JURNALNEWS.CO.ID – Dulu, aku tidak percaya pada takdir atau jodoh. Bagiku, cinta hanyalah tentang memilih siapa yang kita inginkan dan menjalani hubungan sesuai usaha yang kita lakukan. Namun, semua itu berubah ketika aku bertemu dengan seorang yang tidak pernah kusangka akan menjadi bagian penting dalam hidupku.
Namanya Indra. Dia bukan tipe pria yang langsung menarik perhatianku. Kami bertemu secara kebetulan di sebuah seminar yang diadakan oleh kampus kami. Aku duduk di barisan belakang, sementara dia di depan, sibuk dengan catatan dan laptopnya. Saat sesi tanya jawab, aku mengajukan pertanyaan yang cukup panjang. Setelah acara selesai, dia menghampiriku.
“Kamu tadi bertanya tentang isu yang menarik. Aku punya beberapa referensi kalau kamu mau,” katanya, sambil menyodorkan buku catatan kecil.
Sikapnya yang tenang dan cara bicaranya yang langsung ke poin membuatku sedikit kikuk. Biasanya, aku lebih mudah bicara dengan orang baru, tapi ada sesuatu dari dirinya yang membuatku canggung. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum kaku.
Pertemuan itu adalah awal dari serangkaian kebetulan yang tidak terduga. Setelah seminar, kami sering bertemu di perpustakaan. Ternyata, kami mengambil mata kuliah yang sama tanpa pernah benar-benar saling menyadari. Setiap kali bertemu, dia selalu bersikap ramah. Namun, tak ada yang istimewa dalam pandanganku. Dia hanya seorang teman kampus, mungkin sedikit lebih pintar dari yang lain, tapi bukan seseorang yang membuat jantungku berdebar.
Hingga suatu hari, kami terjebak di ruang diskusi yang sama karena hujan deras. Ruangan itu sempit, dan hanya ada kami berdua. Awalnya kami berbicara ringan tentang tugas kuliah dan buku-buku, tetapi entah bagaimana, percakapan itu berubah menjadi lebih pribadi.
“Kamu percaya jodoh?” tanyanya tiba-tiba, dengan tatapan serius.
Aku tertawa kecil. “Aku nggak tahu, sepertinya nggak terlalu. Hidup kan tentang pilihan. Kita bisa memilih siapa pun, asal cocok.”
Dia mengangguk, lalu tersenyum. “Iya, bisa jadi. Tapi kadang ada hal-hal yang kita nggak bisa kendalikan. Seperti pertemuan kita ini, siapa yang sangka, kan?”
Sejak percakapan itu, aku mulai melihatnya berbeda. Indra memiliki cara pandang yang unik terhadap hidup. Dia tak terburu-buru dalam segala hal, tidak seperti aku yang sering impulsif dan penuh energi. Di tengah percakapan, dia selalu mampu membuatku berpikir dua kali, mempertimbangkan hal-hal yang mungkin selama ini terlewat.
Waktu berlalu, dan pertemanan kami semakin erat. Kami saling membantu dalam tugas, menghabiskan waktu diskusi di kafe, dan sesekali jalan bersama teman-teman lain. Tapi aku masih belum melihatnya sebagai “lebih dari teman.” Hingga suatu hari, aku sakit dan harus dirawat di rumah sakit.
Indra datang. Saat aku lemah dan tidak berdaya, dia duduk di samping tempat tidurku, membacakan buku yang biasa kami diskusikan. Bukan tentang perhatian yang dia berikan, tapi kehadirannya membuatku merasa tenang. Ketika aku terlalu lelah untuk berbicara, dia ada di sana, diam dan menunggu.
Setelah aku pulih, semuanya menjadi jelas bagiku. Aku tidak lagi menganggapnya sebagai teman biasa. Ada kenyamanan yang tak terlukiskan ketika aku bersamanya, dan entah kapan itu mulai berubah, aku mulai memikirkannya lebih sering.
Tapi aku tidak tahu apakah dia merasakan hal yang sama. Aku ragu untuk bertanya, takut jika itu hanya perasaanku sendiri. Sampai pada suatu malam, di bawah langit yang cerah dengan bintang yang berkelip, kami berjalan pulang setelah menonton film di bioskop.
Tanpa diduga, Indra berhenti dan menatapku dalam.
“Aku nggak pernah bilang, tapi selama ini… aku selalu merasa kamu istimewa. Aku nggak tahu apa kamu merasakan hal yang sama, tapi aku ingin kamu tahu kalau aku sudah lama menunggu momen yang tepat untuk bilang ini,” katanya dengan suara lembut.
Dadaku berdebar kencang. Aku terdiam beberapa saat, mencoba mencerna apa yang baru saja dia katakan. Dan pada saat itu, aku menyadari bahwa setiap langkah yang kami lalui, setiap percakapan, setiap momen yang kubagi dengannya, adalah bagian dari perjalanan menuju momen ini.
Dengan senyum yang perlahan muncul di wajahku, aku menjawab, “Ternyata, kamu juga jodohku.”
Indra tersenyum lebar, dan malam itu menjadi awal dari babak baru dalam hidup kami. Jodoh ternyata bukan tentang siapa yang datang paling cepat atau yang paling sempurna. Jodoh adalah tentang siapa yang datang di waktu yang tepat, yang membuatmu merasa seolah semuanya selalu mengarah pada satu titik—satu sosok yang ternyata selama ini ada di dekatmu, menunggu untuk ditemukan.
Dan sekarang, aku percaya, ternyata dia memang jodohku. (Anna)

Tinggalkan Balasan