JURNALNEWS.CO.ID — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan pentingnya upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak sejak dini, yang dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga.

Menurutnya, keluarga memiliki peran sentral dalam membentuk pola perilaku dan karakter anak, sehingga menjadi garda terdepan dalam mencegah berbagai bentuk kekerasan.

“Kami menilai pentingnya upaya pencegahan sejak dini, terutama dari lingkup keluarga, penggunaan gawai, hingga pengaruh lingkungan sekitar,” ujar Menteri PPPA dalam pernyataannya, Kamis (3/7/2025).

Ia mengungkapkan, pola asuh dalam keluarga, penggunaan gawai yang tidak bijak, dan pengaruh lingkungan merupakan faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kekerasan, termasuk kekerasan seksual.

“Hampir sebagian besar kekerasan terhadap anak, khususnya yang dilakukan oleh anak, merupakan hasil dari meniru konten di media sosial. Ditambah dengan tantangan masyarakat kita yang semakin abai,” jelasnya.

Sebagai bagian dari solusi, Kementerian PPPA terus mengembangkan program Ruang Bersama Indonesia (RBI) yang bertujuan menguatkan kembali nilai solidaritas dan empati di tengah masyarakat.

“Melalui salah satu program Kementerian PPPA, yaitu Ruang Bersama Indonesia, kami mencoba mengikat kembali solidaritas dan empati masyarakat. Kami tidak ingin terus menerus menjadi pemadam kebakaran ketika terjadi kekerasan,” kata Arifah.

Hingga akhir 2025, Kementerian PPPA menargetkan sebanyak 138 Desa/Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) untuk diintegrasikan menjadi Ruang Bersama Indonesia. Program ini merupakan pengembangan dari inisiatif DRPPA yang diluncurkan pada periode kepemimpinan Menteri PPPA sebelumnya.

Menurut Menteri Arifah, perbedaan utama antara DRPPA dan RBI terletak pada penguatan sinergi lintas kementerian/lembaga dan keterlibatan aktif masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif.