JURNALNEWS.CO.ID – Siklus pendanaan adalah siklus transaksi yang berhubungan dengan kegiatan pendanaan dalam bentuk utang jangka panjang ataupun penerbitan saham. 

Siklus pendanaan ini berhubungan dengan transaksi mengenai penghimpunan dana dari pihak lain, lease modal, menerbitkan obligasi atau menerbitkan saham preferen maupun saham biasa yang dimaksudkan sebagai setoran modal melalui penjualan saham maupun sebagai utang jangka panjang. 

Aktivitas pendanaan melingkupi pembayaran kembali utang jangka panjang yang telah jatuh tempo, mengakuisisi kembali saham (treasury stock) serta pembayaran bunga dan dividen.

Siklus ini meliputi dua kelompok transaksi yaitu:

1. Transaksi utang jangka panjang yang meliputi utang obligasi, hipotik, wesel, dan pinjaman beserta pembayaran pokok dan bunganya.

2. Transaksi ekuitas pemegang saham (modal) yang mencangkup penerbitan dan penebusan kembali saham preferen dan saham biasa serta transaksi pembelian kembali saham dan pembayaran dividen.

Siklus pendanaan bertentangan dengan siklus pengeluaran kas yang mana hal tersebut  memiliki alasan yaitu karena pembayaran bunga obligasi dan dividen oleh perusahaan yang biasanya dilaksanakan dalam bentuk uang ataupun sejenisnya. 

Rekening yang terkait dalam siklus pendanaan yaitu pada transaksi utang jangka panjang seperti : obligasi, hipotik, wesel dan pinjaman jangka panjang, premi obligasi, utang bunga, biaya bunga, Laba (rugi) dalam penghentian obligasi.   

Tujuan audit siklus pendanaan adalah menguji kebenaran dan kewajaran asersi manajemen tentang transaksi pendanaan. Asersi manajemen adalah pernyataan manajemen dalam bentuk saldo akun dalam laporan keuangan.

Kriteria kebenaran dan kewajaran asersi pendanaan adalah:

1. Asersi sesuai dengan bukti pendukung, yaitu bukti transaksi dan bukti pembukuan tentang transaksi pendanaan.

2. Asersi sesuai dengan fakta transaksi pendanaan, dalam arti asersi sesuai dengan kenyataan dan kondisiobjektif transaksi pendanaan, tanpa ada rekayasa atau penyembunyian fakta.

3. Asersi diungkapkan secara penuh (fully disclose), yaitu dijelaskan secara penuh dalam hal saldo akun dipandang memerlukan penjelasan tambahan agar tidak menyesatkan pengguna informasi.

Asersi sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dan berbagai ketentuan yang berlaku.Untuk menjamin efektifitas pencapaian tujuan audit, dalam melaksanakan tugas audit auditor perlu menggunakan rerangka kerja yang baik, misalnya menggunakan rerangka kerja (framework) yang dikembangkan oleh PCAOB (Public Company Accounting Oversight Board   

Fungsi-fungsi siklus pendanaan dan aktivitas pengendalian yang berkaitan dengan siklus pendanaan yaitu:

1. Pemberian otorisasi atas obligasi dan modal saham oleh dewan komisaris berdasarkan perencanaan strategic dan aktivitas investasi perusahaan. Penerbitan obligasi dan modal saham yang dilakukan sesuai otorisasi oleh dewan komisaris dan peraturan hukum yang berlaku, yang hasil penerbitannya segera disetorkan ke bank secara utuh serta sertifikat obligasi dan saham tersebut harus di amankan secara fisik.

2. Pembayaran bunga obligasi dan dividen tunai sesuai dengan otorisasi dewan komisaris dan manajemen.

3. Pelunasan dan pembelian kembali obligasi dan modal saham yang dilakukan sesuai dengan otorisasi dewan komisaris serta saham yang dibeli kembali harus diamankan secara fisik.

4. Pencatatan atas transaksi pembelanjaan secara baik dan benar mengenai jumlahnya, penggolongannya dan periode akuntansinya yang sesuai dengan otorisasi dan dokumen pendukung .

Prosedur Analitis yang digunakan untuk mengaudit siklus pendanaan yaitu :

1. Rasio arus kas bebas , arus kas bebas yang negative menunjukkan kebutuhan akan dan mendekati jumlah dari pembiayaan yang diharapkan guna mencegah kekeringan kas atau investasi.

2. Rasio utang berbunga terhadap total asset, memberikan kelayakan atas proporsi ekuitas entitas yang dapat dibandingkan dengan pengalaman tahun sebelumnya atau data industry.

3. Rasio ekuitas pemegang saham terhadap total asset, memberikan kelayakan atas proporsi ekuitas entitas yang dapat dibandingkan dengan pengalaman tahun sebelumnya atau data industry.

4. Rasio membandingkan pengembalian atas asset dengan biaya incremental utang 

Jika sebuah perusahaan mampu menghasilkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi atas asset dibanding biaya incremental utangnya, maka ini merupakan tanda bahwa entitas dapat menggunakan pembiayaan dengan utang untuk memperluas asset dan laba entitas tersebut.

Sebagaimana audit pada siklus transaksi yang lain, audit siklus pendanaan diperlukan karena adanya potensi kesalahan pelaporan, baik kesalahan tersebut bersifat tidak disengaja (error) maupun bersifat disengaja (fraud/irregularity).

Potensi kesalahan dalam siklus pendanaan antara lain adalah:

1. Kesalahan pelaporan saldo akun transaksi pendanaan, misalnya karena kesalahan pisah batas transaksi atau sengaja tidak melaporkan utang jangka panjang secara lengkap karena pertimbangan tertentu.

2. Uang hasil pendanaan tidak digunakan sesuai dengan rencana yang te flah ditetapkan.

3. Penyalahgunaan dana pelunasan pinjaman oleh oknum staf perusahaan.

4. Kesalahan pencatatan pelunasan pinjaman, misalnya kesalahan klasifikasi unsur pelunasan pokok pinjaman dan pelunasan bunga pinjaman.

5. Kesalahan pencatatan saham treasury dan penjualan kembali saham treasury.

Tinggi rendahnya potensi kesalahan (potensi salah saji) dipengaruhi oleh kecukupan dan efektifitas SPI (Sistem Pengendalian Internal) pada masing-masing transaksi pendanaan. 

Oleh sebab itu, untuk meningkatkan efektifitas serta efisiensi proses audit, standar audit mensyaratkan auditor untuk memahami serta menguji SPI pada masing-masing transaksi, misalnya dengan mengevaluasi SOP (Standar Operasional dan Prosedur) serta peralatan (teknologi) yang digunakan untuk mendukung ketepatan pencatatan transaksi, dan juga kompetensi serta integritaspelaksana transaksi.

Ada 2 strategi audit yaitu:

1. Pendekatan terutama substantif, yaitu auditor merencanakan taksiran resiko pengendalian pada tingkat maksimum atau mendekati maksimum, auditor merencanakan prosedur yang kurang ekstensif untuk memperoleh pemahaman atas pengendalian intern, auditor merencanakan sedikit jika ada pengujian pengeendalian, dan auditor merencankan akan melakukan pengujian substantive secara luas.

2. Pendekatan resiko pengendalian rendah, yaitu auditor merencanakan taksiran resiko pengendalian pada tingkat rendah, memperoleh pemahaman atas pengendalian intern, merencanakan pengendalian secara luas, dan membatasi penggunaan pengujian substantif.  

Surat berharga sebagai investasi jangka pendek mungkin material untuk kemampuan membayar jangka pendek tetapi pendapatan atas investasi itu jarang signifikan dengan hasil operasi perusahaan. 

Resiko salah saji pada transaksi penanaman investasi pada umunya rendah karena transaksi ini merupakan transaksi yang terjadi. Strategi audit tergantung frekuensi transaksi penanaman investasi, baik jangka pendek maupun jangka panjang. 

Bila frekuensinya rendah, maka auditor akan menghemat biaya bila memakai primaliry substantif approach atau pendekatan pengutamaan pengujian substantif. Pengeluaran surat berharga, obligasi maupun penjualan saham perusahaan pada umumnya dilakukan dalam jumlah nilai rupiah yang besar.

Analisis Audit Pendanaan Pada PT ULTRA JAYA MILK INDUSTRY

Ultra jaya Milk awalnya hanya terbatas pada pengembangan produk susu. Namun seiring dengan diversifikasi perusahaan, Ultrajaya Milk mulai mengembangkan inovasi produk jus yang kemudian dikenal dengan merek Buavita, Gogo. 

Perusahaan juga mengembangkan varian minuman lain yang populer seperti Teh Kotak, Sari Asem Asli dan Sari Kacang Ijo. 

Pada tahun 2008, merek Buavita dan Gogo diambil alih oleh PT. Unilever Indonesia Tbk. yang menyebabkan perusahaan lebih terfokus dalam pengembangan produk susu. Diambil dari laporan arus kas PT Ultra Jaya Milk industry pada tahun 2020-2021 ini hasil Analisis yang di hasilkan berupa Aktivitas pendanaan berhubungan dengan investasi pemilik, prive, dan pinjaman dana yang dilakukan perusahaan. 

Dimana untuk tahun 2020 arus kas dari aktivitas pendanaan terdiri dari Penerimaan (pembayaran) medium – Team notes sebesar Rp. 2.998.212 untuk di laporan ini disajikan dalam jutaan rupiah maka menjadi Rp. 2.998.212.000.000. Kemudian pembayaran deviden sebesar negatif Rp. 70.536.000.000, pembayaran utang sewa  sebesar negatif   Rp. 16.105.000.000, pembayaran utang pembelian mesin sebesar negatif Rp. 20.836.000.000, pembayaran pinjaman jangka pendek – neto sebesar negatif Rp. 470.000.000, saham treasuri sebesar negatif Rp. 1.848.564.000.000, pembayaran utang bank jangka panjang sebesar negatif Rp. 17.164.000.000. Jadi total kas neto diperoleh dari aktivitas pendanaan adalah sebesar  Rp. 1.024.537.

Untuk tahun 2021 kas dari aktivitas pendanaan terdiri dari Penerimaan (pembayaran) medium – Team notes sebesar negatif Rp. 1.500.000.000.000, pembayaran deviden sebesar negatif Rp. 959.742.000.000, pembayaran utang sewa sebesar Rp. 17.876.000.000, pembayaran utang pembelian mesin sebesar negatif  Rp. 11.022.000.000, pembayaran pinjaman jangka pendek – neto sebesar negatif Rp. 897.000.000,tidak ada transaki untuk saham treasuri, tidak ada transaksi pembayaran utang bank jangka panjang. Jadi total kas neto diperoleh dari aktivitas pendanaan adalah sebesar negatif Rp. 2.489.537.000.

Oleh: Tasya Guchni Khoir

Nim: 202010170311335

Fakultas/Prodi : Fakultas Ekonomi dan Bisnis/Akuntansi

Universitas Muhammadiyah Malang

Daftar Pustaka:

www.ultrajaya.co.id/uploads/ULTJ-Group-Q3-2021.pdf 

www.academia.edu/45642396/Siklus_pendanaan