Makassar, JURNALNEWS.CO.ID — Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi mengibaratkan Kota Makassar sebagai taman bunga yang menyimpan beragam potensi. Namun, menurutnya, potensi tersebut masih membutuhkan penataan agar keindahannya dapat terlihat dan memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat.

Analogi itu disampaikan Appi saat menjadi pembicara dalam Makassar Marketing Festival 2026 di Hotel Claro Makassar, Kamis (13/8/2026).

“Selalu saya melihat bahwa Kota Makassar ibaratnya taman bunga. Makassar ini adalah sebuah taman bunga yang ditumbuhi dengan berbagai warna bunga yang ada,” kata Munafri.

Ia menilai berbagai persoalan yang masih terdapat di kota menjadi seperti ilalang yang menutupi bunga-bunga tersebut. Karena itu, diperlukan peran pemerintah sebagai “tukang kebun” yang menata kota sekaligus membersihkan berbagai persoalan yang menghambat perkembangan.

“Sehingga dibutuhkan seorang tukang kebun yang mampu menata, menghilangkan semak belukar itu untuk memperlihatkan indahnya bunga-bunga yang ada di taman itu,” tuturnya.

“Dan tukang kebun itu, akan saya perankan dengan baik selama memimpin Kota Makassar di lima tahun ke depan,” sambung Appi disambut tepuk tangan.

Menurut Appi, Makassar memiliki modal besar untuk berkembang, mulai dari letak geografis, budaya, kuliner, pariwisata, ekonomi kreatif hingga karakter masyarakat urban yang dinamis. Namun, seluruh potensi tersebut harus didukung tata kelola pemerintahan yang efektif.

Ia mengaku masih mencari identitas atau tagline yang paling tepat untuk menggambarkan karakter Makassar. Sejak lebih dari setahun memimpin, berbagai alternatif branding telah dibahas, tetapi belum ada konsep yang dinilai mampu merepresentasikan Makassar secara utuh.

“Kalau kita melihat Kota Makassar, sampai detik ini, terus terang, saya masih mencari kata-kata yang sangat cocok untuk mem-branding kota ini,” tuturnya.

“Satu tahun lebih saya mencoba untuk mereset, mencari padanan yang sangat pas. Sampai detik ini belum ketemu,” katanya.

Meski demikian, Appi meyakini Makassar telah memiliki aura kuat untuk menjadi kota yang semakin kompetitif. Posisi sebagai kota urban dengan aktivitas masyarakat yang tinggi dinilai memberikan peluang ekonomi yang besar.

“Kota Makassar ini sudah punya aura yang sangat kuat untuk maju. Dengan berbagai macam aktivitas kehidupan di dalamnya sebagai kota urban,” terang mantan CEO PSM itu.

“Tentu Makassar menjanjikan harapan-harapan besar kepada seluruh masyarakat yang ada di dalamnya,” tambah Appi.

Untuk mewujudkan peluang tersebut, Pemkot Makassar mendorong konsep **impactful government**, yakni pemerintahan yang program dan kebijakannya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Salah satu langkah yang disebut Appi adalah pembenahan pengelolaan sampah melalui pemilahan dari sumber. Kebijakan itu dinilai sebagai upaya membawa praktik pengelolaan lingkungan yang telah berhasil diterapkan di sejumlah negara maju ke Makassar.

“Pemerintah mencoba menerapkan sebuah langkah maju yang pernah menjadi success story di negara-negara maju. Kita paksakan ini untuk terjadi di Kota Makassar,” tegasnya.

Di sektor ekonomi, Pemkot Makassar juga berupaya memperbesar dampak belanja pemerintah terhadap pelaku usaha lokal. Appi menyebut sekitar 50 persen belanja pemerintah diarahkan untuk belanja lokal, termasuk memperkuat keterlibatan UMKM.

“Di dalam menyusun rencana anggaran, pemerintah pun begitu. Kami mencoba memotret bagaimana belanja pemerintah Kota Makassar ini, 50 persennya harus belanja lokal,” sebutnya.

“Kalau dayanya kuat, tentu dampak ekonomi yang dirasakan pasti akan jauh lebih baik. Itu cara kami untuk menggerakkan ekonomi lokal yang ada di Kota Makassar,” terang Appi.

Appi juga menjelaskan alasan Pemkot Makassar tidak terburu-buru melakukan promosi kota secara besar-besaran. Menurutnya, pembenahan internal harus dilakukan terlebih dahulu agar wisatawan yang datang memperoleh pengalaman sesuai dengan ekspektasi.

“Kami tidak ingin orang datang cuma sekali di Kota Makassar. Tapi kami ingin memperbaiki tata kota, lalu mengundang orang datang dan orang akan berdecak kagum dan datang untuk mengajak kolega-koleganya yang lain. Ini yang menjadi cita-cita kita,” pesan Wali Kota.

Salah satu strategi yang ditempuh adalah memperkuat penyelenggaraan event berskala besar. Menurut Appi, kegiatan yang mendatangkan banyak orang memiliki efek berantai terhadap perekonomian kota.

“PHRI bisa menjadi saksi bagaimana peningkatan hunian hotel hari ini di Kota Makassar,” katanya.

“Semakin banyak orang yang datang, maka semakin besar pula uang yang berputar di dalam kota. Tamu-tamu ini akan belanja di pasar-pasar kami. Ini akan memenuhi kamar-kamar hotel kami dan sirkulasi ekonomi akan berjalan dengan kurva yang sempurna di kota ini,” lanjut Munafri.

Makassar juga dinilai memiliki modal kuat untuk dikembangkan sebagai pusat perdagangan, jasa, pariwisata dan ekonomi kreatif. Garis pantai yang panjang, gugusan Kepulauan Spermonde serta posisi strategis pada jalur perdagangan dan konektivitas Asia-Pasifik menjadi bagian dari potensi tersebut.

Appi juga menyoroti pentingnya keamanan, kenyamanan dan toleransi sebagai fondasi pembangunan kota. Ia menyebut posisi Makassar dalam indeks toleransi mengalami peningkatan.

“Bagaimana nilai toleransi yang ada di Kota Makassar. Untuk kota-kota besar tahun sebelumnya kita berada di posisi 50-an, 40-an. Alhamdulillah tahun ini sudah masuk menjadi nomor 9 yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Persoalan kepemudaan dan pengangguran juga menjadi perhatian Pemkot Makassar. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menghadirkan Makassar Creative Hub sebagai ruang pengembangan keterampilan bagi generasi muda.

“Yang mau jadi entrepreneur silakan datang, yang mau jadi barista silakan datang, yang mau jadi makeup artist silakan datang, yang mau belajar coding silakan datang,” jelasnya.

Saat ini terdapat dua Makassar Creative Hub yang diarahkan tidak hanya sebagai tempat pelatihan, tetapi juga sebagai ruang membangun jejaring dan mengembangkan potensi.

“Event Netflix pun sudah datang, Apple Academy pun sudah datang. Kami tidak mau cuma dikenal sebagai pintu gerbang Indonesia Timur, tapi kami mau dikenal sebagai Kota Makassar, kota yang besar, The Great of Makassar,” tegasnya.

Pemkot Makassar juga menyiapkan forum yang mempertemukan berbagai brand lokal. Appi menekankan agar kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai ajang pameran, tetapi menghasilkan transaksi, akses permodalan, pengetahuan, dan jejaring bisnis.

“Percuma kita bikin event-event kalau hanya cerita-cerita kartu nama lalu tidak ada implementasi apa-apa. Ini yang kami bangun di Kota Makassar,” terangnya.

Dalam upaya mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, Pemkot Makassar juga mengembangkan Lontara Plus. Platform tersebut dirancang untuk mengintegrasikan berbagai aplikasi pelayanan yang sebelumnya tersebar di sejumlah SKPD.

“Kami develop yang namanya Lontara Plus. Ini menggabungkan 380 aplikasi yang tumbuh di masing-masing SKPD. Kami jadikan satu,” ungkapnya.

Namun, Appi menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya diukur dari jumlah aplikasi yang terintegrasi. Hal terpenting adalah kemampuan pemerintah merespons kebutuhan dan aduan masyarakat secara cepat.

Pada akhirnya, seluruh kebijakan tersebut diarahkan untuk membangun pemerintahan yang lebih responsif sekaligus memperkuat daya saing Makassar.

“Dengan berbagai potensi dan tantangan yang di Kota ini, kami meyakini Makassar memiliki peluang besar untuk menjadi kota yang semakin kompetitif,” tukasnya. (*)