Setiap tanggal satu, Arman selalu merasa seperti baru saja menerima kabar baik.

Gajinya masuk.

Ponselnya berbunyi sejak pagi.

Saldo rekening bertambah.

Namun, rasa senang itu tidak pernah bertahan lama.

Belum sempat ia membuka aplikasi mobile banking untuk menikmati angka di layar, satu per satu pesan mulai masuk.

Tagihan listrik.

Cicilan motor.

Pembayaran kontrakan.

Tagihan internet.

Uang sekolah anak.

Belum lagi pesan dari aplikasi pinjaman yang dulu pernah ia gunakan ketika istrinya melahirkan.

Arman menghela napas.

Baru pukul tujuh pagi, tapi uangnya sudah seperti memiliki pemilik masing-masing.

Ia hanya menjadi tempat singgah.

“Gajinya sudah masuk, Yah?”

Suara Rina terdengar dari dapur.

Arman menoleh. Istrinya sedang menggoreng telur untuk sarapan. Di atas meja hanya ada nasi, telur dadar, dan sambal.

“Sudah,” jawab Arman.

“Alhamdulillah.”

Rina tersenyum.

Arman ikut tersenyum, meski di dalam kepalanya sedang berlangsung rapat besar antara pendapatan dan pengeluaran.

Gajinya enam juta rupiah.

Kontrakan satu juta.

Cicilan motor delapan ratus ribu.

Listrik dan air empat ratus ribu.

Internet dua ratus lima puluh ribu.

Uang sekolah dan kebutuhan anak.

Belanja dapur.

Bensin.

Belum lagi cicilan kulkas.

Dan entah sejak kapan, hidup mereka berubah menjadi daftar pembayaran.

Dulu Arman berpikir, ketika sudah memiliki pekerjaan tetap, semuanya akan lebih mudah.

Ternyata pekerjaan tetap hanya membuat tagihan datang lebih teratur.

Di kantor, Arman dikenal sebagai orang yang paling jarang mengeluh.

Ia datang tepat waktu.

Menyelesaikan pekerjaan.

Tertawa ketika teman-temannya bercanda.

Bahkan sesekali ikut mentraktir kopi sachet di warung depan kantor.

Tak ada yang tahu bahwa sebelum berangkat kerja, Arman sering menghitung uang di dompetnya.

Hari itu hanya tersisa lima puluh ribu.

Harus cukup untuk bensin selama tiga hari.

Saat jam makan siang, beberapa temannya mengajak makan di rumah makan.

“Man, ikut?”

Arman menggeleng.

“Bawa bekal.”

Padahal bekalnya hanya nasi dan telur dadar yang sama seperti sarapan pagi tadi.

Ia tidak malu.

Hanya saja, kadang ia merasa sedih karena harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Di ponselnya, sebuah notifikasi muncul.

Pelanggan yang terhormat, pembayaran Anda jatuh tempo hari ini.

Arman menatap layar cukup lama.

Kemudian menguncinya.

Ia kembali bekerja.

Malam hari adalah waktu paling berat bagi Arman.

Bukan karena tubuhnya lelah.

Melainkan karena pada malam hari, semua tagihan terasa lebih keras berbicara.

Saat rumah sudah sepi dan anak-anak tidur, ia membuka buku kecil berwarna biru.

Di sana tertulis semua pengeluaran keluarga.

Dengan tulisan tangannya sendiri.

Cicilan motor — Rp800.000

Kontrakan — Rp1.000.000

Kulkas — Rp450.000

Listrik dan air — Rp400.000

Sekolah — Rp700.000

Belanja — ?

Di bagian terakhir, Arman sering memberi tanda tanya.

Karena harga kebutuhan rumah tangga tidak pernah mau mengikuti rencana.

Beras naik.

Minyak goreng naik.

Gas naik.

Uang sekolah bertambah.

Anak sakit.

Motor rusak.

Selalu ada sesuatu.

Selalu ada pengeluaran yang datang tanpa mengetuk pintu.

Rina keluar dari kamar dan duduk di sampingnya.

“Masih menghitung?”

Arman mengangguk.

“Kurang lagi?”

“Entahlah.”

Rina diam.

Mereka sudah menikah hampir sembilan tahun.

Dulu, mereka sering berbicara tentang rumah impian.

Tentang mobil kecil.

Tentang liburan bersama anak-anak.

Tentang membuka usaha.

Sekarang, pembicaraan mereka lebih sederhana.

“Gas masih ada?”

“Beras cukup sampai kapan?”

“Uang sekolah sudah dibayar?”

“Tagihan listrik bulan ini berapa?”

Impian mereka tidak hilang.

Hanya tertunda.

Tertimbun cicilan.

Suatu malam, anak pertama mereka, Dika, keluar dari kamar.

Usianya sebelas tahun.

“Yah.”

“Iya?”

“Besok di sekolah teman-teman mau ikut study tour.”

Arman menatap anaknya.

“Ke mana?”

“Ke luar kota.”

“Biayanya berapa?”

Dika menyebutkan jumlahnya.

Arman diam.

Jumlah itu sebenarnya tidak terlalu besar.

Bagi sebagian orang, mungkin hanya uang makan sehari.

Tapi bagi Arman, jumlah itu berarti satu tagihan harus menunggu.

Atau cicilan harus dibayar terlambat.

Atau belanja dapur harus dikurangi.

“Masih lama daftarnya?”

“Besok terakhir.”

Arman mengangguk.

“Nanti Ayah pikirkan.”

Dika tersenyum.

“Terima kasih, Yah.”

Anaknya kembali ke kamar.

Arman tetap duduk di ruang tamu.

Rina menatap suaminya.

“Kalau memang tidak cukup, tidak apa-apa, Mas.”

Arman tersenyum pahit.

“Yang tidak apa-apa itu kita. Tapi anak-anak jangan terlalu sering belajar bahwa hidup ini selalu kekurangan.”

Rina menunduk.

Kalimat itu membuat ruangan terasa semakin sunyi.

Keesokan harinya, Arman menjual jam tangan kesayangannya.

Jam itu hadiah dari ayahnya ketika ia pertama kali diterima bekerja.

Tidak mahal.

Tapi penuh kenangan.

Ia menjualnya kepada teman kantor.

Uangnya cukup untuk membayar biaya study tour Dika dan membeli kebutuhan rumah selama beberapa hari.

Saat pulang, Dika menyambutnya dengan wajah cerah.

“Ayah! Aku jadi ikut!”

Arman mengangguk.

“Iya.”

“Terima kasih, Yah!”

Anaknya memeluknya.

Pelukan itu sederhana.

Tapi entah kenapa, Arman merasa seperti baru saja menerima gaji paling besar dalam hidupnya.

Hari terus berjalan.

Cicilan tetap datang.

Tagihan tetap masuk.

Harga kebutuhan tidak menjadi lebih murah hanya karena Arman sedang kesulitan.

Namun, perlahan ia dan Rina belajar sesuatu.

Bahwa hidup tidak selalu harus dipaksakan terlihat berhasil.

Mereka mulai mengurangi hal-hal yang tidak perlu.

Rina berhenti membeli pakaian hanya karena sedang diskon.

Arman mulai membawa bekal setiap hari.

Mereka menjual motor lama yang jarang digunakan.

Mereka bahkan membuat aturan baru.

Tidak ada cicilan baru sebelum cicilan lama selesai.

“Kalau tidak punya uang tunai, berarti belum mampu,” kata Rina suatu malam.

Arman tertawa.

“Dulu kita tidak berpikir begitu.”

“Dulu kita pikir punya barang berarti hidup lebih baik.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku pikir tidur tanpa takut ada pesan tagihan masuk itu lebih mewah.”

Mereka tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawa itu terasa ringan.

Beberapa bulan kemudian, satu cicilan selesai.

Arman tidak langsung membeli sesuatu.

Ia dan Rina hanya duduk di teras kontrakan sambil minum teh hangat.

“Sudah lunas,” kata Rina sambil melihat layar ponsel.

Arman mengangguk.

“Masih banyak.”

“Iya.”

“Tapi berkurang satu.”

“Iya.”

Mereka saling tersenyum.

Bagi orang lain, mungkin itu bukan kemenangan besar.

Tidak ada pesta.

Tidak ada foto.

Tidak ada ucapan selamat.

Hanya dua orang dewasa yang duduk di depan rumah kontrakan, ditemani suara kendaraan yang lalu lalang.

Namun bagi mereka, satu cicilan lunas adalah sebuah kemenangan.

Satu beban yang turun dari pundak.

Satu alasan untuk bernapas lebih lega.

Malam itu, Arman membuka kembali buku kecil berwarna biru.

Daftar tagihan masih panjang.

Cicilan motor masih ada.

Kontrakan masih harus dibayar.

Sekolah anak masih membutuhkan biaya.

Listrik akan kembali menagih bulan depan.

Begitu juga air.

Begitu juga kehidupan.

Arman menutup buku itu.

Kemudian masuk ke kamar.

Dika dan adiknya sudah tidur.

Rina juga sedang berbaring sambil memainkan ponsel.

“Mas,” katanya.

“Hm?”

“Capek?”

Arman diam sejenak.

“Capek.”

“Menyerah?”

Arman menatap langit-langit kamar.

“Belum.”

Rina tersenyum.

“Kenapa?”

Arman memandang anak-anaknya.

“Karena mungkin hidup kita sekarang memang di antara cicilan dan tagihan. Tapi jangan sampai seluruh hidup kita hanya tentang itu.”

Rina menggenggam tangannya.

Di luar sana, mungkin ada tagihan yang belum dibayar.

Mungkin besok ada kebutuhan mendadak.

Mungkin bulan depan keadaan belum tentu lebih mudah.

Namun malam itu, mereka masih memiliki satu sama lain.

Masih ada makanan di dapur.

Masih ada tempat untuk pulang.

Masih ada pekerjaan untuk dijalani.

Dan yang paling penting, masih ada harapan.

Arman akhirnya mengerti.

Menjadi dewasa ternyata bukan tentang memiliki semuanya.

Kadang, menjadi dewasa adalah tentang tetap tersenyum ketika saldo rekening menipis.

Tetap bekerja ketika tubuh lelah.

Tetap pulang meski kepala penuh pikiran.

Tetap menjadi ayah meski merasa belum mampu memberikan semua yang diinginkan anak-anak.

Dan tetap percaya bahwa suatu hari nanti, satu per satu cicilan akan selesai.

Satu per satu tagihan akan terbayar.

Sebab hidup memang kadang terasa seperti berjalan di lorong sempit, dengan cicilan di sebelah kanan dan tagihan di sebelah kiri.

Tetapi selama masih ada langkah yang bisa diambil, manusia harus terus berjalan.

Pelan-pelan.

Satu hari.

Satu tagihan.

Satu cicilan.

Dan satu harapan pada satu waktu.