JURNALNEWS.CO.ID – Senja perlahan tenggelam, mewarnai langit dengan semburat jingga yang hampir pudar. Di sebuah taman kota, dua sosok duduk di bangku tua. Hening. Hanya angin yang sesekali berdesir di antara mereka.

“Masih ingat tempat ini?” tanya Sinta, suaranya lirih, nyaris tenggelam dalam angin sore.

Bram mengangguk pelan, matanya menerawang ke kejauhan. “Dulu kita sering ke sini, bukan? Setiap pulang kuliah.”

Sinta tersenyum getir. “Iya. Dan kau selalu membawakan aku bunga.”

“Kali ini aku tak bawa apa-apa,” ujar Bram, suaranya bergetar.

“Tak perlu.” Sinta menunduk, tangannya meremas ujung syal yang melilit lehernya. “Waktu itu… aku berharap kau akan tetap di sisiku.”

Bram terdiam. Kata-kata yang ingin diucapkannya tertahan di tenggorokan. Dia tahu, semua ucapan maaf kini tak berarti lagi. Semua terlambat.

“Aku masih ingat janji kita,” lanjut Sinta, matanya berkaca-kaca. “Janji yang kita buat di sini, di bangku ini. Tentang masa depan.”

Bram menggigit bibirnya, berusaha menahan emosi. “Sinta, aku…”

Sinta menggeleng. “Sudah tak ada gunanya, Bram. Aku sudah lelah. Semua ini sudah terlalu jauh.”

Hening kembali menyelimuti mereka. Burung-burung bergegas kembali ke sarangnya, meninggalkan taman yang semakin sepi.

“Aku hanya ingin kau tahu satu hal,” suara Bram serak. “Aku menyesal.”

Sinta menatapnya. Ada banyak cerita yang tak pernah selesai di antara mereka. Luka yang menganga, namun tak pernah diobati.

“Penyesalan selalu datang terlambat, Bram,” ujar Sinta, suaranya nyaris berbisik. “Tapi aku sudah memaafkanmu. Untuk semuanya.”

Tanpa menunggu jawaban, Sinta bangkit dari bangku itu. Langkahnya perlahan menjauh, meninggalkan Bram yang terdiam, sendiri di bawah langit senja.

Taman itu kembali sunyi, hanya menyisakan sepotong kenangan yang menggantung di udara.

Bagaimana menurut Anda?