JURNALNEWS.CO.ID – Hening menyelimuti lorong rumah sakit. Aroma obat dan disinfektan bercampur dengan udara dingin dari pendingin ruangan. Di salah satu sudut, seorang wanita paruh baya duduk dengan wajah penuh kecemasan. Namanya Bu Siti, seorang ibu yang tengah menunggu kabar dari ruang operasi.

Di balik pintu bertuliskan “RUANG OPERASI,” anak laki-lakinya, Arif, sedang berjuang melawan maut. Arif, pemuda berusia 17 tahun, adalah harapan satu-satunya bagi Bu Siti. Sejak suaminya meninggal tiga tahun lalu, Arif menjadi tulang punggung keluarga, bekerja serabutan untuk membantu ibunya. Namun, kecelakaan tragis pagi itu membuat segalanya berubah.

Bu Siti menggenggam tasbih yang sudah lusuh. Bibirnya terus bergetar, melafalkan doa-doa yang ia hafal sejak kecil. “Ya Allah, selamatkan anakku. Jangan ambil dia dariku. Hanya dia yang aku punya,” ucapnya lirih, berulang-ulang. Air matanya mengalir tanpa henti, membasahi kerudung biru tuanya.

Sesekali, langkah kaki perawat terdengar melewati lorong. Namun, tak satu pun membawa kabar tentang Arif. Waktu terasa berjalan begitu lambat. Jam dinding di atas pintu ruang operasi menunjukkan pukul dua pagi.

Pikirannya melayang pada kenangan bersama Arif. Ia ingat saat Arif pertama kali masuk sekolah, membawa tas punggung yang lebih besar dari tubuhnya. Ia ingat senyum lebar Arif ketika berhasil membeli beras dengan uang hasil kerjanya. Semua kenangan itu membuat hatinya semakin sesak.

Tiba-tiba, pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah serius. Bu Siti segera bangkit, mendekati dokter dengan langkah gemetar. “Bagaimana anak saya, Dok?” tanyanya dengan suara bergetar.

Dokter itu menarik napas panjang sebelum menjawab. “Kami sudah melakukan yang terbaik, Bu. Tapi kondisi anak Ibu sangat kritis. Kita hanya bisa berdoa sekarang.”

Dunia seakan runtuh bagi Bu Siti. Ia terduduk lemas, tasbih di tangannya terlepas. Namun, ia segera menguatkan diri. “Ya Allah, jika memang ini jalan-Mu, aku ikhlas. Tapi jika Kau beri dia kesempatan, aku akan menjaga amanah-Mu sebaik-baiknya,” doanya dalam hati.

Pagi menjelang, matahari mulai menyinari lorong rumah sakit. Di dalam ruang ICU, Arif perlahan membuka matanya. Meski lemah, ia mencoba tersenyum saat melihat ibunya di sisi tempat tidur. “Bu… maaf, Arif merepotkan,” katanya pelan.

Bu Siti memeluk anaknya dengan air mata haru. “Tidak, Nak. Kamu adalah anugerah terbesar dalam hidup Ibu. Terima kasih sudah bertahan.”

Hari itu, doa seorang ibu di balik pintu rumah sakit menjadi saksi kekuatan cinta yang tak pernah pudar.

(Reza)