JURNALNEWS.CO.ID – Hening menyelimuti kamar kecil itu. Dinda duduk termenung di tepi ranjang, memandangi kotak kayu tua yang baru saja ia temukan di lemari peninggalan ibunya. Kotak itu berdebu, tapi ukiran bunga di permukaannya masih terlihat jelas. Dengan hati-hati, ia membuka tutupnya dan menemukan sepucuk surat yang dilipat rapi di dalamnya.

Tangan Dinda gemetar saat meraih surat itu. Ada sesuatu yang aneh—kertasnya tampak tua, namun tulisan di atasnya begitu jelas, seolah baru saja ditulis. Di bagian atasnya tertulis: “Untuk Dinda, dari Ibu.”

Dinda menahan napas. Ibunya telah tiada setahun yang lalu, namun surat ini seperti membawa suara ibunya kembali. Perlahan, ia membuka lipatan kertas itu dan mulai membaca:

“Dinda sayang,

Jika kau membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada di dunia ini. Jangan menangis, Nak. Aku tahu betapa berat kehilangan seseorang yang kau cintai, tapi aku ingin kau tahu bahwa aku selalu ada di dekatmu, meski tak terlihat.

Hidup sering kali membawa luka, tapi percayalah, setiap luka akan membuatmu lebih kuat. Jangan pernah menyerah pada kesedihan, Dinda. Kau adalah anak yang tangguh, seperti pohon yang tetap berdiri meski diterpa badai.

Aku menitipkan doa untukmu di setiap helai angin yang berhembus. Jika kau merasa rindu, pandanglah bintang-bintang di langit. Di sanalah aku berada, tersenyum melihatmu melangkah maju.

Jangan lupa untuk bahagia, Nak. Hidup ini terlalu singkat untuk terus meratapi kehilangan. Peluklah hari-harimu dengan cinta, seperti aku selalu memelukmu dalam doaku.

Dengan cinta abadi,
Ibumu.”

Air mata Dinda jatuh tanpa henti. Surat itu seperti pelukan hangat dari ibunya yang telah lama hilang. Ia merasakan kehadiran ibunya begitu dekat, meski hanya lewat kata-kata di atas kertas.

Hari itu, Dinda memutuskan untuk tidak lagi larut dalam kesedihan. Ia menyimpan surat itu di tempat yang paling aman, sebagai pengingat bahwa cinta ibunya akan selalu ada, bahkan setelah kematian.

Dinda menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Dalam hatinya, ia berbisik, “Terima kasih, Bu. Aku akan melanjutkan hidup dengan senyum, seperti yang Ibu inginkan.”

Langit malam terasa lebih terang dari biasanya, seolah ibunya menjawab bisikannya dari alam baka.

(Aqilah)