Tari Saman merupakan salah satu tarian tradisional dari Aceh tepatnya dari dataran tinggi Gayo dan dikembangkan oleh Syekh Mohammad as-Samman, seorang guru tasawuf kelahiran Madinah, pada abad ke-17 Masehi.

Tari Saman sering ditampilkan di acara-acara internasional. Bahkan, banyak orang di berbagai belahan dunia yang sengaja ingin mempelajari lebih jauh tentang Tari Saman.

Pada masa dulu merupakan tarian sakral yang hanya dihadirkan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W., dan itu adalah Syekh Saman, salah seorang ulama Aceh, yang disebut-sebut sebagai pencetus Tari Saman pada abad ke-14 Masehi.

Tarian ini digunakan sebagai media untuk menyebarkan agama Islam serta untuk menyampaikan pesan (dakwah). Sebelum pementasan, biasanya akan ada seorang tokoh adat yang muncul untuk memberikan nasehat baik berupa nasehat atau pantun dalam bahasa Arab dan Gayo.

Keunikan Tari Saman adalah tidak adanya alat musik untuk mengiringi tepuk tangan, dada, dan paha serta gerakan melempar tubuh ke berbagai arah menjadi salah satu daya tarik pertunjukan tari ini.

Awalnya Hanya laki-laki yang diperbolehkan menari Tari Saman, dengan jumlah kurang dari 10 orang. Namun seiring berjalannya waktu, wanita bisa mengikuti tarian ini, bahkan jumlah pemainnya bisa mencapai puluhan.

Tarian tradisional Aceh ini ditetapkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) sebagai Warisan Dunia Budaya Tak berbenda pada 24 November 2011.