JURNALNEWS.CO.ID – Pemanfaatan lahan pekarangan rumah untuk bercocok tanam kini semakin digalakkan sebagai salah satu strategi memperkuat ketahanan pangan keluarga. Hal ini disampaikan Kabid Ketahanan Pangan, Debora Kristiani, yang menilai pekarangan bukan hanya ruang terbatas, tetapi aset produktif jika dikelola dengan baik.
Menurut Debora, berbagai jenis tanaman bisa dibudidayakan di pekarangan rumah, mulai dari sayuran seperti kangkung, bayam, cabai, hingga pakcoy. Tanaman herbal seperti jahe, kunyit, dan laos juga menjadi pilihan, bahkan buah-buahan seperti alpukat, jeruk lemon, hingga sawo dapat tumbuh subur dalam pot atau planter bag.
“Manfaatnya sangat besar, tidak hanya dari sisi pemenuhan pangan keluarga, tapi juga ekonomi, sosial, dan kesehatan,” jelasnya.
Ia merinci, pemanfaatan pekarangan bisa mengurangi pengeluaran belanja harian, sekaligus memberi peluang tambahan penghasilan jika hasil panen dijual ke tetangga atau pasar lokal. Dari sisi sosial, kegiatan berkebun mempererat hubungan antarwarga karena ada kebiasaan saling berbagi hasil panen maupun ilmu bercocok tanam. Sedangkan manfaat kesehatan diperoleh dari konsumsi sayur dan buah bebas bahan kimia berbahaya.
Pemerintah setempat pun mendukung gerakan ini dengan mengadakan pelatihan dan penyuluhan teknik pertanian berkelanjutan. Program tersebut diharapkan mampu mendorong lebih banyak keluarga memanfaatkan pekarangan sebagai solusi menghadapi tantangan pangan di masa depan.
Bagi sebagian masyarakat, berkebun bahkan sudah menjadi hobi dan terapi tersendiri. “Kalau untuk ibu-ibu, berkebun bisa jadi obat lelah. Sepulang kerja lihat tanaman hijau dan segar, rasa capek langsung hilang,” ujar Debora sambil tersenyum.
Gerakan pemanfaatan pekarangan ini diyakini akan terus berkembang dan menjadi bagian dari budaya masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan