JURNALNEWS.CO.ID – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan sejumlah kendala serius yang menyebabkan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kurang menarik bagi investor.

Kepala Kantor Perwakilan BI NTT, Agus Sistyo Widjajati, dalam pertemuan dengan media di Kupang pada Kamis, 30 Januari 2025, menjelaskan bahwa iklim investasi di NTT masih belum optimal. Salah satu faktor utama yang perlu segera diperbaiki adalah sektor pertanian.

Menurut Agus, produktivitas dan kualitas hasil pertanian di NTT masih tergolong rendah, sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah. Kondisi ini membuat komoditas pokok NTT kurang kompetitif dibandingkan dengan provinsi lain, yang pada akhirnya turut memengaruhi minat investor.

“Padahal ini faktor penopang ekonomi NTT,” kata Agus.

NTT kini berada di peringkat ke-25 dari daftar provinsi yang mampu menarik Penanaman Modal Asing (PMA). Soal Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), NTT hanya mampu duduk di peringkat 30. Dengan kata lain NTT tergolong sepi investasi.

Menurutnya, El Nino atau cuaca buruk jadi tantangan besar bagi pertanian NTT. Produktivitasnya akan selalu terganggu. Saat ini saja turun jadi 1,3 persen dari 2024. Ketahanan pangan yang lemah tersebut membuat angka PMA dan PMDN ikut rendah.

Nilai impor NTT membludak hingga Rp 40,49 triliun, sedangkan ekspornya cuma Rp 5,88 triliun. Secara neraca NTT jelas-jelas minus Rp 34,61 triliun.

Faktanya, lanjut Agus, NTT hanya bisa mengharapkan kebutuhan pokoknya terpenuhi dengan impor dari Jawa Timur, Jakarta, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan.

“Artinya NTT saat ini menjadi pasar dari provinsi lain atau jadi tempat menjual hasil produksi provinsi lain,” sebut dia.

Secara simulasi, NTT sebenarnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi tahunan hingga 2,09 persen hanya dari sektor pertanian. Capaian ini mungkin terjadi apabila investasi Rp 1 triliun masuk ke sektor pertanian.

Investasi ini harus diikuti dengan hilirisasi komoditas pertanian. Hilirisasi atau penguatan nilai tambah ini dapat melalui industri makanan dan minuman. Dampaknya, sektor lain seperti pariwisata akan ikut bertumbuh.

“Apabila investasi Rp 1 triliun di bidang pertanian maka dapat meningkatkan pertumbuhan 2 persen, sedangkan pariwisata bisa tumbuh Rp 1,4 persen. Maka tidak mustahil secara simulasi pertumbuhan ekonomi NTT bisa 5 sampai 8 persen,” bebernya.

Memang ekonomi NTT tumbuh 4,02 persen di 2024 lalu, terang Agus, namun pertumbuhan ini di bawah nasional yang mencapai 5,03 persen.

Dalam dua tahun terakhir, perekonomian NTT mengalami pelemahan dibandingkan periode sebelum pandemi Covid-19. Pada masa pra-Covid-19 (2015-2019), rata-rata pertumbuhan ekonomi NTT mencapai 5,10 persen secara year on year (yoy). Namun, angka tersebut menurun menjadi 3,15 persen yoy sepanjang 2022-2024.

Penulis: Putra Firmandus