JURNALNEWS.CO.ID, – Salah satu sistem pembelajaran yang selalu menjadi topik bahasan sejak masa pandemi yaitu sistem pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh. Hal ini karena banyak sekali kendala atau masalah yang dirasakan memberatkan beberapa pihak dalam pelaksanaannya.
Baru-baru ini riset yang dilkukan oleh Populix yang diterbitkan oleh suara.com (30/9) menyatakan bahwa 86 persen anak kesulitan berkonsentrasi selama pembelajaran daring. Ternyata disamping adanya harapan peningkatan penguasaann teknologi bagi siswa, sisi negatif dari pembelajaran daring cukup memprihatinkan. Tentu jika hal ini tidak segera teratasi dikhawatirkan akan berdampak panjang pada penguasaan kompetensi anak ke depannya.
Penggunaan gadget dalam pembelajaran daring dikhawatirkan memunculkan aktivitas lain yang dilakukan siswa diluar proses pembelajaran sehingga menimbulkan pecah konsentrasi. Ini bisa disebut sebagai off task behaviour atau perilaku siswa yang tidak dikehendaki dalam pembelajaran. Perilaku yang tidak dikehendaki ini diyakini sebagai tindakan memalingkan perhatian dari pembelajaran atau tidak konsentrasi pada pembelajaran.
Suneta,dkk (2009:34) dalam The Effect of Highlightning on the Math Compilation Performance and Off Task Behaviour of Students with Attention meyatakan bahwa off task behaviour merupakan perilaku berpaling 90 derajat dari tugas, bergerak, berbicara, meninggalkan tempat duduk, dan kurangnya kontak dengan materi akademik.
Hal senada turut disampaikan Baker dalam Modelling and Understanding Student Off Task Behaviour in Intelligent Tutoring System, bahwa Perilaku Off Task didalamnya termasuk percakapan Off Task (berbicara tentang apapun selain materi subjek), perilaku Off Task soliter (perilaku yang tidak melibatkan software bimbingan belajar atau individu lain, seperti membaca majalah atau browsing di web), dan tidak beraktivitas (seperti menatap ruang, atau siswa meletakkan kepalanya di atas meja, setidaknya selama 20 detik.
Jika apa yang dikemukan oleh Suneta atau Baker tadi dikaitkan dengan pembelajaran daring, off task behaviour sering terjadi karena digerakkan oleh aplikasi-aplikasi sosial media dan hiburan serta game-game online yang tersedia di gadget. Siswa lebih memilih membuka aplikasi-aplikasi tersebut dibandingkan dengan mengikuti pembelajaran daring karena merasa bosan dengan cara penyampaian materi yang diberikan sehingga siswa terkesan berusaha mencari hiburan di tengah-tengah proses pembelajaran.
Kondisi siswa dan guru yang berjauhan juga mengakibatkan siswa secara sadar maupun tidak sadar melakukan kegiatan-kegiatan yang di luar konteks pembelajaran. Seringkali siswa merasa sedang tidak diawasi oleh guru yang bersangkutan dengan adanya pembelajaran secara daring. Anggapan inilah yang kemudian semakin mendorong siswa untuk bertindak off task.
Selama ini upaya yang sering dilakukan untuk memutus off task behaviour adalah pemberian hukuman atau punishment. Biasanya guru akan menegur atau memperingati siswa secara lngsung atau melalui surat peringatan tertulis. Selain itu pemberian penguatan berupa penguatan positif maupun penguatan negatif juga dilakukan. Penguatan positif dapat berupa pemberian hadiah atau pujian kepada siswa atau memberi nilai tambah sementara penguatan negatif dilakukan dengan cara mengurangi beban tugas siswa atau membebaskan siswa dari tugas.
Upaya lain yang bisa dilakukan adalah penggunaan pendekatan pembelajaran secara kontekstual yang memusatkan pada kehidupan sehari-hari siswa sehingga siswa menjadi konsentrasi memperhatikan penjelasan guru, aktif bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat. Siswa akan terdorong untuk mengaitkan materi atau pengetahuan yang didapatkannya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan pendekatan contextual learning ada keterkaitan erat antara materi pembelajaran dengan pengalaman siswa. Pengalaman belajar siswa bukan lagi tetang menghafal dan mengingat materi ajar melainkan sudah sampai kepada tahap mengonstruksi pengetahuan. Dengan begitu, siswa akan terdorong untuk berpikir secara kritis dalam menemukan makna dan menghubungkannya serta menerapkannya dalam kehidupan.
Off task behaviour terjadi karena ada celah atau kesempatan. Dalam hal ini penting untuk menutup celah tersebut sejak awal pembelajaran, yaitu diantaranya dengan memusatkan perhatian guru terhadap siswa serta penggunaan sistem pembelajaran yang tepat dan menarik dan memfasilitasi keterlibatan siswa secara nyata terhadap proses pembelajaran.

Tinggalkan Balasan