JURNALNEWS.CO.ID – Pemerintah memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) nasional tetap dalam kondisi aman meskipun situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah meningkat dan berdampak pada terganggunya jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi guna menjaga ketahanan energi nasional. Salah satu strategi yang dilakukan adalah mengalihkan sumber impor minyak mentah dari kawasan lain yang tidak melewati jalur tersebut.
Menurut Bahlil, sebagian pasokan minyak mentah kini dialihkan dari negara-negara yang memiliki jalur distribusi alternatif, seperti kawasan Amerika dan beberapa negara lain yang tidak bergantung pada Selat Hormuz. Sementara untuk kebutuhan bensin, Indonesia selama ini mengandalkan impor dari kawasan Asia Tenggara sehingga tidak terdampak langsung oleh situasi di Timur Tengah.
“Pasokan minyak mentah sudah kami alihkan ke negara yang tidak melalui Selat Hormuz. Sedangkan untuk BBM jenis bensin, sebagian besar kita impor dari Asia Tenggara, bukan dari Timur Tengah,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (5/3).
Ia juga memastikan cadangan BBM nasional saat ini masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam beberapa pekan ke depan. Berdasarkan perhitungan pemerintah, stok yang tersedia dapat mencukupi konsumsi sekitar 23 hari.
Selain mengalihkan jalur pasokan, pemerintah juga memperkuat suplai minyak dari sejumlah wilayah lain seperti Afrika, Australia, dan Amerika Serikat untuk menjaga keberlanjutan operasional kilang dalam negeri. Langkah ini dilakukan guna memastikan distribusi BBM tetap berjalan lancar di tengah ketidakpastian global.
Bahlil menegaskan informasi yang menyebutkan stok BBM nasional hanya cukup untuk dua hari tidak benar. Ia memastikan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan energi, termasuk menjelang perayaan Idul Fitri.
“Stok BBM menjelang Hari Raya Idul Fitri dalam kondisi aman, termasuk pasokan LPG. Jadi masyarakat tidak perlu ragu meskipun terjadi dinamika global,” kata Bahlil.
Sebelumnya, meningkatnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran pasar energi dunia. Ketegangan tersebut bahkan memicu prediksi lonjakan harga minyak mentah global apabila jalur distribusi di Selat Hormuz terganggu dalam waktu lama.
Ekonom energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai dampak konflik tersebut sudah mulai terlihat pada pergerakan harga minyak dunia.
Menurutnya, harga minyak sempat berada di kisaran USD 67 per barel setelah serangan awal terhadap Iran. Angka tersebut kemudian naik menjadi sekitar USD 70 dan berpotensi meningkat hingga di atas USD 80 per barel setelah muncul ancaman penutupan Selat Hormuz.
Fahmy memperingatkan bahwa skenario terburuk bisa terjadi jika konflik meluas dan jalur pelayaran tersebut benar-benar ditutup dalam waktu lama. Kondisi itu berpotensi mendorong harga minyak mentah global menembus USD 100 per barel.
“Jika perang meluas dan penutupan Selat Hormuz berlangsung lama, harga minyak dunia bisa melonjak hingga USD 100 per barel,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah menegaskan telah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.**

Tinggalkan Balasan