JURNALNEWS.CO.ID – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar meminta Direktorat Jenderal Pendidikan Islam memasukkan konsep ekoteologi dan pelestarian lingkungan ke dalam kurikulum pendidikan agama dan keagamaan. Menurutnya, ajaran Islam yang berbasis pada konsep khalifah dapat menjadi landasan moral untuk mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan hidup.

“Al Quran dan hadis memberi pesan tegas untuk tidak merusak bumi. Konsep khalifah adalah panggilan moral bagi setiap Muslim untuk melindungi lingkungan,” ujar Nasaruddin dalam pernyataannya, Rabu (22/1).

Menag mengungkapkan tiga fokus pengembangan pendidikan agama dan keagamaan di masa depan, yakni isu lingkungan, toleransi, dan nasionalisme.

Nasaruddin menekankan bahwa pendidikan harus relevan dengan tantangan zaman, terutama dalam menghadapi krisis lingkungan. Ia menyebutkan pendekatan ekoteologi, yang mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan pelestarian alam, sebagai kunci untuk menanamkan kesadaran lingkungan pada generasi muda.

“Pelestarian lingkungan bukan hanya tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari ibadah dan amanah manusia sebagai khalifah di bumi,” tegasnya.

Dalam upaya memperkuat toleransi, Menag memperkenalkan konsep “Kurikulum Cinta” sebagai pendekatan inovatif untuk mengintegrasikan nilai moderasi dalam Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan.

“Pendidikan adalah jalan utama untuk menciptakan masyarakat harmonis di tengah keberagaman,” ujar Nasaruddin. Ia menambahkan bahwa moderasi beragama dapat membangun masyarakat inklusif yang mencerminkan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.

Pilar ketiga adalah penguatan nasionalisme. Menag menekankan pentingnya pendidikan sejarah, budaya lokal, dan nilai-nilai Pancasila sebagai upaya menanamkan cinta tanah air.

“Nasionalisme bukan sekadar slogan, melainkan ruh dari setiap kebijakan pendidikan kita,” tegasnya.

Dengan integrasi nilai-nilai ini, Menag berharap pendidikan agama dapat menjadi benteng yang menjaga identitas bangsa di tengah derasnya pengaruh budaya asing. Generasi muda diharapkan memiliki wawasan global tanpa kehilangan akar budaya dan kecintaan pada tanah air.