Namamu Masih Ada di Kontak Ponselku

Setiap kali membuka daftar kontak di ponsel, aku selalu berhenti pada satu nama.

Ibu.

Namamu masih ada di sana.

Foto profilmu masih sama. Senyum sederhana dengan kerudung biru yang kau pakai ketika aku mengantarmu ke rumah sakit beberapa bulan lalu.

Nomormu juga masih tersimpan.

Aku tahu, nomor itu sudah tak akan pernah lagi menerima telepon dariku.

Tapi anehnya, aku tidak sanggup menghapusnya.

Malam itu, hujan turun deras. Aku duduk sendirian di ruang tamu. Rumah yang dulu selalu terasa sempit karena suara televisi, suara piring, dan suara langkah kakimu, kini terasa terlalu luas.

Aku membuka ponsel.

Jariku kembali menyentuh namamu.

Ibu.

Aku menatap layar cukup lama.

Lalu, tanpa sadar, aku menekan tombol panggil.

Tut…

Tut…

Tut…

Sambungan itu tentu saja tidak pernah terangkat.

Aku tersenyum kecil, meski air mataku mulai jatuh.

“Bu, aku cuma mau dengar suara Ibu.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Padahal aku tahu, tak akan ada jawaban.

Dulu, aku sering merasa terganggu oleh teleponmu.

“Sudah makan?”

“Jangan pulang malam.”

“Kalau hujan, bawa payung.”

“Uangnya masih ada?”

Pertanyaan yang sama hampir setiap hari.

Kadang aku menjawab singkat.

“Iya, Bu.”

Kadang aku bahkan tidak mengangkatnya.

Bukan karena aku tidak sayang.

Aku hanya terlalu sibuk mengejar hidup yang kupikir jauh lebih penting.

Aku bekerja dari pagi hingga malam. Mengejar jabatan, mengejar uang, mengejar sesuatu yang dulu kukira bisa membuat kita bahagia.

Setiap kali Ibu menelepon, aku sering melihat layar ponsel lalu berkata dalam hati,

Nanti saja. Aku telepon balik.

Tapi “nanti” ternyata tidak selalu datang.

Hari terakhir itu terjadi pada sebuah Selasa.

Aku sedang berada di kantor ketika ponselku berdering.

Nama yang muncul di layar membuatku menghela napas.

Ibu.

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu aku mematikan suara dering.

“Aku lagi rapat,” bisikku.

Beberapa menit kemudian, telepon kembali masuk.

Aku kembali menolaknya.

Pesan WhatsApp kemudian muncul.

Ibu:
Kalau sudah selesai kerja, pulang ya.

Aku hanya membaca pesan itu tanpa membalas.

Sore harinya, adikku menelepon.

Suaranya berbeda.

“Mas… pulang sekarang.”

“Kenapa?”

“ Ibu masuk rumah sakit.”

Dunia seperti berhenti.

Aku langsung berdiri.

Untuk pertama kalinya hari itu, aku menelepon balik nomor Ibu.

Tidak aktif.

Aku menelepon lagi.

Tetap tidak aktif.

Di perjalanan menuju rumah sakit, aku terus melihat layar ponsel.

Nama itu masih ada.

Ibu.

Aku berharap teleponku tiba-tiba diangkat.

Aku berharap suara yang selama ini sering kuabaikan kembali terdengar.

Tapi harapan itu tidak pernah sampai.

Ketika aku tiba, adikku sudah berdiri di depan ruang perawatan.

Matanya merah.

Aku tidak perlu bertanya.

Aku sudah tahu.

“Mas… Ibu sudah pergi.”

Kakiku terasa kehilangan tenaga.

Aku masuk ke ruangan.

Ibu terbaring diam.

Tidak ada lagi suara yang bertanya apakah aku sudah makan.

Tidak ada lagi tangan yang merapikan rambutku.

Tidak ada lagi senyum yang menyambutku setiap kali aku pulang.

Aku menggenggam tanganmu.

Dingin.

“Bu… maaf.”

Hanya dua kata itu yang mampu keluar.

Aku menangis seperti anak kecil.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku berharap bisa kembali menjadi anak yang belum mengenal kesibukan, uang, pekerjaan, dan ambisi.

Aku hanya ingin pulang.

Aku hanya ingin duduk di sampingmu.

Aku hanya ingin menjawab teleponmu.

Tiga bulan berlalu.

Rumah berubah.

Cangkir kesukaanmu masih berada di rak.

Kursi tempatmu biasa duduk masih menghadap televisi.

Tanaman yang setiap pagi kau siram mulai mengering.

Dan aku masih belum sanggup memindahkan barang-barangmu.

Malam itu, aku kembali membuka daftar kontak.

Namamu masih di sana.

Aku hampir menghapusnya.

Jempolku berhenti di atas layar.

Aku teringat pesan terakhirmu.

Kalau sudah selesai kerja, pulang ya.

Air mataku jatuh.

“Maaf, Bu.”

Aku menekan tombol panggil.

Bukan karena berharap kau akan mengangkatnya.

Aku hanya ingin mendengar suara sambungan telepon itu.

Tut…

Tut…

Tut…

Kemudian suara operator terdengar.

Aku menutup mata.

“Bu, hari ini aku sudah makan.”

Aku tertawa kecil di antara tangis.

“Sekarang aku sudah rajin pulang.”

Aku diam sebentar.

“Cuma… rumahnya sudah tidak sama.”

Malam semakin larut.

Aku memeluk ponsel itu seperti seseorang yang sedang memeluk kenangan.

Sebelum tidur, aku membuka kontakmu sekali lagi.

Nama itu masih ada.

Ibu.

Dan mungkin akan tetap ada di sana.

Bukan karena aku tidak tahu bagaimana cara menghapusnya.

Tetapi karena ada beberapa nama yang tidak seharusnya dihapus dari hidup kita.

Mereka mungkin sudah pergi dari dunia.

Namun cinta mereka tetap tinggal.

Di rumah.

Di ingatan.

Di doa.

Dan di sebuah layar kecil yang setiap kali menyala, mengingatkanku bahwa dulu…

pernah ada seseorang yang selalu menungguku pulang.

Seseorang yang teleponnya terlalu sering kuabaikan.

Seseorang yang ternyata hanya ingin memastikan aku baik-baik saja.

Seseorang yang sekarang tidak mungkin lagi meneleponku.

Namanya masih ada di kontak ponselku.

Dan mungkin akan selalu ada.

Ibu.

Karena beberapa kehilangan tidak pernah benar-benar selesai.

Kita hanya belajar menjalani hari dengan ruang kosong yang mereka tinggalkan.

Dan aku…

masih belajar menerima bahwa kali ini, ketika aku pulang,

Ibu benar-benar tidak lagi menunggu.

(Mely)