Lebih lanjut Euis Nurhayati mengatakan, kegiatan UMKM di Pondok Pesantren Tahfidz Darul Fithrah dilakukan setiap hari, selama satu jam (16.00 – 17.00 WIB). Selain hari Selasa, mereka juga melakukan kegiatan produksi pada hari Kamis dan Sabtu, khususnya pada hari Sabtu untuk menghasilkan resep makanan jenis baru.

Para siswa dituntut untuk menyisihkan waktu untuk berproduksi sesuai kebutuhan. Jika produksi masih ada maka mereka dibebaskan untuk berolahraga, sesuai minat dan bakatnya.

Untuk pelatihan khusus secara keseluruhan biasanya diadakan setiap hari Sabtu. Pada hari itu mereka diwajibkan untuk melaporkan kegiatan yang telah dilakukan, per kelompok usaha.

Mereka menyampaikan apa yang bisa mereka lakukan dan kendala yang mereka hadapi, serta hasil yang mereka peroleh, jika ada yang terjual. ‘Sabtu mereka mendapat bimbingan penuh dari pembimbingnya, sesuai dengan ilmunya. Kami hanya berusaha untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi para santri,” ujar Euis Nurhayati yang juga Founder Islamic Voice Indonesia, komunitas Penasyid.

Euis Nurhayati juga mengatakan bahwa semua produk hasil karya mahasiswi dipasarkan di kantin madrasah. pesantren, dan dititipkan di warung-warung terdekat, namun produk tersebut belum dipasarkan secara online, karena keterbatasan waktu dan sumber daya manusia.

Selain itu, kata Euis Nurhayati, seluruh hasil jerih payah para santri digunakan untuk menopang kehidupan pesantrennya. Karena sebagian besar santri di pondok pesantren adalah anak yatim dan dari fakir miskin. Mereka dibebaskan dari berbagai pungutan, dibantu dari hasil usahanya. Dana tersebut juga untuk mendukung gaji guru, biaya listrik, dan kebutuhan lainnya.