JURNALNEWS.CO.ID – Hujan deras mengguyur kota tempat Laras mengadu nasib. Di dalam kamar kontrakan sempit, ia duduk memandangi tetesan air yang jatuh membasahi jendela. Tangan mungilnya menggenggam ponsel yang sudah mulai retak di sudut layar. Matanya berkaca-kaca.
Tiba-tiba, ponsel bergetar. Nama “Ibu” muncul di layar. Laras buru-buru menyeka air matanya dan menekan tombol hijau.
“Halo, Bu…” Suaranya bergetar.
“Laras, apa kabar? Kamu baik-baik saja, kan?” Suara lembut ibunya menyapa dari seberang sana.
Laras terdiam sesaat, mencoba menahan sesak di dada. “Baik, Bu… Laras baik-baik saja.”
“Kamu makan apa hari ini? Jangan sampai telat makan. Ibu khawatir kamu sakit.” Nada suara ibunya penuh perhatian, tetapi Laras tahu, di balik itu ada rasa rindu yang sama beratnya.
Laras menarik napas dalam-dalam. “Tadi makan, Bu… Tempe goreng.” Jawabannya singkat, tidak ingin membuat ibunya khawatir.
Hening sejenak. Suara hujan menjadi latar belakang yang memilukan.
“Kapan pulang, Nak? Ibu rindu…”
Kata-kata itu seperti anak panah yang langsung menusuk hati Laras. Air matanya akhirnya tumpah.
“Maaf, Bu…Laras belum bisa pulang sekarang. Kerjaannya belum stabil. Tapi… Laras juga rindu… rindu sekali…” Suaranya pecah.
Ibunya terdiam. Hanya suara isak tertahan yang terdengar. “Ibu tahu… Tidak apa-apa, Nak. Asal kamu sehat dan kuat di sana. Ibu selalu mendoakan.”
Laras memejamkan mata. Bayangan rumah sederhana di kampung, wajah ibunya yang penuh kasih, dan aroma masakan favoritnya kembali memenuhi pikirannya. Hati kecilnya berteriak ingin pulang.
“Bu, kalau bisa… Laras ingin memeluk Ibu sekarang…”
Suara di seberang sana ikut terisak. “Sabar, Nak. Akan ada waktunya kita bertemu. Kamu kuat, ya?”
Laras mengangguk, meski ibunya tak bisa melihat. “Iya, Bu… Laras akan kuat.”
Telepon berakhir, tetapi Laras tetap duduk di sana, memandang jendela yang mulai berembun. Jauh di rantauan, ia menyadari bahwa kadang, rindu adalah pelajaran paling berat yang harus ia hadapi.
(Aqilah)

Tinggalkan Balasan