JURNALNEWS.CO.ID – Di malam yang sunyi, ketika bintang-bintang berkilauan di langit, seorang pemuda bernama Ardi duduk di balkon rumahnya, menatap langit yang penuh dengan cahaya kecil yang berkilauan. Di tangannya, ia memegang sebuah surat yang telah ia tulis dengan penuh perasaan. Surat itu bukan surat biasa. Surat itu ditujukan kepada seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, seseorang yang ia anggap sebagai bintangnya.

**Dear Bintang,**

Aku harap kamu baik-baik saja di sana. Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, aku duduk di balkon rumah kita, menatap langit yang sama yang kita pandangi bersama dulu. Masih teringat jelas dalam ingatanku bagaimana kita berbicara tentang impian dan harapan kita di bawah langit malam yang bertabur bintang. Kamu selalu mengatakan bahwa setiap bintang di langit mewakili satu harapan, satu mimpi yang bisa kita raih jika kita berusaha keras.

Saat ini, aku merasakan kerinduan yang amat dalam. Kehadiranmu yang hangat, senyummu yang selalu menenangkan, dan kata-katamu yang selalu memberikan semangat menjadi kenangan yang selalu aku simpan dalam hati. Meskipun jarak memisahkan kita, aku selalu merasa dekat denganmu setiap kali aku menulis surat ini. Surat untuk bintangku, untukmu yang selalu menjadi cahayaku di saat gelap.

Kamu tahu, hidup tanpa kehadiranmu tidaklah mudah. Ada banyak hal yang aku rindukan darimu, mulai dari kebersamaan kita hingga canda tawa yang kita bagi. Namun, aku berusaha untuk tetap kuat dan menjalani hari-hari ini dengan semangat yang kamu ajarkan. Aku percaya, di manapun kamu berada, kamu pasti juga merasakan hal yang sama. Kita adalah dua hati yang terhubung oleh kenangan dan cinta yang tak terhingga.

Malam ini, saat aku menatap bintang yang paling terang, aku merasa kamu sedang menatap bintang yang sama. Mungkin inilah cara kita tetap terhubung, melalui langit malam yang indah dan bintang-bintang yang berkilauan. Aku berharap suatu hari nanti, kita bisa bersama lagi, berbagi cerita di bawah langit yang sama, mengejar mimpi yang pernah kita rangkai bersama.

Sampai saat itu tiba, aku akan terus menulis surat ini, berharap angin malam bisa menyampaikan pesanku kepadamu. Teruslah bersinar, Bintangku. Aku akan selalu menunggu saat di mana kita bisa bertemu kembali.

Dengan cinta yang tak pernah pudar,

Ardi

Ardi menutup suratnya dan menatap langit sekali lagi. Ia merasa sedikit lega setelah menuliskan isi hatinya. Malam itu, di bawah sinar bintang yang gemerlap, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk terus menjaga cinta dan kenangan indah yang ia miliki dengan Bintang, orang yang selalu ada di hatinya, meski kini terpisah oleh jarak dan waktu. Bagi Ardi, Bintang akan selalu menjadi cahayanya, pemandu dalam setiap langkah yang ia ambil.(Aq)