JURNALNEWS.CO.ID – Malam itu, dingin menusuk tulang. Angin berembus pelan melalui celah-celah jendela kayu yang sudah lapuk. Dini duduk di sudut kamar kecilnya, menatap langit-langit dengan mata yang mulai basah. Perutnya perih menahan lapar, tapi ia mencoba bertahan, seperti yang selalu diajarkan ibunya.

Ramadan tahun ini terasa berbeda. Sejak kepergian ayahnya akibat sakit yang tak kunjung sembuh, hidupnya dan ibu berubah drastis. Mereka harus meninggalkan rumah kontrakan yang tak lagi mampu mereka bayar dan berpindah ke gubuk kecil di pinggiran kota. Ibu bekerja serabutan, sementara Dini—yang baru berusia sepuluh tahun—tak lagi bisa sekolah karena tak ada biaya.

Malam itu, sahur datang tanpa banyak pilihan. Di atas meja kayu reyot, hanya ada sepotong roti yang didapat ibu dari seorang dermawan di masjid siang tadi. Dini melihat ibunya membelah roti itu menjadi dua, lalu menyodorkan separuh bagian kepadanya.

“Makanlah, Nak. Sahur itu penting,” kata ibu dengan suara lembut namun lelah.

Dini menggigit rotinya perlahan. Ia tahu ibunya belum makan sejak berbuka tadi, hanya meneguk air putih dan sebutir kurma. “Ibu juga makan, ya?” tanyanya dengan suara lirih.

Ibu tersenyum tipis, mengelus kepala Dini. “Ibu sudah kenyang, Nak.”

Tapi Dini tahu itu tidak benar. Ia tahu ibunya hanya berpura-pura agar dirinya bisa makan dengan tenang. Hatinya sesak. Ia ingin membujuk ibunya untuk makan, tetapi ia juga tahu ibu tak akan pernah mau mengambil bagian yang seharusnya untuknya.

Saat adzan Subuh berkumandang, Dini menelan suapan terakhir rotinya dengan mata berkaca-kaca. Ia menatap wajah ibunya yang semakin tirus. Ramadan kali ini penuh dengan ujian, dan entah berapa lama lagi mereka bisa bertahan.

Pagi itu, Dini berdoa lebih lama dari biasanya. Ia tidak meminta mainan, baju baru, atau makanan enak. Ia hanya berharap agar suatu hari nanti, ibunya tidak lagi harus berpura-pura kenyang.

Dan semoga, Ramadan berikutnya mereka tidak lagi hanya berbagi sepotong roti untuk sahur terakhir.