmistry, phrenology, and reading tarot cards.
Ramalan-ramalan ini menurut saya sudah bukanlah hal asing dalam kehidupan kita sehari-hari, bahkan secara sadar kita juga sering meramal, seakan-akan berharap kebetulan yang terjadi sesuai dengan apa yang kita katakan, sehingga itu terlihat seperti disengaja.
Dari hal-hal yang coba penulis sampaikan dan simpulkan, kita memahami bahwasanya otak manusia memperluas teori pikiran mereka ke dalam pikiran objek lain, seperti hewan dan makhluk hidup bahkan benda mati lainnya. Pikiran manusia dapat memiliki kemampuan dalam melihat intensi di dunia bukan manusia dan kemampuan untuk berinteraksi langsung dengannya.
Hal ini memunculkan kemampuan yang tampak secara langsung mempengaruhi bahkan sampai pada taraf tertentu mengendalikan dunia bukan manusia melalui aktivitas ritual. Ini sendiri kita pahami sebagai dasar pemikiran magis.
Sedikit apa yang saya pahami juga dari bahan anjuran, tulisan dan gagasan milik Mauss, bahwasanya tindakan magis sendiri merupakan fondasi dari evolusi pemikiran manusia hingga mencapai agama dan kini berlanjut pada sains.
Kegagalan dan ketidakpuasan akan sihir, membuat manusia menemukan entitas yang lebih besar seperti “sang pencipta” atau Tuhan, yang mereka agungkan lewat agama atau religi. Ketidakpuasan akan sihir ini lahir karena adanya kesadaran bahwa manusia tidak bisa menguasai dunia seperti apa yang mereka mau.
Yang menjadi pertanyaan saya adalah bahwa saat ini saya sering menemui kasus-kasus seperti orang berkedok agama tetapi ia melakukan hal-hal yang ada didalam salah satu tindakan sihir dimana mereka pastinya membutuhkan mekanisme spiritual untuk itu, contohnya seperti pengobatan ningsih tinampi.
Kalau begitu bukankan sebenarnya sihir bukan suatu fondasi evolusi seeprti yang sempat dikatakan oleh Mauss, tetapi ia tetap ada menyertai dan berkesinambungan dengan agama yang ada saat ini?
Daftar Pustaka
Rebecca, and Philip L. Stein. The anthropology of religion, magic, and witchcraft. Taylor & Francis, 2017. Bab 7.
Mauss, Marcel. A general theory of magic. Routledge, 2005. Bab 1 dan Bab 2
Penulis: Theresia Rachelita Devia Irani

Tinggalkan Balasan